LEBAK, BANPOS – Para pedagang durian di kawasan adat Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidar, Kabupaten Lebak, mengeluh pasalnya musim durian tahun ini tidak seramai biasanya diakibatkan cuaca hujan yang lebat. Para pedagang mengaku jumlah durian matang jauh lebih sedikit dibanding musim sebelumnya, sehingga stok untuk warga dan wisatawan ikut menipis.
Salah satu pedagang, Ayah Edi, mengatakan durian Baduy bukan varietas komersial seperti yang umum dijual di perkebunan besar.
“Durian sini lokal, enggak ada jenis-jenisnya. Paling yang ukurannya besar disebut Kadu Lodong,” ujarnya, Minggu (7/12/2025).
Menurutnya, tingginya curah hujan menjadi penyebab utama penurunan produksi. Banyak pohon gagal berbunga dan berbuah, sehingga pasokan menurun dan harga meningkat.
“Durennya lagi sedikit soalnya kebanyakan hujan. Makanya harga agak tinggi,” katanya.
Meski stok berkurang, antusiasme pengunjung tetap tinggi. Banyak wisatawan memilih menikmati durian langsung di lokasi agar tidak mengganggu kenyamanan perjalanan.
“Katanya biar enggak bau di mobil juga,” ujarnya.
Permintaan durian Baduy bahkan masih datang dari luar daerah. Ayah Edi menyebut pembeli dari Jakarta, Bandung, hingga Tangerang kerap datang khusus untuk mencari durian khas wilayah adat tersebut.
Ia berharap pengunjung tetap menjaga keaslian dan kelestarian kawasan adat Baduy. Menurutnya, hasil alam seperti durian sangat bergantung pada cuaca dan siklus alamiah.Bagi pedagang dan wisatawan, musim panen yang tipis ini memang menimbulkan tekanan karena suplai menurun sementara permintaan tetap tinggi. Namun dari sisi lingkungan, kondisi ini dinilai memberi kesempatan bagi hutan dan tanaman durian untuk pulih secara alami.
Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, membenarkan penurunan produksi durian tahun ini.
“Karena hujan, jadi buahnya berkurang,” ujarnya. Meski demikian, jumlah pengunjung tetap meningkat. “Pengunjung dari berbagai daerah datang. Selain ada kegiatan lain, mereka sekalian menikmati durian Baduy,” katanya. (*)


Discussion about this post