Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Krisis Hutan Ancaman Bagi Keberlanjutan Hidup Masyarakat

by Muhamad Wahyu
Desember 9, 2025
in KESRA
Krisis Hutan Ancaman Bagi Keberlanjutan Hidup Masyarakat

Sucia Lisdamara Yulmanda Taufik.

SERANG, BANPOS — Sedikitnya 200 ribu hektare kawasan hutan di Provinsi Banten saat ini berstatus kritis dan sangat kritis. Kondisi itu menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan hidup masyarakat.

Sorotan terhadap kondisi tersebut juga disampaikan Perempuan Iklim Banten 2025, Sucia Lisdamara Yulmanda Taufik. Menurut Sucia, kerusakan hutan berdampak langsung pada ketersediaan air, meningkatnya risiko bencana, dan terancamnya ketahanan pangan serta sumber daya alam. Ia juga menilai rusaknya hutan mengancam ruang hidup dan identitas masyarakat adat.

Baca Juga

Di Tengah Krisis Hutan, Pemprov Banten Usulkan Tambang Rakyat di Kawasan Konservasi

Di Tengah Krisis Hutan, Pemprov Banten Usulkan Tambang Rakyat di Kawasan Konservasi

Desember 11, 2025
Pegiat Lingkungan Bongkar Pemicu Krisis Hutan di Provinsi Banten

Pegiat Lingkungan Bongkar Pemicu Krisis Hutan di Provinsi Banten

Desember 11, 2025
Kawasan Hutan Kurang Pengawasan, DLHK Banten Kekurangan Personil

Kawasan Hutan Kurang Pengawasan, DLHK Banten Kekurangan Personil

Desember 10, 2025
Minim Sosialisasi Picu Hutan Makin Kritis di Banten

Minim Sosialisasi Picu Hutan Makin Kritis di Banten

Desember 10, 2025

“Sekitar 200 ribu hektare hutan di Banten, terutama di Lebak dan Pandeglang, kini dalam kondisi kritis. Ini bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi menyangkut masa depan masyarakat,” ujar Sucia, Senin (8/12).

Ia menegaskan bahwa rusaknya hutan juga mengikis ruang hidup masyarakat adat yang selama ini bergantung pada kelestarian hutan.

“Bagi masyarakat adat, hutan bukan hanya ruang ekologis, tetapi ruang budaya dan identitas. Jika hutannya hilang, maka hilang pula sebagian dari jati diri kami,” ujarnya.

Ia pun meminta pemerintah daerah menghentikan penerbitan izin yang berpotensi memperparah kerusakan hutan, memperkuat pengawasan lapangan, serta menjadikan restorasi hutan sebagai agenda utama kebijakan daerah.

Selain itu, Sucia juga mendorong masyarakat untuk mengambil bagian dalam upaya pemulihan, mulai dari menjaga mata air hingga menanam kembali tanaman lokal. Menurutnya, kearifan adat terbukti efektif menjaga hutan, dan kelompok perempuan serta pemuda memiliki peran strategis sebagai penjaga pengetahuan dan penggerak perubahan.

“Sementara itu, masyarakat perlu didorong untuk terlibat aktif dalam pemulihan kawasan kritis, menjaga mata air, menanam kembali tanaman-tamanan lokal, serta melestarikan nilai-nilai adat yang selama ini terbukti efektif melindungi hutan. Peran perempuan dan pemuda adat sangat penting, karena mereka adalah penjaga pengetahuan dan energi perubahan,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan hutan di Banten sudah berada pada tahap yang tidak bisa lagi diabaikan.

“Krisis hutan di Banten adalah peringatan serius. Jika tidak ditangani sekarang, dampaknya akan semakin berat bagi generasi mendatang. Hutan bukan hanya soal pohon, hutan adalah kehidupan,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan dan Kehutanan (DLH) Banten, Wawan Gunawan mengemukakan bahwa lahan hutan kritis di wilayah provinsi itu mencapai 200 ribu hektare. Sebaran terbesarnya ada di wilayah Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

“Kita berharap gerakan penanaman dan melestarikan pemulihan kembali lahan hutan kritis itu,” kata Kepala DLH Banten Wawan Gunawan, pekan lalu saat ditemui saat penutupan lubang pertambangan emas tanpa izin ( PETI) di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Lebak.

Kerusakan lahan hutan kritis di Banten seluas 200 ribu hektare tersebut terdiri atas kritis dan sangat kritis, di antaranya ada yang berada di kawasan hutan konservasi, juga ada di luar hutan produktif.(*)

Tags: Hutan KritisKrisis hutanPerempuan Iklim Banten 2025Sucia Lisdamara Yulmanda Taufik

Berita Terkait

Di Tengah Krisis Hutan, Pemprov Banten Usulkan Tambang Rakyat di Kawasan Konservasi
KESRA

Di Tengah Krisis Hutan, Pemprov Banten Usulkan Tambang Rakyat di Kawasan Konservasi

Desember 11, 2025
Pegiat Lingkungan Bongkar Pemicu Krisis Hutan di Provinsi Banten
KESRA

Pegiat Lingkungan Bongkar Pemicu Krisis Hutan di Provinsi Banten

Desember 11, 2025
Kawasan Hutan Kurang Pengawasan, DLHK Banten Kekurangan Personil
KESRA

Kawasan Hutan Kurang Pengawasan, DLHK Banten Kekurangan Personil

Desember 10, 2025
Minim Sosialisasi Picu Hutan Makin Kritis di Banten
KESRA

Minim Sosialisasi Picu Hutan Makin Kritis di Banten

Desember 10, 2025
Banyak Lahan Hutan Kritis, Ini Upaya Pemprov Banten Lakukan Reforestasi
PERISTIWA

Banyak Lahan Hutan Kritis, Ini Upaya Pemprov Banten Lakukan Reforestasi

Desember 8, 2025
Next Post
Pemkot Cilegon Perketat Syarat Izin Koperasi Simpan Pinjam

Pemkot Cilegon Perketat Syarat Izin Koperasi Simpan Pinjam

Discussion about this post

  • 315 Followers
  • 1.2k Subscribers
Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh