CIPUTAT, BANPOS – Ketimpangan pendapatan yang masih tinggi serta laju pertumbuhan penduduk yang pesat menjadi penghambat utama dalam upaya penurunan angka kemiskinan di Provinsi Banten. Hal ini diungkapkan oleh Resha Hidayatullah, seorang pengamat ekonomi di Banten, yang berdasarkan hasil kajiannya menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari ketiga faktor utama, yakni Gini Ratio, laju pertumbuhan penduduk, dan laju pertumbuhan ekonomi terhadap angka kemiskinan di daerah ini.
“Berdasarkan hasil analisis data dari tahun 2017 hingga 2022, terlihat bahwa ketimpangan pendapatan yang tinggi dan pertumbuhan populasi yang cepat menjadi dua faktor utama yang memperparah kondisi kemiskinan di Banten,” Resha 03/10/2024.
Menurutnya, gini Ratio, yang mencerminkan ketimpangan pendapatan di masyarakat, meski menunjukkan penurunan dalam beberapa aspek, masih mempengaruhi angka kemiskinan.
“Gini Ratio kami temukan memiliki pengaruh negatif terhadap angka kemiskinan. Artinya, semakin tinggi ketimpangan, kemiskinan cenderung berkurang dalam model ini, namun ini bukan berarti kondisi masyarakat membaik secara merata. Ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati segelintir pihak.”
Sementara itu, laju pertumbuhan penduduk di Banten juga turut menambah tekanan pada sumber daya ekonomi.
E-Paper BANPOS Terbaru
“Pertumbuhan penduduk yang pesat mendorong naiknya angka kemiskinan, karena peningkatan jumlah penduduk tidak selalu diikuti oleh kesempatan kerja yang memadai,” jelasnya.
Dalam kajiannya, ditemukan bahwa untuk setiap peningkatan satu unit dalam laju pertumbuhan penduduk, angka garis kemiskinan bertambah sekitar 9.541,36 rupiah.
“Ini mempertegas perlunya kebijakan yang lebih fokus pada pengendalian populasi melalui program keluarga berencana dan peningkatan kualitas pendidikan, sehingga setiap individu memiliki akses lebih besar terhadap lapangan pekerjaan.”
Namun demikian, Resha juga menyoroti bahwa laju pertumbuhan ekonomi (PDRB ADHK) memiliki efek yang sangat positif dalam menurunkan angka kemiskinan.
“Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi secara signifikan mampu menurunkan angka kemiskinan. Setiap kenaikan satu unit pada laju pertumbuhan ekonomi mampu mengurangi angka garis kemiskinan hingga 20.932,95 rupiah,” jelasnya.