CILEGON, BANPOS – Rencana PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) yang akan melakukan pengembangan pelabuhan dan fasilitas penunjang di Kawasan Krakatau International Port (KIP) mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat Kota Cilegon, khususnya di lingkungan Kecamatan Ciwandan.
Kegiatan pengembangan pelabuhan dan fasilitas penunjang lainnya di PT KBS ini diyakini akan memperkuat konektivitas antara pelabuhan dengan industri, dimana hal ini merupakan bagian penting dalam mendukung terwujudnya Cluster Industri Baja 10 juta ton di Kota Cilegon.
Terkait pengembangan tersebut, PT KBS selaku pemrakarsa bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan para pakar diketahui telah selesai melakukan kajian yang kemudian akan dituangkan dalam Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Salah satu tokoh masyarakat dari lingkungan sekitar PT KBS, Huluful Fahmi, menjelaskan, kajian AMDAL pengembangan PT KBS tersebut sudah memenuhi ketentuan tentang keterlibatan aktif masyarakat terdampak.
Huluful Fahmi juga mengaku bahwa dirinya dan perwakilan masyarakat di Ciwandan bisa berpartisipasi aktif dan juga mendapatkan akses informasi yang jelas serta transparan terkait pengembangan PT KBS tersebut.
E-Paper BANPOS Terbaru
“Dalam pembahasan AMDAL, sudah ada keterwakilan masyarakat. Pada kesempatan mengkaji AMDAL ini, masyarakat juga bisa menyampaikan langsung substansi kepentingan agar bagaimana industri ini nantinya berpihak kepada masyarakat,” ujar Huluful Fahmi, yang merupakan Ketua Rumah Peradaban Banten, Rabu (26/3).
Fahmi menjelaskan tentang empat hal yang menjadi atensi penting dari masyarakat dalam sidang AMDAL pengembangan PT KBS tersebut.
“Pertama, dalam rekrutmen tenaga kerja porsinya harus mayoritas lokal. Kedua, harus terbuka luas kesempatan usaha bagi penguasa lokal agar bisa diakomodir. Ketiga, pengelolaan CSR diharapkan bisa berkolaborasi dengan komunitas dari lingkungan sekitar, untuk pendampingan program yang lebih sustainable. Keempat, diharapkan lebih diperhatikan dan dijaga lagi tentang enviroment (lingkungan), terutama soal kemacetan dan debu,” ungkap Fahmi.