CILEGON, BANPOS – Besarnya investasi industri di Kota Cilegon dinilai tidak otomatis berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja. Hal itu disebabkan mayoritas industri di kota baja tersebut merupakan industri padat modal, bukan padat karya.
Pejabat HR & General Affair PT Indorama Petrochemical, Malim Hander Joni, mengatakan karakter industri petrokimia dan baja yang mendominasi Cilegon membuat jumlah tenaga kerja yang diserap relatif terbatas. “Yang pasti pertumbuhan industri besar kalau padat modal itu tidaklah besar jumlah tenaga kerja yang digunakan sebagaimana yang dipikirkan masyarakat,” ujar Joni, Senin (12/1).
Menurutnya, dalam industri padat modal, dana investasi lebih banyak dialokasikan untuk mesin dan teknologi dibandingkan merekrut karyawan dalam jumlah besar. “Contoh satu perusahaan besar misalnya Rp6 triliun, itu paling hanya beberapa orang. Kecuali pabrik-pabrik padat karya, kalau investasinya Rp6 triliun bisa langsung ribuan tenaga kerja,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi ini menjadi tantangan bagi pencari kerja pemula dan fresh graduate. Industri padat modal menuntut keahlian teknis yang tinggi sehingga perusahaan lebih memilih tenaga kerja berpengalaman. “Kalau padat modal dia juga padat teknologi. Kalau mereka baru buka, mereka ambil yang sudah berpengalaman,” ujarnya.
Kesenjangan kualifikasi SDM lokal dengan kebutuhan industri pun semakin terasa. Meski begitu, Joni menegaskan proses rekrutmen di perusahaan tetap mengikuti mekanisme resmi. “Saya positif thinking semua perusahaan itu melalui jalur-jalurnya, misalnya lewat Disnaker,” katanya.
Di sisi lain, keberadaan industri diharapkan tetap memberi efek domino bagi perekonomian daerah melalui perputaran uang dari gaji karyawan. “Domino efeknya diharapkan dari gaji dan belanja karyawan yang memutar ekonomi kota,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan pertumbuhan industri tidak serta-merta menghilangkan pengangguran. Banyaknya pendatang dari luar daerah justru memperketat persaingan kerja. “Pertumbuhan industri tidak otomatis menghilangkan pengangguran. Di kota industri lain seperti Gresik pun angka pengangguran juga tinggi,” katanya.
Joni juga mengkhawatirkan lonjakan pengangguran terdidik dalam beberapa tahun ke depan seiring banyaknya lulusan baru. “Dua sampai tiga tahun lagi mereka tamat, ratusan angkatan mau ditaruh ke mana,” ujarnya.
Ia berharap Cilegon tidak hanya bertumpu pada industri berat, tetapi juga memperkuat sektor lain seperti pariwisata, perikanan, dan UMKM agar mampu menyerap tenaga kerja yang tidak tertampung industri padat modal. (*)


Discussion about this post