SERANG, BANPOS – Harga daging naik secara signifikan pada pasar tradisional di seluruh wilayah Provinsi Banten hingga memicu keresahan pedagang. “Kami memantau pergerakan harga komoditas daging sapi yang mulai melonjak tinggi di pasaran,” ungkap Kepala Disperindag Banten, Iwan Hermawan.
Selanjutnya, ancaman mogok berjualan oleh para pedagang kini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pangan. “Aksi mogok berjualan justru akan memperburuk situasi ekonomi masyarakat di tengah kenaikan harga,” tegas Iwan saat memberikan keterangan.
Namun, pemerintah menilai bahwa pengosongan stok di lapak pedagang hanya akan memicu kelangkaan barang yang jauh lebih parah. “Masyarakat akan kesulitan mendapatkan protein hewani jika para pedagang memutuskan untuk berhenti beroperasi secara massal,” lanjut Iwan menjelaskan.
Oleh karena itu, Disperindag Banten segera mengambil langkah persuasif guna meredam emosi para pelaku usaha yang merasa terhimpit modal. “Petugas kami di lapangan terus berkomunikasi dengan asosiasi pedagang demi memastikan aktivitas pasar tetap berjalan normal,” tuturnya dengan yakin.
Sementara itu, lonjakan harga yang terjadi saat ini merupakan dampak langsung dari fluktuasi pasar ternak pada level nasional. “Faktor utama kenaikan ini berasal dari kebijakan impor serta kondisi ekonomi global yang tidak menentu,” ujar Iwan dengan nada serius.
Selain itu, tingginya nilai tukar mata uang asing menjadi beban tambahan bagi para importir sapi dalam memasok stok. “Nilai dolar Australia yang menyentuh angka Rp14.700 sangat memengaruhi harga jual sapi hidup di rumah potong,” imbuhnya secara detail.
Ancaman Kelangkaan dan Intervensi Pemerintah
Meskipun demikian, ketergantungan terhadap pasar luar negeri membuat pemerintah daerah tidak memiliki kuasa penuh untuk mengintervensi harga daging. “Kewenangan mengenai kuota impor sepenuhnya berada di tangan Kementerian Perdagangan sebagai regulator pusat,” kata Iwan memberikan penegasan.
Bahkan, pemerintah provinsi hanya mampu memberikan masukan teknis terkait dampak riil kenaikan harga terhadap daya beli warga lokal. “Koordinasi intensif terus kami lakukan dengan pemerintah pusat agar ada solusi konkret bagi para pedagang daerah,” jelasnya kepada media.
Di sisi lain, Disperindag memperketat pemantauan jalur distribusi guna mencegah praktik penimbunan oleh oknum nakal di tengah situasi sulit. “Tim Satgas Pangan mengawasi setiap rantai pasok dari rumah potong hingga sampai ke tangan konsumen,” ucap Iwan dengan tegas.
Lebih lanjut, kolaborasi antara pemerintah kabupaten dan kota menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan barang di setiap pasar. “Pengelola pasar wajib melaporkan stok harian agar tidak terjadi kepanikan yang tidak perlu di masyarakat,” pesan Iwan secara langsung.
Ternyata, kestabilan harga sangat bergantung pada kelancaran arus barang yang masuk ke wilayah Provinsi Banten setiap harinya. “Distribusi yang lancar setidaknya mampu menekan angka kenaikan agar tidak melambung terlalu tinggi,” ungkapnya memberikan analisis pasar.
Padahal, Iwan menyadari bahwa margin keuntungan para pedagang semakin menipis akibat modal belanja yang terus merangkak naik tajam. “Pedagang memang menghadapi dilema besar, namun berjualan tetap menjadi solusi terbaik untuk menjaga ekonomi tetap berputar,” tuturnya dengan empati.
Sebagai tambahan, pemerintah berharap para pedagang memahami bahwa keberadaan daging di pasar sangat menentukan psikologi harga di masyarakat. “Stok yang tersedia akan mencegah spekulan bermain harga saat permintaan warga mulai meningkat kembali,” kata Iwan mengingatkan semua pihak.
Kemudian, langkah-langkah mitigasi terus disiapkan oleh Pemprov Banten untuk mengantisipasi gejolak harga yang mungkin terjadi pada masa mendatang. “Operasi pasar akan menjadi pilihan terakhir jika harga daging benar-benar sudah tidak terjangkau oleh masyarakat,” pungkas Iwan mengakhiri pembicaraan. (*)

Discussion about this post