JAKARTA, BANPOS – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang sangat impresif pada penutupan perdagangan hari Rabu, (10/12).
Di tengah dinamika sentimen global yang beragam dan isu geopolitik yang membayangi, pasar saham Indonesia justru memamerkan ototnya dengan menembus level psikologis baru.
IHSG tercatat menguat signifikan sebesar 0,51 persen atau bertambah 43,74 poin, parkir dengan nyaman di level 8.700,92.
Pergerakan indeks sepanjang hari ini mencerminkan optimisme pelaku pasar yang cukup tinggi.
Sejak pembukaan, IHSG bergerak lincah dalam rentang area positif, mencatatkan level terendah harian di 8.668,61 sebelum akhirnya menyentuh level tertinggi di angka 8.720,88.
Antusiasme investor, khususnya dari kalangan ritel dan institusi domestik, terlihat mendominasi lantai bursa, tercermin dari likuiditas pasar yang melimpah ruah.
Data perdagangan mencatat total nilai transaksi di seluruh pasar reguler maupun negosiasi mencapai angka yang fantastis, yakni Rp33,88 triliun.
Angka ini melibatkan perputaran volume perdagangan sebanyak 68,5 miliar lembar saham. Statistik pasar juga memperlihatkan dominasi “banteng” di mana mayoritas emiten berakhir di zona hijau.
Sebanyak 431 saham mencatat kenaikan harga, memberikan keuntungan bagi para trader harian maupun investor jangka menengah.
Sementara itu, hanya 258 saham yang tercatat melemah, dan 113 saham lainnya memilih untuk jalan di tempat atau stagnan.
Sorotan utama pada perdagangan kali ini tertuju pada emiten pertambangan batu bara milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Saham yang kerap menjadi favorit investor ritel milenial dan Gen Z ini tampil sebagai primadona dengan menyerap likuiditas pasar terbesar.
BUMI mencatatkan nilai transaksi tertinggi mencapai Rp6,62 triliun dalam sehari. Tak hanya ramai ditransaksikan, harga saham BUMI juga mengalami lonjakan harga yang luar biasa, ditutup terbang 19,85 persen.
Kenaikan ini menjadi katalis pendorong utama (market mover) yang menjaga IHSG tetap berada di jalur hijau.
Di posisi kedua dalam daftar transaksi terbesar, terdapat saudara satu grup BUMI, yakni PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Emiten kontraktor pertambangan ini membukukan nilai transaksi sebesar Rp1,58 triliun.
Namun, nasib harga sahamnya berbanding terbalik dengan BUMI, di mana DEWA harus rela menutup perdagangan dengan koreksi turun sebesar 1,78 persen.
Selanjutnya, emiten petrokimia milik taipan Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), menyusul di peringkat ketiga dengan total transaksi senilai Rp1,54 triliun.
Diikuti oleh pendatang yang cukup menarik perhatian pasar belakangan ini, PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), yang berhasil mencatatkan transaksi sebesar Rp1,24 triliun.
Sementara itu, saham perbankan berkapitalisasi pasar jumbo yang biasanya menjadi penopang utama indeks, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), berada di posisi kelima dengan nilai transaksi Rp1,16 triliun.
Secara fundamental makro, pasar saham domestik tampaknya cukup kebal terhadap sentimen eksternal yang kurang sedap.
Analis dari Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa pelaku pasar cenderung mengabaikan isu-isu miring terkait hubungan dagang internasional.
Salah satu isu yang sempat beredar adalah potensi kegagalan perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), yang sebelumnya telah disepakati pada Juli 2025 lalu.
Kekhawatiran bahwa kesepakatan tersebut akan layu sebelum berkembang nyatanya belum mendapat reaksi negatif yang signifikan dari para investor di Bursa Efek Indonesia.
Dalam riset harian yang dipublikasikan, tim riset Phintraco Sekuritas menilai bahwa fokus pasar saat ini lebih tertuju pada dinamika internal emiten.
Aksi korporasi dan kinerja sektoral menjadi bahan bakar utama yang menjaga momentum kenaikan indeks.
“Kenaikan pada beberapa saham yang memiliki aksi korporasi masih menopang penguatan indeks,” tulis analis Phintraco, dalam riset yang disampaikan hari ini.
Kondisi pasar domestik yang sumringah ini sedikit kontras jika disandingkan dengan pergerakan bursa saham di kawasan Asia yang cenderung bervariasi (mixed).
Di Jepang, indeks Nikkei 225 terpantau melemah tipis 0,10 persen, meskipun indeks Topix berhasil naik 0,12 persen. Bursa saham China juga mengalami tekanan dengan Shanghai Composite yang turun 0,23 persen.
Di sisi lain, bursa saham Hong Kong melalui indeks Hang Seng berhasil mengekor tren positif IHSG dengan penguatan 0,42 persen.
Sementara itu, indeks KOSPI di Korea Selatan harus terkoreksi 0,21 persen, dan indeks ASX200 di Australia turun tipis 0,08 persen.
Salah satu performa terbaik di Asia hari ini selain Indonesia dicatatkan oleh bursa Taiwan, di mana indeks Taiex berhasil menguat signifikan sebesar 0,77 persen. (*)

Discussion about this post