LEBAK, BANPOS — Angka tingkat pengangguran di Kabupaten Lebak pada tahun ini meningkat sekitar 5,05 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dibutuhkan langkah kebijakan yang konkret dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak supaya masalah tersebut dapat tertangani dan tidak berlarut-larut.
Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini telah merilis publikasi tahunan yang berisikan data-data statistik di berbagai sektor mulai dari isu sosial, pendidikan, ekonomi, hingga pertanian.
Dan salah satu data yang menarik untuk disimak yakni, soal angka tingkat pengangguran di Kabupaten Lebak.
Dalam publikasi tersebut disampaikan bahwa angka tingkat pengangguran di Kabupaten Lebak mengalami peningkatan sebesar 5,05 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dimana pada tahun 2024 angka tingkat pengangguran di Kabupaten Lebak tercatat ada sebanyak 49.003 orang, lalu tahun berikutnya pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 51.478 orang.
Kemudian berdasarkan jenjang pendidikannya, lulusan SMA menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran dengan jumlah sebanyak 26.188 orang.
Kemudian disusul dengan lulusan SMP sebanyak 14.453 orang, lalu lulusan SD tercatat ada sebanyak 10.837 orang.
Menyikapi hal tersebut Ketua DPRD Kabupaten Lebak, Juwita Wulandari, menilai perlu adanya upaya dari semua pihak untuk dapat menciptakan iklim investasi yang aman dan nyaman di Kabupaten Lebak.
Sebab, menurutnya masalah pengangguran itu erat kaitannya dengan ketersediaan lapangan pekerjaan.
Oleh sebab itu ia mendorong kepada semua pihak untuk bersama-sama menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif agar para investor merasa nyaman serta berminat untuk berinvestasi di Kabupaten Lebak.
“Bagaimana caranya kita sama-sama membuat nyaman para investor yang ada di Lebak gitu. Karena selain dia berinvestasi berarti membawa pos anggaran juga pasti untuk Lebak, dan dampak lainnya juga membuka lapangan pekerjaan yang baru,” katanya pada Rabu (4/3).
Di samping itu Juwita juga mendorong kepada Pemkab Lebak untuk dapat berinovasi dalam mempromosikan sumber daya alam yang ada agar para investor berminat menanamkan modalnya di Kabupaten Lebak.
“Kreativitasnya perlu lebih bisa ditingkatkan gitu,” ujarnya.
Sementara itu Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Lebak menjelaskan bahwa, meningkatnya jumlah pengangguran di Kabupaten Lebak tidak terlepas dari tingginya angka kelulusan sekolah di tahun ini.
Hal itu kemudian diperparah dengan terbatasnya jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia di Kabupaten Lebak.
Kondisi itu lah yang membuat angka tingkat pengangguran di Kabupaten Lebak di tahun ini meningkat.
“Ini lapangan pekerjaannya yang memang sedikit di Lebak sedangkan kelulusan sekolah bertambah banyak tiap tahunnya,” kata Sekretaris Disnaker Kabupaten Lebak, Rully Chaerullyanto, melalui sambungan telepon pada Rabu (4/3).
Bahkan, kata Rully, alih-alih bertambah jumlah lapangan pekerjaan di Kabupaten Lebak justru berkurang karena disebabkan oleh berbagai macam faktor.
Hal itulah yang kemudian semakin memperparah kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Lebak.
Namun ia menegaskan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah program untuk menangani masalah pengangguran.
Salah satunya yakni, program pelatihan keterampilan kerja.
Program tersebut digagas guna menyiapkan tenaga kerja yang terampil dan siap untuk ditempatkan dalam dunia kerja.
“Supaya nanti ketika ada pelatihan dia punya dasar keterampilan bekerja,” ujarnya.
Selain itu Disnaker Kabupaten Lebak juga menjalin kerja sama bilateral dengan negara sahabat dalam hal lapangan pekerjaan.
Melalui kerja sama tersebut Disnaker memberi kesempatan yang luas bagi warga Kabupaten Lebak untuk dapat bekerja di luar negeri sesuai dengan posisi lamaran yang sudah disediakan.
“Insyaallah Disnaker (bekerja sama) dengan Jepang,” tandasnya. (*)









Discussion about this post