TANGSEL, BANPOS – Setelah berulangkali kebanjiran warga yang tinggal di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang mengungsi. Banjir yang terjadi akibat longsoran sampah TPA Cipeucang menutupi aliran kali yang melewati permukiman warga.
Salah satu warga Agus Kristianto mengaku sejak banjir terakhir pada, Sabtu (6/12/2025) lalu, dirinya terpaksa mengungsi ke rumah kerabatnya. Baginya, mengungsi menjadi pilihan yang harus diambil .
“Sementara saya pindah di tempat saudara dahulu, banjir terus. Hewan ternak bapak masih di situ semua,” ujar Kristianto saat dikonfirmasi, Selasa (9/12).
Kristianto mengaku sudah tidak sanggup bertahan di rumahnya yang hampir setiap hari terendam banjir sejak longsoran sampah terjadi. Air lindi yang pekat dan berbau menyengat masuk ke dalam rumah, merusak perabotan serta barang-barang berharga yang ia miliki.
Kristianto yang sehari-hari bekerja sebagai pengrajin tempe terpaksa menghentikan usahanya. Bahan baku dan alat produksi yang selama ini menjadi sumber pendapatannya rusak akibat terendam air lindi.
“Berhenti dua hari produksi. Kerugian ya lumayan, puluhan juta,” katanya.
Usaha tempe yang telah ia rintis selama 11 tahun kini lumpuh total. Rumah yang dulunya menjadi tempat produksi sekaligus tempat tinggal, kini harus ia tinggalkan karena tak lagi aman dan sehat untuk ditempati. Ia mengaku hanya bisa menumpang di rumah saudara sambil menunggu kondisi membaik.
Kristianto berharap ada tanggung jawab dari pihak pengelola TPA Cipeucang dan pemerintah daerah atas kerugian yang dialaminya. Ia menilai kondisi ini bukan lagi persoalan teknis, tetapi sudah menyangkut keselamatan warga.
“Makanya siapa yang bertanggung jawab semuanya ini?,” ucapnya.
Sekretaris Dinas Lingkunga Hidup (DLH) Tangsel, Hadi Widodo sebelumnya menyampaikan bahwa langkah yang dilakukan pihaknya yakni memaksimalkan penataan dan perapihan.
“Sementara sampah yang ada kita maksimalkan untuk dirapikan dulu, termasuk saluran air yang ada kita buka jangan sampai jadi penyumbatan. Kita mungkin punya beberapa TPS3R ya, ini kita maksimalkan pengelolaannya, penggunaan insenerator,” pungkasnya. (*)

Discussion about this post