CILEGON, BANPOS – Pemerintah Kota Cilegon menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menangani persoalan banjir yang kerap terjadi di sejumlah wilayah. Salah satunya dengan membentuk Satgas Penanganan Banjir Kota Cilegon yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kota Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putra, mengatakan pembentukan satgas dilakukan menyusul banjir yang terus berulang dan dinilai cukup luar biasa.
“Hari ini kita lakukan pembentukan Satgas Penanganan Banjir Kota Cilegon, mengingat kejadian banjir cukup luar biasa dan terus berulang di sejumlah wilayah,” ujar Aziz usai memimpin rapat tindak lanjut penanganan banjir di Command Center 112, Senin (12/1).
Menurutnya, pembentukan satgas tersebut merupakan hasil usulan berbagai pihak, termasuk Aliansi Masyarakat Korban Banjir, DPRD Kota Cilegon, serta stakeholder yang memiliki peran dalam penanganan banjir.
“Satgas ini kita bentuk sesuai usulan dari Aliansi Masyarakat Korban Banjir, DPRD Kota Cilegon, dan stakeholder terkait,” ungkapnya.
Selain membentuk satgas, Pemkot Cilegon juga akan mengajukan permohonan kepada Gubernur Banten terkait moratorium perizinan aktivitas galian pertambangan di wilayah Kota Cilegon.
“Hari ini kita juga melayangkan surat permohonan kepada Gubernur tentang moratorium perizinan galian pertambangan di Kota Cilegon,” tegasnya.
Seiring dengan itu, Pemkot akan melakukan penghentian sementara aktivitas galian pertambangan di empat kecamatan, yakni Kecamatan Cibeber, Cilegon, Citangkil, dan Ciwandan.
“Kami juga akan menyampaikan surat penghentian sementara aktivitas galian pertambangan di empat kecamatan tersebut,” katanya.
Sebagai langkah lanjutan dalam upaya pemulihan lingkungan, Aziz menyebut Pemkot Cilegon akan memulai gerakan penanaman sejuta pohon pada Kamis mendatang, yang dilaksanakan di seluruh kecamatan, terutama di Cibeber, Cilegon, Citangkil, dan Ciwandan.
“Kamis mendatang kita mulai gerakan penanaman sejuta pohon sebagai upaya pemulihan lingkungan,” ujarnya.
Terakhir, Aziz mengimbau seluruh perusahaan dan kawasan industri di Kota Cilegon agar memperlebar dimensi saluran air serta melakukan normalisasi drainase untuk mengurangi risiko banjir.
“Saya menghimbau seluruh industri agar saluran-saluran di lingkungan industrinya diperlebar dan dilakukan normalisasi guna mengurangi risiko banjir,” tandasnya. (*)











Discussion about this post