JAKARTA, BANPOS – Menjelang penghujung tahun 2025, euforia liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) tampaknya tidak sejalan dengan kinerja pasar modal Indonesia, khususnya bagi deretan saham yang terafiliasi dengan para konglomerat papan atas.
Alih-alih mencatatkan window dressing atau penguatan harga saham di akhir tahun, portofolio para taipan justru mengalami tekanan jual yang cukup masif dalam sepekan terakhir perdagangan.
Fenomena “kebakaran” di lantai bursa ini menjadi sorotan utama para pelaku pasar, mengingat emiten-emiten tersebut memiliki kapitalisasi pasar yang besar dan menjadi penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Berdasarkan pantauan pergerakan pasar hingga Jumat (19/12/2025), mayoritas saham big cap yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi besar melemah signifikan.
Kelesuan ini dinilai sebagai dampak langsung dari minimnya katalis positif yang mampu menggerakkan pasar. Selain itu, perilaku investor baik institusi maupun ritel yang cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) demi mengamankan uang tunai (cash) menjelang libur panjang, turut memperparah tekanan pada saham-saham tersebut.
Grup Barito Pimpin Koreksi
Sorotan utama tertuju pada emiten-emiten di bawah naungan orang terkaya di Indonesia, Prajogo Pangestu. Grup Barito yang biasanya menjadi primadona bagi investor ritel maupun asing, kali ini harus rela terkoreksi cukup dalam. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham induk usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatatkan penurunan tajam sebesar 8,09 persen dalam sepekan, menutup perdagangan di level Rp3.410 per saham.
Kondisi serupa dialami oleh anak usahanya yang bergerak di sektor energi terbarukan, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang terkoreksi 2,09 persen. Penurunan lebih parah dialami oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), yang dalam satu minggu terakhir harganya merosot hingga 10,67 persen. Volatilitas tinggi pada saham CUAN membuat para trader jangka pendek harus ekstra waspada.
Tak berhenti di situ, tekanan jual juga merembet ke emiten lain dalam ekosistem Prajogo. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengalami depresiasi tipis 0,35 persen. Sementara itu, emiten infrastruktur dan pelayaran, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), melemah 3,54 persen, serta emiten kontraktor pertambangan PT Petrosea Tbk (PTRO) terkikis 1,83 persen dalam periode yang sama.
Bakrie dan Happy Hapsoro Tak Luput dari Tekanan
Sentimen negatif jelang libur akhir tahun ini tidak hanya menyerang Grup Barito. Kelompok usaha Grup Bakrie yang banyak bermain di sektor komoditas energi dan mineral juga mencatatkan rapor merah. Saham “sejuta umat” PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 6,52 persen sepekan terakhir.
Koreksi yang lebih dalam terjadi pada anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), yang turun 9,76 persen. Bahkan, kontraktor pertambangan yang bernaung di bawah grup ini, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), harus rela ambles hingga 12,40 persen. Penurunan harga komoditas global dan aksi rebalancing portofolio investor ditengarai menjadi penyebab utamanya.
Di sisi lain, emiten yang terafiliasi dengan suami Puan Maharani, Happy Hapsoro, juga mengalami nasib serupa. Saham emiten migas PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tercatat turun 12,45 persen. Koreksi lebih tajam terjadi pada PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang merosot tajam hingga 16,34 persen hanya dalam waktu sepekan.
Saham Properti dan Tambang Grup Salim Ikut Lesu
Sektor properti dan pertambangan yang dikuasai oleh kongsi Grup Salim dan Aguan (Sugianto Kusuma) juga tidak mampu menahan gelombang tekanan jual. Di sektor pertambangan tembaga dan emas, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 5,95 persen. Saham ini padahal sempat menjadi penopang indeks dalam beberapa bulan terakhir.
Sementara itu, emiten properti yang sedang gencar mengembangkan kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), yakni PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), terkoreksi 2,92 persen. Emiten properti lainnya dalam ekosistem yang sama, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), juga turun tipis 0,29 persen.
Bagi para investor muda dan pembaca milenial yang aktif di pasar modal, kondisi ini menjadi pengingat pentingnya manajemen risiko. Menjelang libur panjang, volatilitas pasar cenderung meningkat karena volume perdagangan yang menipis dan aksi cash out para pelaku pasar. Strategi wait and see atau mengakumulasi saham fundamental bagus di harga bawah seringkali menjadi opsi bijak di tengah badai koreksi akhir tahun seperti saat ini. (*)

Discussion about this post