Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Pascabencana Sumatera, Trauma Healing Anak Jadi Fokus Pemulihan

by Tim Redaksi
Desember 16, 2025
in NASIONAL
Pascabencana Sumatera, Trauma Healing Anak Jadi Fokus Pemulihan

Trauma healing untuk anak-anak pascabencana Sumatera. Foto: Dok Istimewa

JAKARTA, BANPOS – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga luka psikologis mendalam, terutama bagi anak-anak sebagai kelompok paling rentan.

Hingga Minggu (7/12/2025), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 921 orang meninggal dunia, 392 orang masih dinyatakan hilang, serta 37.546 rumah warga mengalami kerusakan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca Juga

Hak Anak Korban Bencana Jangan Terabaikan

Hak Anak Korban Bencana Jangan Terabaikan

Januari 14, 2026
Kesadaran Warga Jaga Lingkungan Jadi Kunci Cegah Bencana

Kesadaran Warga Jaga Lingkungan Jadi Kunci Cegah Bencana

Januari 10, 2026
Walikota Serang Ancam Pidanakan Oknum Penyempit Sungai

Walikota Serang Ancam Pidanakan Oknum Penyempit Sungai

Desember 19, 2025
Pohon Tumbang di Jalan Kembar Makan Korban, Pengendara Motor Asal Karawaci Tewas

Pohon Tumbang di Jalan Kembar Makan Korban, Pengendara Motor Asal Karawaci Tewas

Desember 18, 2025

Di tengah situasi darurat tersebut, perhatian terhadap pemulihan psikologis anak menjadi krusial. Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menilai pengalaman menghadapi ancaman keselamatan jiwa akibat bencana dapat memicu gangguan stres akut yang berpotensi berkembang menjadi masalah psikologis jangka panjang jika tidak ditangani dengan tepat.

Hilangnya tempat tinggal, terputusnya hubungan sosial, serta runtuhnya rasa aman menjadi pemicu guncangan emosional yang berat bagi penyintas, termasuk anak-anak.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain kecemasan berlebihan, mudah marah, ledakan emosi, kesedihan yang menetap, hingga rasa bersalah yang tidak proporsional.

“Reaksi stres normal umumnya mereda dalam 2-4 minggu. Bila gejala emosional atau fisik menetap lebih dari satu bulan, individu berada pada risiko perkembangan gangguan stres pascatrauma (PTSD) atau gangguan penyesuaian (adjustment disorder),” kata Kasandra di Jakarta, dikutip Selasa (16/12/2025).

Menurut Kasandra, dukungan sosial yang konsisten menjadi faktor protektif terkuat dalam pemulihan psikologis pascabencana. Dukungan tersebut mencakup rasa aman, perasaan diterima, dimengerti, dan tidak sendirian.

Bentuknya bisa berupa dukungan emosional sederhana, seperti mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa menginterogasi, yang sangat penting bagi anak-anak.

Ia menjelaskan, intervensi psikologis yang efektif bagi korban bencana mencakup dukungan psikososial berbasis komunitas dan sekolah.

Program tersebut antara lain kelompok dukungan sebaya, kegiatan pemulihan normalitas seperti main-play-therapy untuk anak, program parenting, penyediaan ruang aman di pengungsian, serta aktivitas pemulihan sosial yang terstruktur.

Pendampingan psikologis bagi anak perlu dikemas dalam kegiatan yang menyenangkan agar stabilitas emosi mereka dapat kembali pulih. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak yang masih berada dalam fase bermain dan belajar.

Pakar Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Padang (UNP), Evelynd, menegaskan bahwa setiap anak memiliki kapasitas pemulihan yang berbeda setelah mengalami peristiwa traumatis. Karena itu, pendampingan harus dilakukan secara bertahap dan melibatkan peran aktif orang tua.

“Kegiatan dibuat menyenangkan agar anak bisa kembali fokus. Banyak dari mereka memasuki masa ujian sekolah sehingga pendampingan ini sangat penting untuk mengembalikan stabilitas emosi,” kata Evelynd, dalam keterangan pers yang diterima beberapa waktu lalu.

Evelynd juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pemulihan psikologis anak, termasuk dalam mengatur dan membatasi penggunaan gawai. Orang tua diharapkan dapat mengarahkan anak pada konsumsi informasi yang sesuai dengan usia dan kondisi psikologis mereka.

Upaya tersebut sejalan dengan penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas) yang menekankan perlindungan anak dari risiko digital, melalui pengaturan filter usia, kewajiban platform digital, serta persetujuan orang tua.

“Anak-anak adalah masa depan. Resiliensi dan literasi harus ditanamkan sejak sekarang agar mereka tumbuh lebih kuat dan aman di dunia digital,” ujar Evelynd.

Sejumlah upaya pendampingan psikologis anak pascabencana telah dilakukan, salah satunya oleh Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Save the Children dan Universitas Negeri Padang.

Program ini menggunakan pendekatan menyenangkan untuk mengembalikan semangat anak-anak, seperti kegiatan tanpa gawai melalui kuis, menggambar, membaca cerita, dan permainan kolaboratif.

Pendekatan tersebut dinilai efektif membantu anak kembali berinteraksi, menumbuhkan rasa aman, serta mengurangi dampak psikologis akibat tinggal di pengungsian dalam waktu lama.

Pemerintah, melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) juga mengintensifkan layanan pemulihan psikologis atau trauma healing bagi para penyintas bencana, dengan fokus khusus pada perempuan dan anak.

“Negara hadir untuk memastikan setiap perempuan dan anak serta kelompok rentan lainnya termasuk lansia dan penyandang disabilitas mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak yang layak selama masa tanggap darurat maupun fase pemulihan nantinya,” kata Menteri PPPA, Arifah Fauzi dalam keterangan di Jakarta, beberapa waktu lalu. (*)

Source: RM.ID
Tags: bencanaKasandramenteri pppaSumatera

Berita Terkait

Hak Anak Korban Bencana Jangan Terabaikan
PERISTIWA

Hak Anak Korban Bencana Jangan Terabaikan

Januari 14, 2026
Kesadaran Warga Jaga Lingkungan Jadi Kunci Cegah Bencana
PEMERINTAHAN

Kesadaran Warga Jaga Lingkungan Jadi Kunci Cegah Bencana

Januari 10, 2026
Walikota Serang Ancam Pidanakan Oknum Penyempit Sungai
KESRA

Walikota Serang Ancam Pidanakan Oknum Penyempit Sungai

Desember 19, 2025
Pohon Tumbang di Jalan Kembar Makan Korban, Pengendara Motor Asal Karawaci Tewas
PERISTIWA

Pohon Tumbang di Jalan Kembar Makan Korban, Pengendara Motor Asal Karawaci Tewas

Desember 18, 2025
Hujan Dua Hari Dua Malam, Luapan Sungai Cilemer Rendam Desa Idaman Pandeglang
PERISTIWA

Hujan Dua Hari Dua Malam, Luapan Sungai Cilemer Rendam Desa Idaman Pandeglang

Desember 17, 2025
Prabowo-Sufmi  Bertemu Lagi Di Istana, Bahas Bencana Dan Ekonomi
NASIONAL

Prabowo-Sufmi Bertemu Lagi Di Istana, Bahas Bencana Dan Ekonomi

Desember 16, 2025
Next Post
Negara Siaga! Energi Dijaga Jelang Natal–Tahun Baru

Negara Siaga! Energi Dijaga Jelang Natal–Tahun Baru

Discussion about this post

  • 315 Followers
  • 1.2k Subscribers
Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh