Menurutnya, santri-santri tersebut, datang dari berbagai daerah, mulai dari Sabang hingga Merauke yang meliputi Kalimantan, Sulawesi, Aceh, dan juga Kota Cilegon sebagai daerah berdirinya Pesantren Ibnu Syam.
Untuk diketahui, dalam kurun waktu lima tahun, Pesantren Ibnu Syam telah menghasilkan tahfidz-hafidz, dan hafidzah sebanyak 85 orang dengan rata-rata setiap tahunnya terdapat 20 orang yang berhasil menjadi hafidz dan hafidzah.
“Salah satu santri dari Pesantren Ibnu Syam ini telah dipilih menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang Seminar Al-Quran Internasional di Malaysia. Kami berharap keberhasilan tersebut dapat memberikan dukungan dan semangat bagi pesantren untuk terus meningkatkan fasilitas dan kualitas di masa yang akan datang,” tutur KH Ahmad Slamet.
Ia menerangkan, Pesantren Ibnu Syam ke depannya akan terus berkomitmen dalam membimbing santri agar bisa menguasai dan menghafal Al-Quran, sehingga para santri bisa menjadi ahli Al-Quran seusai dengan visi dari pesantren. “Mudah – mudahan visi kami tersebut bisa diridhoi oleh Allah SWT,” ucapnya.(ADV)