SERANG, BANPOS – Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Serang mulai menunjukkan dampak signifikan yang melampaui sekadar pemenuhan asupan harian. Program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini terbukti menjadi stimulan bagi para orang tua dalam memahami urgensi nutrisi bagi tumbuh kembang anak, sekaligus menjadi instrumen strategis pemerintah daerah dalam menekan angka stunting secara sistematis.
Kesadaran kolektif ini mulai menjalar ke ranah domestik, terutama di tengah tantangan menjaga kebugaran fisik selama bulan Ramadan. Sinta Yuliana (33), seorang wali murid di Kecamatan Walantaka, mengaku pola pikirnya terhadap pemenuhan gizi berubah drastis sejak ketiga anaknya menjadi penerima manfaat MBG pada Agustus 2025 silam. Stimulus dari program pemerintah ini mendorongnya untuk lebih proaktif dalam menjaga kualitas asupan keluarga.
Mandiri Menjaga Nutrisi Anak
Kini, Sinta tidak lagi sekadar mengandalkan bantuan yang datang. Secara mandiri, ia rutin membeli susu kemasan aseptik sebagai tambahan asupan protein dan nutrisi untuk para buah hatinya, terutama sebagai penunjang selama menjalankan ibadah puasa. Ia selalu mengingatkan anak-anaknya untuk mengonsumsi minimal satu gelas susu saat sahur guna memastikan kebutuhan energi tetap terpenuhi sepanjang hari.
“Iya sejak kehadiran MBG di sekolah, saya semakin sadar gizi untuk anak itu penting. Terlebih lagi di usia aktif. Apalagi saat Ramadan seperti ini, tentunya anak-anak membutuhkan energi tambahan agar tetap bisa beraktivitas tanpa mengganggu ibadah puasa,” ujar Sinta saat ditemui, Selasa (3/3). Perubahan perilaku ini menunjukkan bahwa program MBG berhasil mengedukasi masyarakat untuk berinvestasi lebih pada kesehatan anak secara mandiri.
Penerima Manfaat MBG di Kota Serang Tembus 204.034 jiwa
Secara manajerial, Pemerintah Kota Serang terus memacu distribusi agar menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) MBG Kota Serang per 26 Februari 2026, cakupan penerima manfaat telah mencapai 204.034 jiwa. Angka ini mencakup siswa dari tingkat SD hingga SMA/SMK, sekolah kebutuhan khusus, serta kategori prioritas seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3).
Wakil Walikota Serang, Nur Agis Aulia, menegaskan bahwa masifnya angka penerima ini harus dibarengi dengan kontrol kualitas yang ketat. Meskipun pemerintah bersifat responsif terhadap selera pelajar dengan merealisasikan beberapa menu permintaan siswa, Agis menegaskan tidak ada kompromi terkait nilai nutrisi. Setiap sajian wajib melalui kurasi ketat oleh para ahli agar fungsi utama program tetap terjaga.
“Menu MBG harus memenuhi standar gizi, dan lolos perhitungan ahli gizi. Tidak boleh asal,” tegas Agis. Ia menambahkan bahwa pengawasan juga merambah ke pos-pos distribusi bagi ibu hamil dan menyusui guna memastikan intervensi gizi dimulai sejak dalam kandungan. “Makanya, selain memonitor di sekolah-sekolah, kami juga selalu menanyakan pendistribusian MBG bagi ibu hamil, ibu melahirkan, dan ibu menyusui,” tambahnya. (*)



Discussion about this post