SERANG, BANPOS – Komisi Perlindungan Anak (KPA) Kota Serang menyoroti pentingnya pemenuhan hak-hak anak di tengah bencana hidrometeorologi yang belakangan kerap melanda sejumlah daerah di Provinsi Banten.
Ketua KPA Kota Serang, Aulia Esa Rahman, mengatakan pihaknya turut prihatin atas bencana yang terjadi hampir merata di kabupaten dan kota di Banten, terlebih curah hujan masih terpantau cukup tinggi hingga beberapa hari terakhir.
“Di antara warga yang terdampak bencana, terdapat anak-anak yang masuk dalam kategori anak korban bencana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Hak-hak dasarnya harus tetap dipenuhi, meskipun dalam kondisi darurat,” kata Esa, kepada BANPOS, Selasa (13/1).
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan tempat pengungsian relatif sudah berjalan melalui peran pemerintah daerah dan dinas terkait.
Namun, ia menekankan bahwa kenyamanan dan keamanan anak di lokasi pengungsian juga harus menjadi perhatian serius.
Selain kebutuhan dasar, Esa menyoroti hak pendidikan anak yang kerap terabaikan saat bencana terjadi.
Banyak anak tidak dapat bersekolah, baik karena rumahnya terdampak banjir maupun sekolah yang terendam sehingga aktivitas belajar-mengajar diliburkan.
“Kami berharap hak pendidikan anak tetap terpenuhi meskipun sekolah diliburkan. Kegiatan belajar bisa dilakukan dengan cara lain, misalnya melalui WhatsApp, video call, atau pertemuan virtual jika sarana memungkinkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, para guru juga dapat memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak secara daring untuk membantu menjaga semangat dan kondisi mental mereka di tengah situasi darurat.
Apabila pembelajaran daring tidak memungkinkan karena keterbatasan sarana, Aulia mendorong adanya sekolah darurat di lokasi pengungsian.
Menurutnya, pembelajaran tidak harus selalu berfokus pada mata pelajaran, tetapi juga dapat diarahkan pada edukasi kebencanaan dan kegiatan bersama yang membangun ketahanan mental anak.
Selain pendidikan, KPA Kota Serang juga menekankan pentingnya pemenuhan hak kesehatan anak, baik fisik maupun mental.
Anak-anak korban bencana rentan terserang penyakit kulit, gangguan pernapasan, hingga masalah gizi.
“Yang tidak kalah penting adalah kesehatan mental. Anak-anak bisa mengalami guncangan psikologis akibat kehilangan ruang bermain, aktivitas harian, bahkan mainan mereka. Dukungan psikososial perlu diberikan agar kepercayaan diri anak tetap terjaga,” tegasnya.
Esa berharap, dengan perhatian menyeluruh dari pemerintah dan berbagai pihak, anak-anak korban bencana dapat pulih secara fisik dan mental, serta kembali menjalani kehidupan dan pendidikan seperti sedia kala setelah kondisi membaik. (*)



Discussion about this post