SERANG, BANPOS – Perkembangan artificial intelligence (AI) dan arus informasi digital yang kian masif dinilai tidak boleh menggeser peran utama pers sebagai penjaga kepentingan publik.
Justru di tengah situasi tersebut, pers dituntut semakin kokoh menjaga kualitas informasi yang sampai ke masyarakat.
Isu tersebut mengemuka dalam Konvensi Nasional Media Massa pada rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten yang mengusung tema Pers, AI dan Transformasi Digital: Membangun Ekosistem Informasi untuk Kepentingan Publik.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Banten, Deden Apriandhi, menyampaikan bahwa kehadiran AI telah mengubah lanskap produksi dan distribusi informasi.
Namun di sisi lain, teknologi itu juga membawa risiko berupa disinformasi dan manipulasi fakta yang dapat menyesatkan publik.
Dalam kondisi tersebut, pers dinilai tetap memiliki keunggulan melalui disiplin kerja jurnalistik, terutama dalam hal verifikasi data dan validasi narasumber.
“Dalam konteks ini, pers tidak lagi sekadar menjadi saluran informasi. Pers telah bertransformasi menjadi simpul strategis dalam ekosistem informasi digital. Pers berperan sebagai penjaga kebenaran, pengurai kompleksitas, dan penentu makna,” ujar Deden.
Ia menegaskan, di tengah derasnya data dan algoritma yang membanjiri ruang publik, pers berperan memberi konteks dan makna atas informasi yang beredar.
Standar verifikasi menjadi pembeda utama antara karya jurnalistik dengan konten informasi yang bersifat rekayasa.
“Dalam konteks inilah Konvensi Nasional Media Massa HPN 2026 menjadi ruang strategis untuk merumuskan kembali peran pers sebagai penjaga kepentingan publik di era AI dan transformasi digital,” katanya.
Deden juga menilai, penguatan peran pers tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kerja sama lintas sektor antara pemerintah, insan pers, akademisi, dan pelaku industri teknologi guna membangun ekosistem informasi yang sehat dan berpihak pada publik.
Ia berharap, forum konvensi ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi melahirkan rekomendasi strategis terkait kebijakan dan praktik pemanfaatan AI di dunia pers.
“Lebih dari itu, forum ini diharapkan mampu meneguhkan kembali pers Indonesia sebagai pilar demokrasi, menjaga kepentingan publik, dan kekuatan moral di era digital,” paparnya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Pers, Komarudin Hidayat. Ia menilai disrupsi informasi merupakan bagian dari dinamika sejarah peradaban manusia yang selalu hadir di setiap zaman.
“Disrupsi itu selalu muncul dalam perjalanan sejarah. Dan justru karena adanya disrupsi itu, maka peradaban menjadi maju, manusia ditantang untuk kreatif, inovatif,” ujarnya.
Komarudin mengibaratkan kondisi disrupsi informasi seperti banjir yang datang tiba-tiba. Jika tidak dikelola, banjir dapat merusak dan menimbulkan kebingungan. Namun bagi pihak yang mampu berpikir kreatif, banjir justru melahirkan solusi baru.
“Dan inilah yang terjadi pada media massa, ketika era disrupsi ini, kadang-kadang kita merasa bingung, terjadi jungkir balik, penuh hoaks, dan sebagainya. Yang sebagian masyarakat memang toksik, sulit keluar dari situasi itu, bahkan menyenangi, bahkan addicted. Tapi, pada akhirnya, orang mencari sumber air bersih. Orang mencari sumber berita yang terpercaya,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut justru mempertegas kebutuhan masyarakat terhadap media massa yang kredibel dan bertanggung jawab.
Pers memiliki fungsi menyaring, meramu, dan menyajikan informasi agar tetap jernih dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Pers merupakan semacam lembaga penyulingan, bagaimana menemukan kembali, mengemas kembali, sehingga banyak air-air bersih yang ditawarkan kepada masyarakat. Fungsinya seperti itu dan suatu saat, masyarakat juga akan mengalami kejenuhan terhadap berita-berita yang toksik itu,” ungkapnya.
Ia pun berharap Konvensi Nasional Media Massa dalam rangkaian HPN 2026 ini menjadi momentum konsolidasi media di Indonesia agar mampu menghadapi tantangan zaman dengan optimisme dan inovasi.
“Sebagai Ketua Dewan Pers, saya penuh optimistis dan gembira sekali. Saya juga merasa terkesan dengan perhatian pemerintah yang begitu besar perhatiannya bagaimana mengatasi situasi ini,” ujarnya. (*)









Discussion about this post