JAKARTA, BANPOS – Dinamika pasar modal Indonesia menunjukkan volatilitas yang cukup mengejutkan tepat satu hari sebelum malam Natal 2025.
Para pelaku pasar, khususnya investor dari kalangan milenial dan profesional muda yang aktif memantau portofolio investasi. Hal ini dikejutkan dengan perubahan manuver investor asing yang drastis.
Pada perdagangan Selasa (23/12), Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan tekanan jual yang masif. Berbanding terbalik dengan optimisme yang sempat terbangun pada awal pekan.
Berdasarkan data perdagangan terakhir, transaksi investor asing ditutup dengan catatan penjualan bersih atau net sell yang mencapai volume fantastis, yakni 2,23 miliar lembar saham.
Angka ini menjadi sorotan tajam mengingat pada hari perdagangan sebelumnya, Senin (22/12/2025), asing justru mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar 739,04 juta lembar.
Perubahan arah angin dari akumulasi menjadi distribusi besar-besaran ini mengindikasikan adanya aksi profit taking. Atau pengamanan aset tunai oleh investor global menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru.
Secara rinci, volume transaksi asing terlihat sangat fluktuatif. Minat beli asing (foreign buy) terpantau menyusut signifikan dari level 6,91 miliar lembar pada hari Senin, turun menjadi 4,71 miliar lembar pada hari Selasa.
Sebaliknya, tekanan jual (foreign sell) justru melonjak tajam, naik dari 6,17 miliar lembar menjadi 6,94 miliar lembar. Ketimpangan antara volume beli yang menurun dan volume jual yang meningka. Inilah yang menyebabkan angka net sell membengkak hingga miliaran lembar saham dalam satu hari perdagangan.
Tekanan Berat pada Saham Favorit Ritel
Sorotan utama pada perdagangan kali ini tertuju pada dua emiten yang memiliki basis investor ritel sangat besar, yakni sektor energi dan teknologi. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi emiten yang paling terdampak oleh aksi jual asing. BUMI menduduki posisi teratas dalam daftar Top Sell dengan volume net sell mencapai 1,68 miliar lembar.
Tekanan jual pada saham batubara legendaris ini sangat tinggi, di mana volume jual asing menembus angka 2,67 miliar lembar. Jauh melampaui volume beli yang hanya tercatat sebesar 993,64 juta lembar.
Tak hanya sektor energi, raksasa teknologi Indonesia, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), juga tidak luput dari tekanan. GOTO menempati posisi kedua saham yang paling banyak dilepas asing dengan catatan net sell sebesar 587,16 juta lembar. Meski demikian, likuiditas transaksi GOTO masih tergolong sangat tinggi.
Data menunjukkan bahwa investor asing masih melakukan pembelian sekitar 1,01 miliar lembar saham GOTO. Namun aksi jual lebih mendominasi dengan total 1,59 miliar lembar saham yang dilepas ke pasar.
Selain kedua raksasa tersebut, sektor infrastruktur telekomunikasi dan perbankan juga merasakan dampaknya. PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mencatatkan net sell 86,86 juta lembar.
Dengan perbandingan volume beli 67,33 juta berbanding volume jual 154,19 juta lembar. Sementara itu, emiten tambang emas PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyusul dengan net sell 48,10 juta lembar, akibat aksi jual asing yang mencapai 108,87 juta lembar.
Bahkan, saham blue chip perbankan yang biasanya menjadi benteng pertahanan indeks, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), turut serta dalam daftar Top Sell. BBCA menutup hari perdagangan dengan net sell 39,11 juta lembar. Setelah asing melepas hampir 64 juta lembar sahamnya di pasar reguler maupun negosiasi.
Saham-Saham yang Masih Dilirik Asing
Di tengah gelombang penjualan tersebut, investor asing terpantau masih melakukan akumulasi selektif pada beberapa emiten tertentu. Strategi ini menarik untuk dicermati oleh para trader dan investor lokal sebagai referensi watchlist.
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) memimpin daftar Top Buy dengan volume pembelian bersih tertinggi sebesar 57,83 juta lembar. Aktivitas transaksi pada saham ini cukup ramai dengan volume beli asing tercatat sebesar 232,19 juta lembar berbanding volume jual 174,35 juta lembar.
Menyusul di posisi kedua adalah emiten yang bergerak di ekosistem kendaraan listrik, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Asing mencatatkan net buy sebesar 39,78 juta lembar pada saham ini, hasil dari pembelian 79,19 juta lembar dikurangi penjualan 39,41 juta lembar.
Sektor properti juga mendapatkan angin segar melalui PT Sentul City Tbk (BKSL) yang memperoleh net buy 38,81 juta lembar. Volume beli asing di saham ini mencapai 140,47 juta lembar, mengungguli volume jual yang berada di angka 101,66 juta lembar.
Yang cukup unik adalah pergerakan pada saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA). Emiten media ini mencatatkan net buy murni sebesar 34,55 juta lembar. Data menunjukkan bahwa asing membeli 34,55 juta lembar saham MDIA tanpa menjual selembar pun pada hari tersebut, sebuah sinyal akumulasi penuh yang jarang terjadi di tengah pasar yang sedang merah.
Terakhir, emiten nikel PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menutup jajaran lima besar saham pilihan asing dengan net buy 26,56 juta lembar. Asing tercatat memborong 54,89 juta lembar saham NCKL dan hanya menjual 28,33 juta lembar.
Pergerakan data ini memberikan gambaran jelas bagi para investor muda bahwa meskipun pasar sedang mengalami tekanan jual (outflow), peluang keuntungan tetap tersedia jika jeli melihat sektor-sektor yang sedang diakumulasi.
Menjelang penutupan tahun, strategi defensive namun tetap memantau peluang pada saham-saham dengan akumulasi asing positif bisa menjadi langkah bijak dalam mengelola portofolio investasi. (*)

Discussion about this post