SERANG, BANPOS – Pengamat Kebijakan Publik dari Populi Center, Usep Saeful Ahyar merespon persoalan dan pernyataan dari pihak pengelola Tol Tamer yang melempar bola panas dari dugaan kegagalan perencanaan yang menyebabkan banjir dan jalan rusak pada faktor alam dan kendaraan Over Dimention Over Load (Odol).
Menurutnya, kebijakan yang selama ini diterapkan oleh pihak pengelola jalan tol tamer yakni ASTRA Infra Toll Road Tangerang-Merak dinilai terlalu bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya.
Ia juga menyatakan bahwa situasi saat ini merupakan cerminan dari lemahnya manajemen risiko di jalur vital tersebut.
“Banjir yang terjadi di ruas Tol Tangerang-Merak merupakan potret buruknya perencanaan dan lemahnya mitigasi risiko. Selama ini pemerintah dan pengelola jalan tol cenderung bersikap reaktif, hanya sibuk saat banjir sudah merendam jalan. Padahal, seharusnya ada pendekatan yang lebih strategis dan preventif,” tegasnya, Kamis (29/1).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa menyalahkan faktor alam seperti curah hujan tinggi bukan lagi alasan yang bisa diterima publik secara terus-menerus.
Menurutnya, fenomena ini adalah bentuk kegagalan sistemik dalam melihat gambaran besar pengelolaan ruang dan drainase di sekitar jalan tol. Ia mendesak adanya evaluasi mendasar terhadap desain hidrologis yang sudah usang.
Persoalan ini, kata dia, semakin pelik jika melihat aspek ekonomi dan pelayanan publik. Sebab, di tengah tren kenaikan tarif tol, kualitas keamanan dari bencana banjir justru dinilai jalan di tempat. Pasalnya, fenomena banjir di Tol bukan kali pertama.
Hal ini pun menimbulkan tanda tanya besar mengenai alokasi anggaran dan visi jangka panjang pembangunan infrastruktur.
“Kita harus jujur bahwa ada biaya besar yang dikorbankan setiap kali banjir terjadi, baik itu kerugian logistik maupun kerusakan infrastruktur. Pertanyaannya, kenapa setiap tahun masalahnya tetap sama? Mengapa tarif tol naik terus, tapi kualitas keamanan dari bencana banjir tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan?” ujar Usep.
Perencanaan Tidak Visioner
Ia juga menyoroti perencanaan saat ini yang dianggap dangkal dan tidak visioner. Ia mempertanyakan apakah pembangunan masif di sekitar jalur tol telah memperhitungkan keberadaan daerah resapan air atau jika kapasitas drainase yang ada memang sudah tidak lagi memadai untuk menampung debit air yang tinggi.
Tanpa adanya langkah drastis, tambahnya, dikhawatirkan masyarakat dan pelaku usaha akan terus terjebak dalam siklus yang sama.
“Banjir, perbaikan sementara, lalu kembali banjir saat musim hujan tiba. Karena itu, solusi jangka pendek,” katanya.
Sebagai pihak yang juga menjadi korban, Usep mendesak agar adanya audit menyeluruh terhadap sistem drainase di sepanjang ruas Tangerang-Merak demi menjamin keberlanjutan infrastruktur nasional.
“Oleh karena itu, penyelesaian banjir tol ini tidak boleh hanya berhenti pada pengerahan pompa atau pembersihan saluran saat kejadian. Harus ada audit menyeluruh terhadap sistem drainase di sepanjang ruas Tangerang-Merak. Pemerintah jangan hanya memberi janji-janji normatif,” tegasnya. (*)



Discussion about this post