SERANG, BANPOS – Banten waspada longsor, pernyataan tegas ini muncul usai bencana besar melanda wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Ketua Pokja Relawan Banten, Lulu Djamaludin, menyatakan bahwa struktur geologis Banten memiliki kemiripan dengan Jawa Barat. “Kita harus segera mengambil pelajaran dari kejadian Cisarua tersebut,” ujar Lulu saat memberikan keterangan kepada Banpos.co.
Selanjutnya, Lulu menyoroti fenomena tanah bergerak yang mulai terjadi secara masif pada kawasan Gunung Purba Rawadanau. Peristiwa di Gua Kuapas menunjukkan bahwa fenomena ini bukanlah merupakan sekadar bencana tanah longsor yang biasa.
“Rumah warga amblas lebih dari setengah meter akibat tanah patah,” cetus Lulu sambil menunjukkan data lapangan.
Lebih lanjut, ia mengkritik koordinasi antar pemangku kebijakan yang dinilai masih sangat lambat dan kurang masif. Sebaliknya, kondisi infrastruktur jalan yang patah memperparah isolasi akses bagi warga yang terdampak di sana.
“Pemerintah harus bergerak cepat sebelum korban jiwa berjatuhan,” tegasnya mengomentari lambatnya respon birokrasi.
Kemarahan Gubernur dan Evaluasi BPBD
Sementara itu, Gubernur Banten dilaporkan meradang saat meninjau kondisi drainase dan titik rawan di Tangerang. Beliau menegaskan bahwa sistem mitigasi bencana terpadu di Provinsi Banten hingga kini belum berjalan secara optimal.
“Saya instruksikan adanya mitigasi terpadu segera,” ucap Gubernur dengan nada bicara yang sangat tinggi dan tegas.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penanganan banjir di beberapa titik strategis justru tidak kunjung surut. Hal ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai pengendali operasi.
“BPBD wajib menjalankan fungsinya sebagai pusat komando yang tangguh,” tambah Lulu menekankan pentingnya profesionalisme instansi.
Potensi Longsor di Banten Belajar dari Tragedi Cisarua
Di sisi lain, publik tidak boleh menutup mata terhadap tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung di Pasirlangu. Tim SAR gabungan bekerja ekstra keras mengevakuasi puluhan kantong jenazah dari timbunan material tanah yang sangat tebal.
“Kami menemukan delapan kantong jenazah baru pada pencarian hari keempat,” ungkap Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian.
Meskipun demikian, sebanyak 33 orang warga setempat hingga saat ini masih dinyatakan hilang tertimbun material longsoran. Petugas mencatat total temuan mencapai 48 kantong jenazah sejak operasi pencarian hari pertama resmi dimulai.
“Tim menyerahkan seluruh jenazah kepada Tim DVI untuk proses identifikasi,” jelas Ade Dian saat meninjau lokasi.
Kemudian, fokus pencarian kini bergeser menuju sektor B2 yang memiliki konsentrasi bangunan rumah warga paling banyak. Akan tetapi, kondisi cuaca ekstrem di lokasi bencana seringkali menghambat pergerakan alat berat milik petugas lapangan.
“Tantangan terbesar evakuasi adalah faktor alam dan kontur tanah labil,” ujar Direktur Operasi Basarnas, Brigjen TNI Bramantyo.
Bahkan, pergerakan tanah susulan sering terjadi ketika petugas mengangkat material longsor di beberapa titik evakuasi utama. Bramantyo menambahkan bahwa tanah sering bergeser kembali saat tim mulai membongkar bagian reruntuhan bangunan yang hancur.
“Kami mengevaluasi bahwa banyak bangunan rumah tertimbun di sektor tersebut,” pungkasnya dengan nada bicara penuh kewaspadaan. (*)

Discussion about this post