SURAKARTA, BANPOS – Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan transformasi Balai Latihan Kerja (BLK) agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri dan mampu membuka peluang kerja serta wirausaha yang lebih luas bagi masyarakat.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli mengatakan, transformasi BLK akan diarahkan tidak hanya sebagai tempat pelatihan, tetapi juga sebagai Klinik Produktivitas, Talent and Innovation Hub (TIH), hingga inkubator bisnis.
Langkah tersebut dinilai penting agar pelatihan vokasi benar-benar relevan dengan dinamika dunia kerja yang terus berubah, sekaligus memberi dampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kami akan mengajak dunia kampus untuk menjadikan BLK sebagai Klinik Produktivitas untuk memenuhi kebutuhan industri dalam dan luar negeri. Misalnya dengan pelatihan di bidang green jobs, smart creative IT skills, dan smart operation,” ujar Yassierli saat berkunjung ke Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Surakarta, Jumat (30/1).
Menurut Yassierli, kolaborasi dengan kalangan akademisi juga akan diperkuat untuk mendukung transformasi BLK sebagai pusat pelatihan inklusif, termasuk bagi penyandang disabilitas, serta sebagai pusat peningkatan produktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia menilai, penguatan peran tersebut diperlukan agar BLK tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan teknis, tetapi juga sebagai ruang pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas.
Selain itu, Kemnaker juga tengah menyiapkan BLK sebagai inkubator bisnis bagi masyarakat yang ingin terjun ke dunia wirausaha.
“Kemnaker sedang menyiapkan BLK sebagai inkubator bisnis. Yang mau mulai wirausaha akan dicarikan ide bisnisnya apa, siapa kompetitornya, model bisnisnya, strategi pengembangan bisnisnya, dan pemasarannya,” kata Yassierli.
Ia mengakui, selama ini BLK masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan jumlah penerima manfaat, efisiensi biaya, jaminan kualitas pelatihan, hingga pembaruan kurikulum dan transparansi rekrutmen peserta.
Selain itu, sistem pelacakan lulusan atau alumni juga dinilai perlu diperkuat agar dampak pelatihan dapat terukur secara jelas.
“Optimalisasi BLK ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kualitas BLK yang saat ini dinilai perlu ditingkatkan agar lebih efisien dalam menjawab tantangan pengangguran,” tandas Yassierli. (*)







Discussion about this post