CILEGON, BANPOS – Pemandangan tidak biasa tersaji di pusat perniagaan tradisional Pasar Kranggot, Kota Cilegon, pada Senin (26/2).
Area yang biasanya riuh dengan transaksi jual beli daging sapi kini berubah sunyi dan lengang.
Deretan meja lapak yang sehari-harinya memajang potongan daging segar kini kosong melompong, ditinggalkan oleh para pemiliknya.
Saking lengangnya, lapak yang biasa dipakai untuk menjajakan daging sapi, kini bisa digunakan kucing untuk rebahan.
Aksi mogok massal ini menjadi puncak kekesalan para pedagang terhadap lonjakan harga daging sapi yang dinilai sudah tidak masuk akal dan mencekik leher, baik bagi penjual maupun konsumen.
Fenomena mogok jualan ini bukan sekadar aksi spontan tanpa arah.
Langkah drastis ini diambil sebagai bentuk solidaritas sekaligus protes keras terhadap mekanisme pasar yang dianggap merugikan.
Kenaikan harga daging sapi di tingkat distributor telah memaksa pedagang menaikkan harga jual ke konsumen, yang pada akhirnya memukul daya beli masyarakat secara signifikan.
Situasi ini menciptakan dilema ekonomi, jika pedagang memaksakan berjualan dengan harga tinggi, mereka merugi karena sepi pembeli, namun jika tidak menaikkan harga, modal mereka tergerus.
Aksi ini juga diperkuat oleh instruksi resmi dari asosiasi yang menaungi mereka.
Para pedagang merujuk pada surat imbauan yang dikeluarkan oleh Gabungan Pengusaha dan Pedagang Daging (GAPPENDA) Provinsi Banten.
Dalam surat bernomor 007/HM/GAPPENDA/I/2026 tersebut, GAPPENDA secara tegas mengimbau seluruh elemen niaga daging, mulai dari pengusaha hingga pedagang eceran daging sapi dan kerbau di wilayah Banten, untuk menghentikan aktivitas perdagangan sementara waktu.
Seruan ini mencakup penghentian total pemotongan sapi hidup di Rumah Potong Hewan (RPH) hingga penyetopan distribusi daging beku ke pasar-pasar tradisional.
Tujuannya satu: mendesak stabilisasi harga agar iklim usaha kembali kondusif.
Dampak dari hilangnya komoditas daging sapi di pasaran langsung dirasakan oleh pengelola pasar dan konsumen.
Kepala UPT Pasar Kranggot Kota Cilegon, Siti Rogayah, membenarkan bahwa situasi pasar hari ini sangat berbeda dari biasanya.
Absennya pedagang daging sapi membuat rantai pasok kebutuhan pangan protein hewani terputus mendadak.
Ia mengakui bahwa banyak konsumen yang kecele saat tiba di pasar.
“Pasti berdampak yah karena memang konsumen datang ke pasar tujuannya membeli daging ternyata daging ngga ada,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Kekosongan stok daging sapi ini memaksa konsumen, termasuk pelanggan skala besar seperti industri katering dan logistik kapal, untuk memutar otak mencari alternatif.
Siti Rogayah menjelaskan bahwa terjadi pergeseran pola konsumsi secara mendadak ke komoditas lain seperti ikan dan daging ayam yang pasokannya masih aman.
“Dari perusahaan-perusahaan juga kan untuk konsumsi di kapal-kapal di dapur kapal itu biasa belinya lumayan banyak stok di kapal. Itu beralih ke ikan, baik ikan tawar maupun ikan laut,” tuturnya.
Meski demikian, pihak pengelola pasar berharap situasi ini tidak berlangsung lama agar roda perekonomian pedagang kecil tidak macet total.
“Saya berharap keadaan ini tidak berlarut-larut, artinya supaya pun dapat melakukan penjualan seperti biasanya normal,” tandasnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Cilegon merespons situasi ini dengan pendekatan analisis ekonomi makro.
Kepala Bidang Perdagangan pada Disperindag Kota Cilegon, Fitria Achmad, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah konsekuensi logis dari hukum pasar.
Kelangkaan barang di tengah permintaan yang tetap atau meningkat pasti akan mengerek harga naik.
“Ini kan karena posisinya terkait harganya yang naik kelangkaan barangnya. Jadi hukum ekonomi kan kalau permintaan meningkat barang ngga ada pasti kan naik,” ujarnya.
Anggi sapaan akrabnya menegaskan batasan wewenang pemerintah daerah dalam mengintervensi harga komoditas strategis seperti daging sapi.
Menurutnya, penetapan harga acuan berada di tangan pemerintah pusat, sementara pemerintah daerah hanya bisa melakukan langkah taktis jangka pendek untuk meredam gejolak di tingkat konsumen.
“Nah ini terkait harga, harga ini kan yang bisa menentukan pemerintah pusat, kalau kita Pemerintah Kota Cilegon hanya bisa nanti memberikan solusi misalnya dengan operasi pasar, kita minta bantuan juga ke BUMN pangan seperti Bulog,” katanya.
Terkait durasi aksi mogok, Anggi optimis bahwa gangguan pasokan ini hanya bersifat sementara berdasarkan informasi yang beredar di kalangan pedagang.
“Tapi kalau melihat dari surat edarannya sampai besok saja. Mudah-mudahan besok sudah lancar lagi,” tuturnya.
Sebagai langkah tindak lanjut, Disperindag Kota Cilegon akan segera melakukan koordinasi lintas sektoral.
Langkah ini diambil untuk memastikan apakah diperlukan intervensi distribusi atau pengecekan ke hulu, yakni rumah potong hewan, guna memastikan ketersediaan stok sapi hidup.
“Nanti kita lapor dulu ke pimpinan, nanti langkahnya seperti apa, nanti perintah pimpinan kita laksanakan nanti kita berkoordinasi dengan Bulog, atau kita berkoordinasi dengan dinas pertanian terkait rumah potong hewannya atau seperti apa,” tutupnya. (*)



Discussion about this post