Oleh: Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Setiap akhir tahun, pemerintah berbicara tentang pencapaian fisik: panjang jalan yang dibeton, jumlah bangunan yang diresmikan, total investasi yang masuk. Namun pembangunan sejati tidak berhenti pada beton dan batu. Ia menyentuh sesuatu yang lebih halus — rasa aman, rasa dihargai, rasa memiliki masa depan. Inilah yang sering hilang dalam narasi pembangunan Banten: struktur luar diperkuat, tetapi struktur dalam manusia jarang disentuh.
Kita membangun kota, namun apakah kita membangun masyarakat? Kita membangun fasilitas umum, namun apakah kita membangun rasa saling percaya? Kita mengembangkan kawasan industri, tetapi apakah kita mengembangkan martabat warga yang hidup di sekitarnya? Tanpa kejelasan etis, pembangunan dapat menjelma menjadi mesin besar yang bergerak tanpa jiwa, menggilas yang lemah sambil memberi panggung bagi yang kuat.
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihāyat al-Zayn menekankan bahwa amanah kekuasaan pada dasarnya adalah menjaga martabat manusia — bukan sekadar menjaga aturan. Pemerintah disebut adil jika kehadirannya membuat manusia merasa dihormati, bukan ditaklukkan. Logika ini mengubah orientasi pembangunan: dari sekadar menambah fasilitas menuju memperdalam kemuliaan rakyat. Jika ada rumah ibadah megah tetapi warga miskin takut datang ke puskesmas karena biaya, maka pembangunan telah salah prioritas.
Václav Havel dalam pidatonya Politics and Conscience mengatakan bahwa negara yang hanya dibangun berdasarkan kalkulasi teknokratis akhirnya kehilangan legitimasi moral. Bagi Havel, negara yang sehat adalah negara yang “berani membangun dengan hati nurani,” karena keberhasilan pembangunan diukur dari peningkatan kualitas hubungan antar manusia, bukan hanya kenaikan angka statistik. Kritik ini terasa seperti cermin yang diarahkan ke banyak daerah, termasuk Banten: kita fokus pada “apa yang terlihat,” sementara yang “tidak terlihat” — kejujuran, solidaritas, empati — dibiarkan melemah.
Kuntowijoyo menegaskan bahwa bangsa hanya akan maju jika pembangunan bergerak dari struktural ke kultural, lalu ke moral. Ketika pembangunan hanya struktural, ia menciptakan kompetisi—siapa mayoritas, siapa minoritas, siapa yang dekat kekuasaan. Ketika ia naik menjadi kultural, ia menciptakan kerja sama. Dan ketika ia naik menjadi moral, ia menciptakan keadilan. Dengan kata lain: pembangunan yang tidak membentuk karakter masyarakat hanya akan memproduksi ketegangan baru.
Itulah sebabnya pembangunan Banten 2026 harus berani bergerak ke arah yang selama ini jarang dibahas: pembangunan manusia bukan sekadar dalam arti SDM, tetapi pembangunan jiwa sosial. Kita tidak kekurangan orang pintar, kita kekurangan orang yang berhenti sejenak untuk memikirkan kepentingan bersama. Kita tidak kekurangan rencana besar, kita kekurangan kesediaan untuk berkata jujur tentang kegagalan. Kita tidak kekurangan rapat dan agenda, tetapi kita kekurangan kesadaran bahwa setiap kebijakan menyentuh kehidupan seseorang secara nyata.
Kita telah melihat apa yang terjadi ketika pembangunan hanya didefinisikan secara fisik: fasilitas mewah berdiri, tetapi ketidaksetaraan melebar. Kota tumbuh cepat, desa tertinggal diam. Gedung-gedung menjadi simbol kemajuan, namun di dalamnya terdapat birokrasi yang membuat rakyat merasa kecil. Banten tidak butuh pembangunan yang mengagumkan mata, tetapi pembangunan yang menghangatkan hati.
Membangun dari dalam berarti mengubah cara pemerintah memandang warganya. Rakyat bukan objek kebijakan, tetapi subjek yang memiliki martabat. Transparansi bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi bahasa penghormatan. Partisipasi bukan kewajiban prosedural, tetapi wujud kepercayaan. Bila pemerintah mulai dari prinsip itu, maka kebijakan apa pun — bahkan yang kecil — akan dirasakan sebagai tindakan merawat, bukan memerintah.
Akhir tahun bukan akhir perjalanan, tetapi awal kesadaran baru. Kita tidak berhak berharap 2026 menjadi lebih baik jika pendekatan pembangunan tetap sama. Kualitas masa depan ditentukan oleh keberanian memurnikan niat kekuasaan hari ini. Pembangunan fisik memang penting, tetapi pembangunan nurani jauh lebih menentukan — sebab bangunan bisa berdiri dengan uang, tetapi harmoni sosial hanya bisa berdiri dengan hati.
Banten bisa menjadi provinsi yang maju bukan karena infrastruktur yang tinggi, tetapi karena peradaban sosialnya tumbuh. Bila pembangunan diarahkan untuk memperkuat martabat manusia, maka setiap jalan yang diaspal akan menjadi jalan menuju kepercayaan. Setiap sekolah yang dibangun akan menjadi ruang untuk harapan. Setiap kebijakan akan menjadi pengingat bahwa tugas tertinggi pemerintah bukan memerintah, tetapi memanusiakan.
Membangun dari dalam adalah pilihan yang lebih sulit — tetapi hanya pilihan itulah yang akan menyelamatkan masa depan.(*)


Discussion about this post