SERANG, BANPOS – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Provinsi Banten. DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh nyamuk Aedes sp.
Kasus DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan angka kesakitan dan kematian yang cukup tinggi serta berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB)
Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Banten, RR Sulestiorini mengimbau masyarakat untuk waspada dan melakukan pencegahan terhadap penyakit ini.
“DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh nyamuk Aedes sp,” kata Ririn, Rabu (24/12).
Ririn menjelaskan bahwa kasus DBD berdasarkan data situasi kasus DBD di Indonesia dari bulan januari sampai bulan mei 2025 sebanyak 56.269 kasus dan kematian sebanyak 250 kasus.
Sedangkan jumlah kasus di Provinsi Banten dari Januari sampai bulan November tahun 2025 sebanyak 6.557 kasus dan kasus kematian sebanyak 11 kasus.
“Tanda dan gejala DBD antara lain demam, sakit kepala, sakit persendian, ruam pada kulit, muntah, dan mimisan,” jelas Ririn.
“Jika demam tidak turun, segera bawa ke fasilitas kesehatan dan beri obat penurun panas Paracetamol,” tambahnya.
Oleh karenanya, dinkes Banten mengimbau masyarakat untuk melakukan Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang, serta melakukan intervensi lainnya seperti menanam tanaman pengusir nyamuk dan memelihara ikan.
“Setiap rumah harus ada anggota keluarga sebagai jumantik (Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik) untuk memantau dan memberantas sarang nyamuk,” kata Ririn.
Dengan melakukan pencegahan, masyarakat dapat mengurangi risiko terkena DBD dan mewujudkan Indonesia Bebas Dengue.
“Mari bersinergi wujudkan Indonesia Bebas Dengue melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik,” tegasnya. (ADV)







Discussion about this post