CILEGON, BANPOS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon memastikan kondisi masyarakat tetap aman dari ancaman hewan berbahaya pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah.
Hingga kini, tidak ada laporan warga yang menjadi korban gigitan maupun serangan hewan liar.
Kepala BPBD Kota Cilegon, Suhendi saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan di wilayah-wilayah terdampak banjir, termasuk kawasan permukiman warga.
Dari hasil pemantauan tersebut, tidak ditemukan dampak serius terkait kemunculan hewan berbahaya.
“Alhamdulillah, tidak ada warga yang terdampak dari hewan berbahaya,” kata Suhendi, Selasa (13/1).
Meski demikian, BPBD mengakui adanya laporan warga yang melihat kemunculan ular di beberapa lokasi pascabanjir.
Namun, laporan tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah yang terdampak banjir.
“Tidak semua wilayah terdampak banjir ada laporan. Hanya di PCI dan Sambirata. Itu pun aman, tidak ada warga yang mengalami gigitan,” ujarnya.
Menurutnya, kemunculan ular tersebut merupakan dampak dari perubahan lingkungan akibat genangan air yang memaksa hewan keluar dari habitat aslinya.
Namun, kondisi tersebut dinilai tidak membahayakan masyarakat karena hewan tersebut segera kembali ke habitatnya.
“Kemungkinan hanya anak ular piton atau ular sawah. Hewannya ada, tapi kemudian kabur lagi ke habitatnya,” tuturnya.
Situasi saat ini masih dalam kondisi terkendali. BPBD mengimbau warga untuk tetap waspada dan tidak panik apabila menemukan hewan liar di sekitar rumah.
Masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas setempat agar dapat ditangani secara aman dan profesional, sehingga tidak menimbulkan risiko bagi warga sekitar.
Sementara itu, berdasarkan pantauan pada Senin (12/1/2026), dua wilayah yang kerap menjadi langganan banjir masih terendam air.
Salah satunya berada di Kecamatan Cibeber, tepatnya di Lingkungan Sambirata RT 03/RW 07, dan Kelurahan Masigit Rt5/ RW6.
Sebelumnya, pada Minggu (11/1/2026), banjir di wilayah tersebut dilaporkan mencapai ketinggian bervariasi, mulai dari sekitar 30 sentimeter hingga setinggi leher orang dewasa di beberapa titik permukiman warga. (*)











Discussion about this post