PANDEGLANG, BANPOS – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler Tematik 2026 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Kelompok 13 menghadirkan solusi pengelolaan sampah lingkungan dengan meresmikan incinerator di Kantor Desa Kadumaneuh, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang.
Fasilitas tersebut dihadirkan sebagai alternatif pengolahan limbah padat dan cair secara terkendali, di tengah keterbatasan sarana pengelolaan sampah di tingkat desa.
Selama ini, persoalan sampah di Kadumaneuh kerap memicu penumpukan limbah di sejumlah titik serta praktik pembakaran terbuka oleh warga yang menimbulkan asap dan pencemaran udara.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKM Untirta merancang program kerja berupa pembangunan incinerator skala lingkungan.
Program ini diharapkan dapat membantu mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus menekan kebiasaan pembakaran sampah di halaman rumah warga.
Peresmian incinerator dihadiri Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Afifah Nurazizatul Hasanah, Kepala Desa Kadumaneuh Afud Mahpudin, serta perangkat desa.
Acara ditandai dengan doa bersama dan pemotongan pita sebagai simbol dimulainya pemanfaatan fasilitas tersebut.
Kepala Desa Kadumaneuh, Afud Mahpudin menyambut baik kehadiran incinerator yang dinilainya sesuai dengan kebutuhan desa saat ini.
“Di tengah berbagai permasalahan yang dihadapi desa ini, salah satunya masih banyak warga yang membakar sampah di halaman rumah sehingga menimbulkan asap berlebihan. Anak-anak KKM dapat memberikan solusi melalui keberadaan incinerator ini,” ujarnya.
Secara teknis, incinerator dibangun menggunakan bata ringan sebagai material utama.
Alat pembakar sampah skala kecil ini dirancang untuk pembakaran terkendali bersuhu tinggi, berkisar antara 850 hingga 1.400 derajat Celsius, guna menekan volume sampah secara signifikan.
Struktur incinerator berbentuk ruang bakar kotak yang dilengkapi lubang udara untuk mengoptimalkan proses pembakaran serta cerobong asap pendek sebagai saluran gas hasil pembakaran.
Penggunaan bata ringan dinilai lebih awet dibandingkan drum logam, sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Incinerator tersebut dapat digunakan untuk membakar sampah organik maupun non-organik dalam kondisi kering, seperti jerami sisa panen, kertas, dan plastik, dengan bantuan sumbu pembakaran agar suhu mencapai sekitar 1.000 derajat Celsius secara optimal.
Dari sisi perawatan, incinerator relatif mudah dipelihara. Saat hujan, cerobong perlu ditutup menggunakan terpal atau bata ringan.
Sementara saat pembakaran berlangsung, bagian mulut dan belakang incinerator harus ditutup agar asap keluar melalui cerobong.
Melalui program ini, mahasiswa KKM Untirta berharap masyarakat Desa Kadumaneuh dapat mengelola sampah secara mandiri, mengurangi pembakaran terbuka, serta mewujudkan lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (*)



Discussion about this post