SERANG, BANPOS – Kementerian Kesehatan RI menobatkan Banten sebagai provinsi dengan kinerja terbaik dalam penanganan dan pemberantasan Tuberkulosis (TBC) di Indonesia.
Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus yang mengapresiasi hasil yang telah dicapai oleh Provinsi Banten dalam menangani TBC. Ia menegaskan, dari seluruh provinsi di Indonesia, Banten memiliki angka notifikasi kasus TBC tertinggi, dengan capaian 93 persen dari target nasional 100 persen.
“Dari data kita, Provinsi Banten adalah provinsi yang kinerjanya untuk pemberantasan TBC hari ini yang terbaik di Indonesia,” ujar Benjamin, Selasa, (28/12).
Menurutnya, kunci keberhasilan Banten adalah kemampuan dalam menemukan dan mengobati kasus secara cepat dan tepat.
“Kalau kita bisa temukan 100 persen kasus, maka Banten akan berhasil menanggulangi penyakit TBC di Indonesia,” katanya.
Benjamin juga menjelaskan, secara nasional terdapat sekitar 1,09 juta penderita TBC. Di antaranya, sekitar 50 ribu kasus berada di Banten. Namun, berbeda dari provinsi lain, Banten mampu menemukan hingga 93 persen kasus aktif.
“Di Jawa Tengah dan Jawa Timur baru 60-65 persen, DKI Jakarta saja 65 persen, Jawa Barat 78 persen, sementara Banten 93 persen. Ini capaian yang luar biasa,” ujarnya.
Wamenkes menambahkan, Kementerian Kesehatan akan menjadikan Banten sebagai model nasional dalam penanganan TBC untuk bisa diterapkan ke daerah-daerah lain.
“Saya datang ke sini bersama tim untuk belajar bagaimana Banten bisa mencapai angka notifikasi setinggi ini. Teknik dan inovasinya akan kami terapkan secara nasional mulai 2026,” ucapnya.
Ia juga menyoroti keunggulan Banten dalam mengobati keluarga pasien TBC, yang bukan hanya berfokus pada penderita langsung.
“Di provinsi lain, rata-rata baru 10 persen keluarga pasien yang mendapat terapi pencegahan. Di Banten sudah 52 persen. Itu tertinggi di Indonesia,” kata Benjamin.
Pemerintah pusat, lanjutnya, saat ini tengah merevisi peraturan presiden terkait pemberantasan TBC. Dari semula melibatkan 15 kementerian, kini akan diperluas menjadi 35 kementerian dan badan.
“TBC bukan hanya urusan Kemenkes, tapi juga sosial, perumahan, desa, hingga PU. Kalau rumah pasien lembap dan tidak layak, kumannya bisa hidup berbulan-bulan. Maka saat ada pasien TBC dirawat, itu rumahnya juga harus diperbaiki,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, dr. Ati Pramudji Hastuti, MARS, mengatakan jika capaian ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor di daerah.
“Kunci keberhasilan kita adalah komitmen. Mulai dari gubernur, bupati, walikota, sampai ke desa dan kelurahan siaga TBC yang semuanya berkomitmen,” kata Ati.
Ia menjelaskan, Banten memiliki lima kader TBC di setiap desa atau kelurahan. Jumlah itu lebih banyak dibanding provinsi lain yang rata-rata hanya satu kader.
“Kader-kader ini dilatih khusus untuk pengendalian TBC. Mereka aktif menjemput bola, melakukan pemeriksaan ke masyarakat, bukan hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan,” ungkapnya.
Ati juga menuturkan, seluruh kabupaten dan kota diwajibkan memiliki inovasi pelayanan, termasuk active case finding untuk mempercepat penemuan kasus.
“Dengan sistem ini, kita bisa menemukan lebih banyak kasus dan memastikan pengobatan berjalan tuntas,” ujarnya.
Saat ditanya apa yang diberikan oleh Pemerintah Pusat atas hasil capaian yang diraih oleh Pemprov Banten, Ati menerangkan jika berbagai macam bantuan dan penghargaan akan diberikan oleh pemerintah pusat ke Pemprov Banten.
“Kami mendapatkan penghargaan sertifikat, tapi tahun ini juga akan diberikan bantuan 24 alat portable rontgen untuk deteksi dini TBC,” jelas Ati.
Selain itu, kata Ati, dukungan anggaran penanggulangan TBC di Banten, yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota juga turut digulirkan.
“Untuk DAK ke Provinsi itu digunakan untuk pengadaan obat-obatan, sementara untuk kabupaten/kota digunakan untuk pembelian alat pemeriksa cartridge TCM yang nilainya antara 3 sampai 8 miliar per daerah. Selain itu, ada juga bantuan melalui BOK untuk puskesmas,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Banten, Andra Soni, menyebut capaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Banten.
“Ini merupakan hasil kerja bersama dari kabupaten/kota, yang akumulasinya ada di provinsi. Saya berterima kasih kepada seluruh kepala daerah, dinas kesehatan, dan tenaga kesehatan yang sudah berjuang menemukan dan mengobati pasien TBC,” kata Andra.
Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung upaya pemberantasan TBC hingga tuntas.
“Kita akan terus melakukan berbagai upaya agar kita bisa menemukan 100 persen kasus, dan mengobatinya sampai sembuh,” ucapnya. (ADV)









Discussion about this post