Oleh: Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
AKHIR tahun selalu menjadi musim paling gelisah di birokrasi. Di banyak kantor pemerintahan Banten, ada kecemasan yang beredar tanpa suara: siapa yang dipromosikan, siapa yang dipindahkan, siapa yang terpinggirkan. Rotasi jabatan seharusnya menjadi mekanisme penyegaran kinerja, tetapi sering berubah menjadi drama politik loyalitas. Padahal kursi jabatan bukan hadiah keberpihakan, melainkan amanah rakyat.
Ada fenomena yang terus berulang: pejabat yang merasa nyaman karena kedekatan, bukan karena prestasi. Mereka percaya kursi akan tetap stabil jika hubungan personal terjaga. Padahal kursi yang paling mudah goyah adalah kursi yang tidak diduduki dengan integritas. Kekuasaan tanpa moral selalu mencari sandaran eksternal — dan ketika sandaran itu lepas, jatuhnya memalukan.
Ibn ‘Aṭā’illah al-Sakandarī dalam al-Ḥikam mengingatkan: “Siapa yang mengandalkan makhluk, ia akan letih; siapa yang mengandalkan kedudukan, ia akan kecewa; siapa yang mengandalkan Allah, ia tak akan goyah.” Hikmah ini terasa telak bagi birokrasi kita. Banyak pejabat terlalu sibuk mengamankan posisi, tetapi lupa mengamankan amanah. Mereka takut kehilangan jabatan, tapi tidak takut kehilangan kepercayaan rakyat.
Dalam tradisi administrasi modern, Machiavelli dalam The Prince mengungkap bahwa kekuasaan yang bertumpu pada loyalitas pribadi mudah runtuh, sedangkan kekuasaan yang bertumpu pada kinerja jauh lebih tahan. Machiavelli bukan mengajarkan kelicikan, melainkan memperingatkan bahwa stabilitas kekuasaan membutuhkan prestasi. Kepemimpinan yang hanya mengandalkan jaringan patronase adalah istana pasir — gagah dilihat dari luar, namun rapuh dihantam ombak kenyataan.
Rotasi akhir tahun di Banten seharusnya menjadi momentum untuk memperjelas arah moral kekuasaan: apakah jabatan diberikan untuk kerja atau untuk kedekatan? Apakah kursi diisi oleh orang yang berani mengatakan “tidak” demi kepentingan publik, atau oleh mereka yang pandai mengatakan “siap” meski kebijakan salah? Birokrasi akan kuat hanya jika jabatan ditempati oleh orang-orang yang mencintai pekerjaan, bukan kursi.
Krisis kepercayaan terjadi bukan karena pemerintah membuat kesalahan, tetapi karena pemerintah tidak jujur menilai dirinya sendiri. Indikator kinerja sering dimanipulasi menjadi sekadar formalitas. Ada pejabat yang mengelola program tanpa mengetahui apakah rakyat merasakan manfaatnya. Jabatan diperlakukan seperti kendaraan karier, bukan medan bakti. Di sinilah kursi mulai goyah — bukan karena rotasi, tetapi karena maknanya telah diperkecil menjadi simbol kuasa pribadi.
Jabatan publik seharusnya seperti api: ia menerangi, tetapi bisa membakar jika dipegang tanpa kehati-hatian. Integritas bukan sekadar atribut moral; ia adalah syarat stabilitas. Seorang pejabat yang bekerja dengan jujur, transparan, dan melayani tidak perlu menjadi penjilat untuk mempertahankan jabatan. Kinerjanya akan berbicara. Sebaliknya, mereka yang mengandalkan kedekatan politik akan selalu gelisah — hidup dalam ketakutan, bukan kepercayaan diri.
Kita perlu bertanya: jika jabatan berpindah tangan, apa yang akan ikut berpindah? Apakah hanya plang nama, ataukah kepercayaan rakyat? Jika publik tidak peduli siapa yang menjabat, itu tanda kinerja pejabat sebelumnya tak bermakna. Kursi yang stabil adalah kursi yang menyisakan jejak kebaikan; kursi yang goyah adalah kursi yang hanya meninggalkan foto dan piagam.
Sudah saatnya Banten mengembangkan budaya birokrasi yang matang: promosi berbasis etos kerja, bukan afiliasi; evaluasi berbasis dampak publik, bukan laporan formal; karier berbasis karakter, bukan lobi. Pejabat yang menjunjung nilai amanah tidak akan takut rotasi, karena ia bekerja untuk rakyat — bukan untuk kursi.
Jika akhir tahun ini ada kursi yang goyah, biarkan ia goyah karena etika ditegakkan. Lebih baik jabatan berganti daripada rakyat yang terabaikan. Kekuasaan yang dikembalikan kepada pelayannya bukan kehilangan, melainkan kemenangan moral bagi daerah ini. Karena Banten tidak membutuhkan pejabat yang pandai bertahan, tetapi pejabat yang berani melayani.(*)

Discussion about this post