LEBAK, BANPOS – Ketimpangan begitu terasa di wilayah perbatasan Kabupaten Lebak, Banten dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kondisi masyarakat penyintas bencana longsor serta infrastruktur di dua wilayah tersebut menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok.
Berdasarkan pantauan BANPOS, akses jalan menuju kawasan hunian sementara (Huntara) warga penyintas longsor dan banjir bandang di Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak masih berupa tanah merah.
Kondisi jalan seperti itu sangat menyulitkan aktivitas warga, terlebih ketika musim hujan tiba.
Mengingat lokasi huntara di desa tersebut berada di atas perbukitan dengan kondisi kemiringan jalan yang cukup terjal.
Hal itu semakin membuat kerentanan terjadinya kecelakaan bagi warga yang beraktivitas menggunakan kendaraan bermotor semakin besar.
Tidak hanya akses jalan yang buruk, tempat tinggal warga pun tak kalah jauh kondisinya.
Sejak bencana longsor dan banjir bandang terjadi pada 1 Januari 2020 hingga kini warga masih menetap di huntara semi permanen berbahan terpal dan bambu.
Selama enam tahun mereka terpaksa tinggal di sana lantara tak ada pilihan lain.
Rumah yang dahulu mereka tempati untuk bernaung kini kondisinya rusak parah, sebagian lainnya tertimbun oleh material tanah.
Mereka hanya bisa pasrah sembari berharap, nasibnya bisa membaik seperti sedia kala.
Kondisi yang jauh berbeda justru dialami oleh warga penyintas longsor di Desa Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kondisi mereka kini telah menetap di hunian tetap (Hunian) tetap yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Berdasarkan pantauan BANPOS, kawasan huntap yang dibangun di sana gambarannya seperti kawasan perumahan bersubsidi tipe 36.
Bahan material yang digunakan berupa bata hebel dengan atap berupa genteng metal pasir.
Tidak hanya itu kawasan permukiman tersebut telah didukung oleh infrastruktur jalan beraspal yang memadai, sehingga aktivitas warga dapat berjalan lebih lancar.
Ketua RT 1 RW 2 Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Ajum, menyampaikan, sampai dengan saat ini warga yang memilih bertahan tinggal di huntara jumlahnya tercatat ada sebanyak 104 kepala keluarga (KK).
Sementara sebelumnya, jumlah keluarga penyintas yang tinggal di huntara tercatat sebanyak 135 KK.
Sebagian keluarga yang pindah, kata Ajum, disebabkan karena mereka sudah tak tahan lagi tinggal di huntara.
Mereka terpaksa pindah mencari tempat tinggal yang memadai meski harus mengontrak atau membangun ulang hunian dengan biaya seadanya.
“Bangun sendiri, nggak ada istilahnya bantuan dari pemerintah,” katanya pada Sabtu (10/1).
Ajum dan warga lainnya tak menampik, mereka iri melihat kondisi fasilitas infrastruktur yang telah dibangun di Kabupaten Bogor.
Melihat ketimpangan tersebut mereka hanya bisa berharap, Pemkab Lebak dan Pemprov Banten segera merealisasikan komitmen pembangunan huntap serta perbaikan infrastruktur jalan guna menunjang kehidupan yang lebih layak.
“Mudah-mudahan Pemerintah Banten sepertikan warga Jawa Barat, pengen dibangun juga,” ucap Ajum penuh harap.
Kondisi mereka yang penuh keterbatasan bukannya tidak diketahui oleh pemerintah di Provinsi Banten.
Para pejabat di Banten justru kerap berulang kali datang menengok langsung kondisi warga penyintas di huntara.
Namun, hal itu tak cukup membuat mereka bertindak cepat mengambil tindakan memperbaiki hunian serta infrastruktur di sana.
Hingga pada akhirnya, warga penyintas pun merasa bosan dengan janji-janji yang kerap diumbar oleh para pejabat tersebut.
“Udah bosen, sampai menunggu kiamat mungkin nggak bakal jadi-jadi diam saja di sini. Sudah ganti lagi tenda mah,” ujar Cicih penuh kesal.
Melihat adanya ketimpangan fasilitas dan infrastruktur yang dibangun, Cicih mengaku mereka rasanya seperti di anak tirikan.
Padahal sebagai sesama warga negara Indonesia mereka mestinya mendapatkan perlakuan yang sama yakni, mendapatkan hak hunian yang nyaman dan aman serta infrastruktur jalan yang memadai.
“Malu. Rasanya dibeda-bedakan. Padahal presidennya sama pak Prabowo, satu negara tapi perlakuan berbeda. Orang mah sudah dibangun rumah, dibangun jalan, tapi kami masih tinggal di tenda,” tandasnya. (*)







Discussion about this post