Oleh: Muhammad Farhan Alfachrizi
Prodi Ilmu Pemerintahan – Unpam Serang
Generasi Z membawa potensi yang besar untuk memberikan dampak signifikan dalam Pemilihan Umum 2024. Berbekal karakteristik dan kemampuan yang khas, generasi muda ini mampu menghasilkan perubahan besar dalam tatanan politik dan masyarakat.
Sementara itu, generasi milenial telah menunjukkan kontribusi suara yang paling tinggi dalam pemilu-pemilu sebelumnya. Ini menegaskan bahwa preferensi dan keterlibatan politik mereka secara signifikan memengaruhi keputusan politik dan arah masa depan bangsa.
Dengan potensi besar ini, keterlibatan aktif Generasi Z di Pemilu 2024 berpeluang menjadi kekuatan pendorong untuk transformasi positif dalam sistem politik dan kehidupan bermasyarakat. Untuk memaksimalkan dampak ini, sangat krusial bagi pemimpin politik dan institusi terkait untuk menjamin bahwa aspirasi dan kebutuhan Generasi Z diperhatikan.
Suara mereka harus didengar dan diwakili dengan baik dalam proses politik, sehingga kebijakan publik yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kepentingan mereka. Dari sisi akademik, penelitian yang mengaplikasikan metode yuridis normatif (atau hukum normatif) merupakan pendekatan yang tepat.
Metode ini mengkaji aturan-aturan hukum atau norma-norma yang berlaku sebagai dasar untuk menganalisis atau mengevaluasi konsep maupun relasi-relasi hukum.
Generasi Z memiliki potensi besar untuk memainkan peran yang signifikan dalam Pemilu 2024. Dengan karakteristik dan keterampilan unik yang dimiliki, generasi Z dapat membawa dampak besar dalam proses politik dan masyarakat. Kegiatan ini akan dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi yang diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam partisipasi politik dan demokrasi di Indonesia, terutama di daerahnya masing – masing.
Gagasan Fundamental Demokrasi
Secara idealis, demokrasi berfokus pada gagasan fundamental bahwa kekuasaan tertinggi (kedaulatan) berada di tangan rakyat, sehingga segala bentuk pemerintahan harus berasal dari rakyat, dijalankan oleh rakyat, dan bertujuan untuk kesejahteraan rakyat.
Sebaliknya, secara praktis, demokrasi lebih menekankan pada prosedur dan mekanisme nyata dalam kancah politik, yaitu serangkaian aturan untuk memungkinkan warga memilih wakil mereka, menempatkan mereka di lembaga legislatif, dan menuntut pertanggungjawaban mereka.
Oleh karena itu, pemilihan umum (pemilu), yang diselenggarakan secara periodik setiap lima tahun, adalah proses politik krusial yang mewakili kedaulatan rakyat. Dapat dipastikan bahwa sebuah negara tidak dapat disebut demokratis tanpa adanya pemilu yang terstruktur dan rutin.
Perjalanan demokrasi di Indonesia mengalami dinamika pasang surut, ditandai dengan upaya berat menyatukan berbagai pandangan masyarakat yang majemuk sambil berjuang menghapus sistem pemerintahan otoriter yang pernah ada.
Meskipun penuh tantangan dalam menyamakan persepsi yang beragam, berkat semangat UUD 1945 dan perjuangan para pendiri bangsa, Indonesia akhirnya mampu mengimplementasikan demokrasi dengan menyelenggarakan pemilu pertamanya pada tahun 1955.
Konteks Pemilu Pada Generasi Z di Lingkungan Sekolah Menengah
Pada konteks saat ini, Generasi Z (siswa/i) SMAN 1 Gunungkencana yang merupakan pemilih pemula dan pemilih muda) menjadi kelompok yang sangat rentan sekaligus strategis.
Mereka adalah generasi yang paling terpapar oleh informasi digital, namun seringkali belum dibekali dengan literasi politik dan kemampuan berpikir kritis yang memadai untuk menyaring validitas informasi tersebut. Ketergantungan pada media sosial tanpa filter seringkali membuat praktis yang merusak.
Menurut Heru Dian Setiawan dan TB. Massa Djafar pada jurnalnya yang berjudul “Partisipasi Politik Pemilih Muda Dalam Pelaksanaan Demokrasi di Pemilu 2024”, Pada pemilu yang akan datang di tahun 2024, kelompok pemilih milenial menjadi mayoritas, diperkirakan mencapai sekitar 53 hingga 55% dari total pemilih.
Data survei menunjukkan adanya peningkatan partisipasi dari generasi muda Indonesia. Partisipasi pemilih secara keseluruhan pada Pemilu 2019 mencapai sekitar 81%, yang merupakan kenaikan signifikan (sekitar 10%) dari Pemilu 2014 yang hanya 70%. Sementara itu, partisipasi khusus pemilih muda di Pemilu 2019 mencapai sekitar 91,3%, meningkat sekitar 5,4% dari angka 85,9% pada Pemilu 2014.
Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Generasi Z dalam Pemilu
Pada fase ini, masyarakat dapat menyaksikan strategi dan langkah taktis yang ditempuh oleh para kandidat untuk meraih dukungan dan memenangkan kontestasi. Taktik ini mencakup kampanye masif, pembentukan koalisi, dan strategi komunikasi yang dirancang untuk menjangkau para pemilih potensial.
- Keterlibatan Aktif di Media Sosial: Generasi Z cenderung terlibat secara aktif di media sosial, yang dapat menjadi sarana untuk menyebarkan informasi tentang pentingnya partisipasi dalam pemilihan dan memotivasi sesama generasi Z untuk menggunakan hak suara mereka.
- Kesadaran akan Isu-isu Penting: Generasi Z sering kali peduli dengan isu-isu seperti lingkungan, kesetaraan gender, keadilan sosial, dan kesehatan mental. Calon-calon yang mampu mengartikulasikan komitmen mereka terhadap isu-isu ini mungkin dapat menarik minat dan dukungan dari Generasi Z.
- Pendidikan Politik: Penting bagi generasi Z untuk mendapatkan pendidikan politik yang baik agar mereka memahami pentingnya partisipasi dalam proses demokrasi dan konsekuensi dari keputusan politik. Pendidikan politik dapat membantu mereka menjadi pemilih yang lebih cerdas dan terinformasi.
- Keterlibatan dalam Gerakan Sosial dan Aktivisme: Generasi Z sering terlibat dalam gerakan sosial dan aktivisme di luar proses politik formal. Keterlibatan ini dapat meningkatkan kesadaran mereka akan isu-isu politik dan mendorong partisipasi dalam pemilihan.
Pemahaman Terhadap Praktik Demokrasi Generasi Z pada Pemilihan Umum
Edukasi politik dan keterlibatan dalam diskusi publik dapat membantu Generasi Z di SMA Negeri 1 Gunungkencana untuk memahami peran dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara.
Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi mereka dalam pemilu dan memastikan suara mereka didengar dalam pembentukan masa depan negara.
- Peran Penting Generasi Milenial: Data menunjukkan bahwa generasi milenial memiliki kontribusi suara tertinggi dalam Pemilu, menunjukkan bahwa keputusan politik dan arah masa depan Indonesia secara signifikan dipengaruhi oleh preferensi dan partisipasi politik generasi ini.
- Potensi Perubahan Politik: Dengan jumlah suara yang besar, generasi milenial memiliki potensi untuk mengubah arah politik dan kebijakan negara. Karena itu, kebijakan dan platform politik yang ditawarkan oleh calon-calon yang bersaing mungkin akan lebih memperhatikan isu-isu yang relevan bagi generasi milenial.
- Fokus pada Isu-isu Generasi Milenial: Fakta ini menunjukkan bahwa calon-calon dan partai politik perlu memperhatikan isu-isu yang menjadi perhatian utama generasi milenial, seperti lapangan kerja, pendidikan, lingkungan, dan teknologi. Menanggapi isu-isu ini dengan serius dapat membantu para calon memenangkan dukungan generasi milenial.
- Pentingnya Kampanye yang Efektif di Media Sosial: Generasi milenial cenderung menggunakan media sosial sebagai sumber informasi politik utama mereka. Oleh karena itu, kampanye politik yang efektif harus memanfaatkan platform media sosial untuk mencapai dan berinteraksi dengan generasi milenial secara langsung.
- Pengaruh Terhadap Kebijakan Masa Depan: Dengan jumlah suara yang signifikan, generasi milenial dapat memiliki pengaruh yang kuat dalam menentukan kebijakan pemerintah dan arah masa depan Indonesia. Keterlibatan aktif mereka dalam proses politik dapat membentuk kebijakan yang lebih inklusif dan memperhatikan kepentingan semua lapisan masyarakat.
Dengan demikian, fakta ini menegaskan pentingnya memperhatikan aspirasi dan kebutuhan generasi milenial dalam proses politik, serta mengakui peran mereka sebagai kontributor suara tertinggi dalam menentukan masa depan Indonesia.
Realisasi Untuk Mengatasi Masalah Ketidakpekaan Generasi Z Dalam Pemilu
Pemecahan masalah harus sangat sederhana, langsung, dan memanfaatkan saluran komunikasi yang paling sering mereka gunakan. Usulan ini bersifat ringkas, peer-driven, dan menekankan relevansi politik dengan kehidupan nyata dan karir.
1. Berinteraksi dengan Informasi Politik (Media Sosial adalah Kunci)
Kegiatan ini berupa workshop yang mengajarkan siswa/i Generasi Z memperoleh mayoritas informasi politik mereka dari platform media sosial (seperti Instagram, TikTok, Twitter/X, dan YouTube) dan media digital, bukan media konvensional. Meskipun menyukai konten cepat, mereka juga menghargai keaslian, reputasi, dan kredibilitas sumber. Mereka lebih memilih informasi yang datang dari tokoh atau influencer yang mereka anggap kredibel.
2. Peran Krusial Generasi Z dalam Demokrasi
Pemberian materi yang mengedukasi siswa/i mengenai peran krusian generasi muda terhadap demokrasi. Suara Generai Z sangat signifikan dalam menentukan arah kebijakan negara dan pemimpin di masa depan. Keterlibatan mereka sangat penting karena mereka yang akan merasakan dampak langsung dari kebijakan tersebut. Generasi Z memandang pemilu sebagai proses untuk melahirkan modernisasi dan mendorong moderasi dalam politik. Mereka diharapkan menjadi agen yang mendorong pemilu yang lebih transparan, inklusif, dan bebas dari praktik politik transaksional (politik uang).
3. Cara Menjadi Pemilih Cerdas dan Bertanggung Jawab
Mengajarkan langkah-langkah memeriksa Daftar Pemilih Tetap (DPT) secara online (jika memungkinkan, tunjukkan contoh situs KPU). Ini penting untuk memastikan hak memilih tidak hilang. Jelaskan syarat menjadi pemilih (minimal 17 tahun atau sudah menikah). Berikan pemahaman tentang bahaya politik uang (money politic). Identifikasi ciri-ciri hoaks (berita bohong) dan kampanye SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan). Dorong untuk cross-check (memeriksa silang) informasi dari sumber-sumber resmi (KPU, Bawaslu) atau media terpercaya.
Kesimpulan
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Generasi Z khususnya siswa/siswi di SMA Negeri 1 Gunungkencana, memiliki potensi besar untuk memainkan peran signifikan dalam Pemilu 2024. Namun, untuk memaksimalkan dampak ini, perlu dilakukan upaya serius untuk meningkatkan literasi politik, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran akan peran krusial mereka dalam demokrasi.
Melalui edukasi politik, kampanye di media sosial, gerakan sosial, dan simulasi pemilu, Generasi Z dapat menjadi agen perubahan positif dalam sistem politik dan kehidupan bermasyarakat, serta memastikan suara mereka didengar dalam pembentukan masa depan negara.
Dengan kesadaran dan partisipasi yang tinggi, Generasi Z dapat membawa perubahan besar dan positif bagi Indonesia, seperti meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah, memperkuat demokrasi, dan mempromosikan keadilan sosial.
Oleh karena itu, penting bagi pemimpin politik, institusi pendidikan, dan masyarakat untuk bekerja sama dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi Generasi Z dalam proses politik, sehingga mereka dapat menjadi generasi yang cerdas, aktif, dan berpengaruh dalam menentukan masa depan bangsa. (*)

Discussion about this post