JAKARTA, BANPOS — Momentum 9 Ramadan 1367 Hijriyah yang bertepatan dengan Proklamasi Kemerdekaan RI 1945 kembali dihidupkan melalui kegiatan dzikir kebangsaan di Tugu Proklamasi, Jumat (27/2).
Kegiatan tersebut digelar Keluarga Besar Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya Sirnarasa sebagai bentuk refleksi spiritual atas sejarah kemerdekaan Indonesia.
Selama ini, peringatan kemerdekaan lebih identik dengan 17 Agustus dalam kalender Masehi. Padahal, secara historis, proklamasi juga berlangsung pada 9 Ramadhan 1367 H. Dimensi spiritual inilah yang dinilai perlu kembali ditegaskan dalam ruang publik.
Kegiatan bertajuk “Dzikir & Do’a Bersama Pengajian Anti Gempa – Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani” itu dipimpin langsung oleh Mursyid TQN Suryalaya Sirnarasa, Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul (Abah Aos).
Ribuan ikhwan tarekat dari berbagai daerah hadir mengikuti rangkaian acara sejak dini hari.
Ketua Panitia Pengarah kegiatan, K.H. Budi Rahman Hakim mengatakan narasi kemerdekaan Indonesia selama ini lebih banyak dipahami dari sisi politik dan perjuangan fisik, sementara aspek spiritual belum mendapat penekanan memadai.
“Proklamasi kemerdekaan tidak lahir dalam ruang kosong. Ia hadir dalam suasana Ramadhan, di tengah praktik ibadah, doa, dan dzikir. Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki fondasi spiritual yang kuat,” ujarnya.
Menurutnya, menghidupkan kembali 9 Ramadhan bukan untuk menggantikan 17 Agustus, melainkan melengkapi dimensi peringatan kemerdekaan.
“Ini bukan soal menambah seremoni, tetapi merekonstruksi ingatan kolektif bangsa agar tidak tercerabut dari nilai keimanan, pengorbanan, dan persatuan,” katanya.
Rangkaian kegiatan meliputi khataman Al-Qur’an, salat berjamaah, pembacaan manaqib, dzikir bersama, hingga khidmah ilmiah yang menghadirkan ulama dan tokoh nasional.
Panitia memaknai dzikir sebagai energi sosial kolektif yang berdampak pada kehidupan berbangsa.
“Dzikir membentuk kesadaran batin yang mendorong sikap rendah hati, solidaritas, empati, serta kemampuan menahan konflik. Dalam skala luas, ini memperkuat kohesi sosial dan stabilitas nasional,” jelas K.H. Budi Rahman Hakim.
Selain itu, kegiatan ini juga memperkenalkan konsep Penghulu Pesantren Ketahanan Nasional (PPKN), yang mengintegrasikan spiritualitas tasawuf dengan agenda kebangsaan.
Nilai-nilai seperti keikhlasan, pengendalian diri, dan cinta kasih dinilai relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan, mulai dari krisis moral hingga polarisasi sosial.
Panitia berharap momentum 9 Ramadan dapat berkembang menjadi tradisi refleksi tahunan yang memperkuat persatuan dan membangun orientasi peradaban yang berakar pada etika serta spiritualitas.
“Spiritualitas dan nasionalisme tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan dalam satu kerangka untuk memperkokoh Indonesia,” pungkasnya. (*)








Discussion about this post