Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Lambat di Rau, Melaju di Kota

Refleksi Perjalanan Kota Serang di Tahun 2025 

by Tim Redaksi
Januari 2, 2026
in OPINI
Lambat di Rau, Melaju di Kota

Oleh : Fauzan Dardiri

“Pembangunan memang bergerak, tapi rasanya belum berjalan dengan ritme yang sama,” ungkapan ini kerap terdengar dalam beberapa ruang obrolan penulis dengan berbagai kalangan di ruang-ruang publik sambil menikmati kopi.

Tentu, ada yang merasa senang, karena beberapa sudut kota berubah. Tetapi ada pula rasa gusar, karena di titik paling vital ekonomi rakyat, pembangunan justru terasa tersendat.

Baca Juga

Pemkot Serang Siapkan Rp45 Miliar Untuk THR PNS Dan PPPK

Maret 4, 2026
Pesan Guru PPPK Paruh Waktu Kota Serang: Mana Berani Kami Ngomong Langsung?

Pesan Guru PPPK Paruh Waktu Kota Serang: Mana Berani Kami Ngomong Langsung?

Februari 28, 2026
Salah Data, Pemkot Serang Akui Belum Bayar Gaji Ratusan Guru Paruh Waktu

Salah Data, Pemkot Serang Akui Belum Bayar Gaji Ratusan Guru Paruh Waktu

Februari 27, 2026
Klaim Tak Zalim, Dindikbud Kota Serang Mulai Sibuk Cek Data Gaji Guru PPPK Paruh Waktu

Klaim Tak Zalim, Dindikbud Kota Serang Mulai Sibuk Cek Data Gaji Guru PPPK Paruh Waktu

Februari 27, 2026

Pasar Induk Rau hampir selalu menjadi pembuka percakapan. Di mata publik, Rau adalah simbol nyata ekonomi rakyat Kota Serang. Ia bukan sekadar bangunan, bukan sekadar deretan kios dan los.

Pasar Induk Rau adalah urat nadi. Dari sanalah sayur, bawang, beras, cabai, ikan, dan kebutuhan dapur warga bergerak. Dari sanalah ribuan keluarga pedagang menggantungkan hidupnya. Dan di sanalah citra pemerintah diuji. Apakah kebijakan berdiri di atas kepentingan rakyat, atau tenggelam dalam kerumitan administratif dan tarik menarik kepentingan.

Persoalannya bukan semata apakah Pasar Induk Rau akan dibangun ulang, direvitalisasi, atau dirombak total. Persoalannya adalah kejelasan, kecepatan, dan keberpihakan.

Pemerintah berbicara tentang revitalisasi. Tentang modernisasi. Tentang konsep pasar yang lebih bersih, sehat, aman, dan representatif. Tapi publik membaca hal lain. Proses yang lambat, komunikasi yang kurang luwes, dan keputusan yang terasa belum matang.

Pedagang Gelisah

Pedagang gelisah. Mereka punya alasan. Bukan hanya soal takut kehilangan tempat berdagang sementara. Bukan hanya soal lokasi relokasi yang belum jelas. Tetapi karena suara mereka sering terdengar seperti hanya pelengkap dalam keputusan besar pemerintah.

Diskusi publik memang pernah dilakukan. Dialog pernah dibuka. Tetapi sebagian pedagang merasa, mereka diajak berdialog setelah arah kebijakan sudah hampir ditentukan.

Inilah problem klasik pembangunan di banyak kota. Pemerintah merasa sudah mendengar, publik merasa belum didengar. Pemerintah merasa sudah memberi ruang partisipasi, rakyat merasa hanya diundang sebagai formalitas. Sementara waktu terus berjalan. Rau tetap dalam situasi menunggu keputusan besar.

Pemkot Serang sudah berbicara tentang pengambilalihan pengelolaan pasar dari pihak ketiga. Sebuah langkah yang sebenarnya strategis. Pemerintah akan lebih leluasa mengatur tata kelola, potensi Pendapatan Asli Daerah bisa lebih optimal, dan kendali penuh terhadap kebijakan berada di tangan daerah.

Tetapi, langkah strategis ini terjebak dalam situasi yang sama. Lambat, penuh ketidakpastian, dan minim kepastian waktu bagi pedagang. Padahal, pedagang hanya butuh tiga hal. Yakni kepastian, keberpihakan, dan kejelasan teknis.

Apakah pasar dibongkar total? Apakah direnovasi? Bagaimana masa transisi? Bagaimana menjamin ekonomi keluarga tetap berjalan ketika proses pembangunan berlangsung?

Bahkan hal yang tampak sederhana seperti Berapa lama pembangunan akan mematikan aktivitas dagang? tetap menyisakan tanda tanya. Di sinilah publik mulai merasa bahwa pemerintah bergerak, tetapi tidak dengan langkah yang pasti.

Dinamis dan Bergerak

Tentu pembangunan Kota Serang tidak berhenti di Rau. Kota ini bukan hanya tentang satu pasar. Ada cerita lain yang justru memperlihatkan wajah pemerintahan yang dinamis dan bergerak.

Sisipkan waktu sejenak pergilah ke Pasar Lama. Kawasan yang dulu identik dengan keruwetan, kepadatan, jalan sumpek, dan wajah kota kusam, kini tampil jauh berbeda. Pemerintah berhasil menata ulang wajah kawasan ini. Pedestrian lebih tertata.

Aktivitas perdagangan lebih manusiawi. Kawasan dulu dikenal sebagai ruang hidup informal kini berubah menjadi kawasan yang lebih terorganisasi. Masih hidup, masih ramai, tetapi dengan wajah lebih baik.

Bagi sebagian warga, ini bukan sekadar perubahan visual. Ini soal martabat. Pedagang merasa lebih dihargai karena berdagang di ruang yang tertata. Pembeli merasa lebih nyaman. Kota merasa punya wajah yang pantas dibanggakan.

Hal serupa terlihat di Kepandean. Dahulu pasar ini dipenuhi tenda, lapak liar, dan tidak teratur, perlahan mulai menunjukkan penataan. Ini tentu bukan perubahan ajaib dalam semalam. Kepandean bukti pembenahan pasar tradisional bukan sekadar wacana.

Namun penataan paling mencolok dan paling sering dibicarakan publik adalah lahirnya kawasan Kota Serang Baroe atau Royal Baroe. Di sinilah pemerintah tampak percaya diri. Royal Baroe bukan hanya proyek fisik.

Royal Baroe Jadi Simbol

Royal Baroe dipanggungkan sebagai simbol peradaban kota baru. Pedestrian rapi. Lampu kota tertata. Ruang publik diperluas. UMKM diberi panggung. Ekonomi kreatif diberi ruang. Konsep malam kota sebagai ruang hidup bersama diwujudkan.

Pada satu sisi, masyarakat menyambut ini dengan gembira. Kota butuh ruang publik. Kota butuh tempat berkumpul yang layak. Kota butuh kawasan ekonomi kreatif. Tetapi publik Kota Serang adalah publik yang semakin dewasa.

Mereka melihat keberhasilan itu, tetapi mereka juga punya pertanyaan yang kritis. Mengapa Royal Baroe bisa cepat, sementara Pasar Induk Rau berjalan lambat? Mengapa kawasan rekreasional bisa bergerak progresif, sementara pusat ekonomi rakyat bergerak tersendat? Apakah ini soal prioritas? Soal kepentingan? Ataukah soal keberanian?

Kota Serang kini berada dalam sebuah persimpangan kepemimpinan. Pemkot Serang telah membuktikan mereka mampu bekerja. Mereka bisa membangun ruang ekonomi baru. Mereka bisa menata kawasan kota. Bisa juga memberikan wajah baru bagi pasar tradisional.

Tentu, publik tidak lagi hanya menilai pemerintah dari apa yang sudah selesai. Publik menilai dari apa yang belum selesai. Karena di titik itulah kepemimpinan diuji.

Bukan Sekadar Proyek

Pasar Induk Rau bukan sekadar proyek pembangunan. Ia adalah barometer keberpihakan. Bila tuntas dengan cara yang adil, cepat, partisipatif, dan berpihak pada pedagang, maka kepercayaan publik akan melompat.

Tetapi bila Pasar Induk Rau terus berada di wilayah kepastian yang abu-abu, maka Royal Baroe, Pasar Lama, dan Kepandean pun akan dibaca sebagai pembangunan yang timpang.

Pemerintah perlu menyadari satu hal penting. Komunikasi kebijakan bukan pekerjaan sampingan. Komunikasi bukan sekadar konferensi pers. Bukan sekadar pernyataan di media. Bukan pula aktif bermedsos. Komunikasi adalah kerja mendengar. Kerja meyakinkan. Kerja menjelaskan hingga yang paling kecil pun merasa dihargai.

Pembangunan fisik tanpa pembangunan rasa kepercayaan hanya akan menghasilkan proyek indah tetapi dingin. Sebaliknya, pembangunan yang lahir dari dialog akan melahirkan rasa memiliki. Ketika pedagang merasa dilibatkan, pasar akan menjadi milik bersama dan menjadi rumah bersama.

Kota Serang 2025 adalah cerita kota yang bergerak. Bukan kota yang diam. Tetapi ini juga cerita tentang kota yang belum bergerak dengan ritme yang sama di semua sisinya.

Lebih kritisnya lagi, publik melihat bahwa pemerintah tampak lebih siap membangun yang terlihat indah, daripada membenahi yang paling rumit tetapi paling vital. Royal Baroe dipoles. Pasar Lama tertata. Kepandean diperbaiki. Itu semua baik. Bahkan harus diapresiasi.

Tetapi kepemimpinan publik diukur bukan pada keberhasilan memilih proyek yang mudah dikerjakan. Kepemimpinan diukur pada keberanian menyelesaikan pekerjaan yang paling sulit. Pekerjaan yang menyangkut hajat hidup rakyat terbanyak. Pasar Induk Rau adalah pekerjaan itu.

Pasar Induk Rau tidak hanya membutuhkan perencanaan, keputusan, keberanian, kecepatan. Tetapi yang lebih dari itu, Rau membutuhkan empati. Empati bahwa pasar bukan sekadar bangunan ekonomi.

Bukan Sekadar Angka Statistik

Pedagang bukan sekadar angka statistik. Warga bukan sekadar objek penerima kebijakan. Ruang kehidupan ekonomi rakyat tidak bisa diatur hanya dengan logika teknik bangunan dan angka perencanaan proyek.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat panjangnya pidato pemerintah tentang pembangunan. Sejarah hanya mencatat apa yang benar-benar berubah. Kota Serang akan dikenang bukan karena berapa banyak ngonten di medsos, tetapi karena berapa banyak warga yang merasakan dampak nyata.

Kota Serang bisa menjadi kota yang membanggakan. Dan sesungguhnya, arah itu sudah terlihat. Ada kemajuan, ada upaya, ada perubahan. Tetapi untuk menjadi kota yang benar-benar kuat, pekerjaan rumah terbesar harus diselesaikan.

Karena kota yang hebat bukan kota yang paling indah di poster pembangunan. Kota hebat adalah kota yang paling adil bagi rakyatnya. Untuk saat ini, cerita tentang Kota Serang 2025 masih meninggalkan satu catatan besar.

Pasar Induk Rau menunggu keberanian itu. Menunggu keputusan itu. Dan rakyat Kota Serang menunggu bukti bahwa pembangunan kota ini tidak hanya bergerak, tetapi benar-benar berpihak. (*)

Tags: Kota SerangPasar Induk RauPedagang RauPemerintahPemkot SerangProyek RauRoyal Baroe

Berita Terkait

PEMERINTAHAN

Pemkot Serang Siapkan Rp45 Miliar Untuk THR PNS Dan PPPK

Maret 4, 2026
Pesan Guru PPPK Paruh Waktu Kota Serang: Mana Berani Kami Ngomong Langsung?
PEMERINTAHAN

Pesan Guru PPPK Paruh Waktu Kota Serang: Mana Berani Kami Ngomong Langsung?

Februari 28, 2026
Salah Data, Pemkot Serang Akui Belum Bayar Gaji Ratusan Guru Paruh Waktu
PEMERINTAHAN

Salah Data, Pemkot Serang Akui Belum Bayar Gaji Ratusan Guru Paruh Waktu

Februari 27, 2026
Klaim Tak Zalim, Dindikbud Kota Serang Mulai Sibuk Cek Data Gaji Guru PPPK Paruh Waktu
PEMERINTAHAN

Klaim Tak Zalim, Dindikbud Kota Serang Mulai Sibuk Cek Data Gaji Guru PPPK Paruh Waktu

Februari 27, 2026
HEADLINE

Enggan Disebut Zalim, Kadindikbud Klaim Pemkot Serang Justru Lakukan Percepatan Kebijakan untuk Guru PPPK Paruh Waktu

Februari 27, 2026
Kondisi Kantor Walikota di Puspemkot Serang yang berada di KSB, Cipocok Jaya, Kota Serang.
HEADLINE

Sebar Misleading Soal Gaji Guru PPPK Paruh Waktu, Pemkot Serang Disebut Tak Berbudi

Februari 27, 2026
Next Post
Wagub Pastikan Bantuan Sosial 2026 Lebih Banyak

Wagub Pastikan Bantuan Sosial 2026 Lebih Banyak

Discussion about this post

  • 315 Followers
  • 1.2k Subscribers
Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh