JAKARTA, BANPOS – Dinamika pasar modal Indonesia kembali menunjukkan pergerakan agresif dari para pemegang saham pengendali dan investor institusi kakap pada awal pekan ini.
Berdasarkan data perubahan kepemilikan saham di atas 5 persen yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (8/12), terjadi aksi jual dan beli yang cukup signifikan di berbagai sektor, mulai dari pertambangan energi hingga sektor konsumer.
Sorotan utama tertuju pada aksi lepas kepemilikan di sektor batu bara dan akumulasi menarik oleh investor legendaris Indonesia di sektor manufaktur.
Perhatian pelaku pasar, khususnya investor ritel, langsung tertuju pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Raksasa pertambangan batu bara ini mencatatkan adanya pengurangan porsi kepemilikan yang cukup masif dari salah satu investor asingnya.
Data menunjukkan bahwa HSBC-Fund SVS A/C Chengdong Investment Corp-Self telah melepas sebanyak 174,33 juta lembar saham BUMI. Transaksi jumbo ini difasilitasi oleh PT Bank HSBC Indonesia.
Akibat dari aksi jual tersebut, cengkeraman investor asal China ini terhadap emiten induk pertambangan Bakrie Group dan Salim Group tersebut mengalami penyusutan.
Porsi kepemilikan Chengdong Investment kini tercatat turun menjadi 6,78 persen. Langkah ini menjadi sinyal yang dicermati serius oleh para trader dan investor jangka panjang, mengingat besarnya volume yang ditransaksikan di tengah fluktuasi harga komoditas energi global.
Tren “buang barang” di sektor energi ternyata tidak hanya terjadi pada BUMI. Orang terkaya di Indonesia sekaligus pengendali PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Low Tuck Kwong, juga terpantau melakukan aksi jual.
Meski jumlahnya tidak sebesar transaksi di BUMI, Low Tuck Kwong melepas 1,01 juta saham BYAN melalui perantara PT Maybank Sekuritas Indonesia.
Aksi profit taking atau penyesuaian portofolio ini menyebabkan kepemilikan langsungnya di emiten batu bara premium tersebut sedikit terkikis menjadi 40,22 persen.
Masih di sektor yang beririsan dengan pertambangan, PT Caraka Reksa Optima juga mengambil langkah serupa pada emiten kontraktor pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO).
Melalui PT Henan Putihrai Sekuritas, Caraka Reksa Optima menjual 5 juta lembar sahamnya, sehingga kini sisa kepemilikannya berada di level 25,94 persen.
Fenomena menarik lainnya terjadi pada emiten tambang mineral PT Archi Indonesia Tbk (ARCI).
Terjadi anomali di mana persentase kepemilikan investor menyusut, namun jumlah lembar saham yang dipegang tidak berubah. Hal ini dialami oleh PT Rajawali Corpora yang persentase sahamnya turun dari 72,84 persen menjadi 71,98 persen.
Transaksi ini tercatat di beberapa sekuritas, termasuk PT Semesta Indovest Sekuritas, PT Binaartha Sekuritas, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk – Custody.
Kondisi serupa juga dialami PT Rajawali Kapital Emas, di mana porsinya di ARCI tergerus dari 11,91 persen menjadi 11,77 persen.
Penurunan persentase tanpa perubahan jumlah lembar saham ini biasanya mengindikasikan adanya aksi korporasi yang menyebabkan dilusi, seperti penambahan modal dengan menerbitkan saham baru yang tidak dieksekusi oleh pemegang saham lama.
Berbanding terbalik dengan sektor energi yang mengalami tekanan jual, sektor media dan hiburan justru menarik minat investor asing.
Institusi keuangan global, Morgan Stanley And Co International Plc, menunjukkan kepercayaan dirinya terhadap industri perfilman nasional dengan memborong 1,97 juta saham PT MD Entertainment Tbk (FILM).
Pembelian yang dilakukan melalui PT Bank HSBC Indonesia ini mengukuhkan posisi Morgan Stanley sebagai salah satu pemegang saham utama di rumah produksi tersebut dengan porsi kepemilikan stabil di kisaran 10,59 persen.
Di sisi lain, aksi akumulasi atau penambahan saham juga dilakukan oleh konglomerasi Sinar Mas. PT Sinar Mas Cakrawala tampak memperkuat posisinya di lini bisnis jasa keuangan grup mereka sendiri, yakni PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA).
Melalui PT Sinarmas Sekuritas, mereka menambah 1,16 juta saham, yang mendongkrak total kepemilikan menjadi mayoritas mutlak sebesar 50,12 persen.
Strategi serupa diterapkan oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang semakin agresif mengendalikan anak usahanya, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Dengan pembelian tambahan 1 juta saham via PT Indo Premier Sekuritas, MDKA kini menguasai 57,51 persen saham produsen emas tersebut.
Namun, kabar yang paling dinanti oleh investor ritel milenial dan Gen Z adalah pergerakan dari investor kawakan Lo Kheng Hong.
Sosok yang kerap dijuluki Warren Buffett-nya Indonesia ini kembali tertangkap radar melakukan akumulasi pada saham favoritnya di sektor ban, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL).
Pria yang akrab disapa Pak Lo ini membeli tambahan 50 ribu lembar saham GJTL.
Meskipun volumenya terlihat kecil dibandingkan transaksi institusi, langkah ini menegaskan keyakinan fundamental Lo Kheng Hong terhadap emiten tersebut.
Transaksi yang dilakukan melalui PT Sinarmas Sekuritas ini membuat total kepemilikannya kini mencapai 5,77 persen.
Menutup rangkaian aksi korporasi awal pekan ini, sektor farmasi yang defensif juga mencatatkan penguatan struktur kepemilikan.
Pemegang saham pengendali PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), yakni PT Bogamulia Nagadi, terus menambah pundi-pundi sahamnya.
Bogamulia membeli 8.500 lembar saham TSPC melalui PT OCBC Sekuritas Indonesia, sebuah langkah kecil namun konsisten yang mengukuhkan dominasinya dengan total kepemilikan mencapai 90,29 persen. (*)

Discussion about this post