PANDEGLANG, BANPOS – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Karaton Majasari, yang dikelola Yayasan Citra Bakti Banten, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, resmi diluncurkan. Program unggulan Presiden RI Prabowo Subianto ini menyasar ribuan pelajar, ibu hamil, dan balita sebagai penerima manfaat.
Kepala SPPG Karaton Majasari, James Walker, menyampaikan bahwa dapur MBG tersebut menargetkan penyaluran makanan bergizi kepada maksimal 3.000 penerima manfaat setiap hari. “Total sasaran sekitar 3.000 orang, mulai dari siswa TK, SD, MI, MTs, MA, hingga ibu hamil dan balita,” ujar James Walker kepada wartawan, Selasa (6/1).
Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 penerima manfaat merupakan balita, sementara sisanya berasal dari kalangan pelajar dan ibu hamil yang menjadi kelompok prioritas dalam program MBG.
Untuk menjamin kualitas dan keamanan makanan, pengelolaan dapur dilakukan sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN). Penerapan standar tersebut meliputi aspek sanitasi, penggunaan alat pelindung diri, serta kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) di area dapur. “Kami menerapkan standar BGN, seperti penggunaan masker dan sarung tangan, kewajiban mencuci tangan, serta pemasangan SOP agar seluruh petugas mematuhinya,” jelasnya.
Selain itu, dalam penyusunan menu, SPPG Karaton Majasari melibatkan tenaga ahli gizi guna memastikan kandungan nutrisi dan gramasi makanan sesuai dengan ketentuan. “Ada ahli gizi yang mengatur kandungan dan takaran gizi, sehingga proses memasak tidak dilakukan secara asal,” katanya.
James juga menegaskan bahwa waktu distribusi makanan dibatasi untuk meminimalkan risiko keracunan. “Makanan hanya boleh dikonsumsi dalam rentang waktu 4 hingga 6 jam setelah dimasak,” ungkapnya.
Sementara itu, mitra pelaksana dari Yayasan Citra Bakti Banten, Muhamad Nufus, mengatakan bahwa peluncuran dapur MBG dilakukan setelah seluruh persyaratan administrasi dan kesiapan operasional dapur terpenuhi. “Setelah semua persyaratan administrasi dan kesiapan dapur dinyatakan lengkap, barulah launching kami laksanakan,” ujar Nufus.
Ia berharap, keberadaan dapur MBG dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekitar, termasuk dalam pemberdayaan warga lokal. Menurutnya, sekitar 75 persen relawan yang terlibat berasal dari lingkungan sekitar dapur. “Sebagian besar relawan berasal dari warga setempat,” katanya.
Selain tenaga kerja, pihaknya juga berkomitmen mengoptimalkan potensi lokal dalam pemenuhan kebutuhan dapur MBG, baik dari sisi bahan pangan maupun sumber daya lainnya. “Kami berupaya mengakomodasi potensi lokal, baik tenaga maupun bahan pangan,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan distribusi, jarak layanan dari dapur dibatasi maksimal 6 kilometer guna menjaga kualitas makanan dan ketepatan waktu penyaluran. “Jarak distribusi tidak lebih dari 6 kilometer agar makanan tetap layak konsumsi dan sampai tepat waktu,” ujarnya.
Nufus menegaskan bahwa seluruh pelaksanaan program MBG di lapangan mengacu pada SOP dan standar yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional. (*)









Discussion about this post