Berbagai suara bisa diolah dari trompet sederhana, tentu dengan dimainkan oleh kelihaian jemari tangan. Itulah terompet khas buah tangan lima bersaudara. Mereka menyebutnya terompet ‘Tungkeb’. Produk rumahan dari Kampung Cikeusik Timur Desa Malingping Selatan, Malingping.
Oleh: Widodo Chudori
LEBAK, BANPOS – Ya, bunyi yang dihasilkan terompet itu seperti suara burung, termasuk berbagai binatang bisa ditiru oleh terompet buatan lima bersaudara itu, tentunya dengan kepiawaian memainkan jemari saat meniupnya. Bahkan suara bayi nangis menjerit jerit pun bisa ditiru nya, dan ini ikon khasnya. Sehingga kalau orang yang belum kenal dengan mainan terompet itu, pasti akan terkejut dan mencari sumber suara bayi menangis itu.
Yaitu keluarga Mak Miyah dan almarhum Subki, yang memiliki delapan orang anak, tujuh laki-laki dan satu perempuan. Dari delapan orang anaknya itu hanya lima yang aktif dalam olah karya rumahan, yakni membuat terompet. Mereka adalah Bahri, Sohari, Arif, Jefri dan Memed.
Adapun ide dasar dari membuat terompet jenis Tungkeb itu, bermula dari Sohari (39) yang sempat empat tahun berpetualang di Jakarta, yaitu sekitar Tahun 2005 lalu. Dengan keahlian yang ia dapat dari seorang teman, Sohari memulai membuat karya terompet Tungkeb.
Walaupun ia bersama tiga bersaudara itu tidak pernah tamat SD dan masih buta aksara hingga kini, namun keterampilannya dalam berkarya untuk menghidupi keluarganya sungguh luar biasa.
“ Keluarga kami berjumlah delapan bersaudara, ibu saya sudah tua dan untuk bisa makan saja sangat susah, hanya mengandalkan kami anak-anaknya,”terang Sohari.
Saat ini kelimanya terlihat tengah sibuk dengan barang yang sudah dibuatnya, katanya mereka akan berangkat ke Kota Medan, “Saat ini kami mau mencoba berdagang ke kota Medan, tapi disana katanya sedang musibah ya. Mungkin kita akan ke kota lain yaitu Surabaya. karena di sana belum di coba,“ ungkap Sohari. Sedangkan yang akan berangkat ke sana hanya berempat saja, ia bersama tiga adiknya, yaitu Memed, Arif dan Jefri. Sedangkan kakak kandungnya, Bahri (42) sudah punya lahan pasar tetap di sekitar Monas Jakarta.
Diketahui, terompet Tungkeb itu sebenarnya sangat sederhana, ukurannya 5 centimeter atau sepanjang kelingking orang dewasa.
Perlengkapan untuk bahan pembuatannya, yakni paralon dengan diagram 1,2 inchi, karet balon, sejenis bahan matras, lem, pipa penghubung paralon dan alat tiup. Barang-barang itu dibuat kecil-kecil, sehingga satu paralon ukuran panjang 2,5 meter bisa dijadikan 300 trompet.
Jika mereka satu kali berangkat, tidak kurang dari 50 ribu terompet yang bawa, dengan harga per buahnya rata-rata Rp 2500. “Kalau membeli dalam jumlah besar, misalnya seribu biji, harganya bisa dikorting, menjadi 1.500 rupiah per buah,“ papar Arif.
Menurut Arif, tidak menjadi soal hanya ngambil untung sedikit, yang penting cepat laku, dan biasanya barang dagangannya itu selalu laku atau ada yang borong. “Waktu jualan di Bali, kami membawa 50 ribu buah, sampai di sana ada yang memborong semua, ya akhirnya harga kami jatuhkan 1.500 rupiah per buah,“jelasnya lagi.
Bahkan pernah ada seorang pengusaha bule yang siap menampung hasil karyanya asal mampu membuat sejuta terompet dalam waktu sebulan, tapi saking polosnya, tawaran itu mereka tolak, “Waktu itu kami tolak, karena jumlah permintaannya terlalu banyak, saya takut tak bisa menyediakan, padahal si bule itu mau memberikan uang depe, dan saya tidak sempat minta alamat si bule itu,” papar Arif.
Adapun kota-kota yang pernah mereka disinggahi untuk berjualan trompetnya, yaitu, Bengkulu, Palembang, Bandung, Jogjakarta, Denpasar, Lombok, Kupang, Merauke, Makasar, Batam, Lombok, Aceh, Manado, Palu, Balikpapan, Banjarmasin, Pontianak, dan yang terakhir adalah Medan.
Untuk pasar di Jakarta, hanya untuk jualan hari Sabtu dan Minggu saja. Apalagi di sana mereka sudah menempatkan satu saudara kandungnya yang tertua bernama Bahri, ia khusus berjualan terompet buatannya di Jakarta, tepatnya di silang Monas.
Kendati dengan keterbatasan yang dimiliki, yakni buta huruf, namun untuk nominal mata uang dan menghitung manual ia faham,“ Saya dulu sekolah cuma sampai kelas tiga SD, lalu karena tidak punya biaya, akhirnya berhenti, dan sampai sekarang saya tidak bisa baca,” ungkap Sohari.
Menurutnya, diantara saudaranya itu yang mampu bisa baca tulis hanya adiknya yang bernama Arif, “Kalau si Arif dia bisa baca, karena sempat sekolah sampai lulus di madrasah ibtidaiyah. Jadi jika ada tulisan pesanan di WA, maka adiknya Arif yang ditugaskan membaca, ujar Sohari sambil tersenyum.
Begitupun kalau lihat telepon masuk atau mau ngirim uang ke istri di kampung ia sudah terbiasa, karena nomor rekening dan nomor telepon ia sudah hafal.
“Kalau ada telepon masuk, saya pasti tau itu siapa cukup dari nomornya. Kecuali orang baru. Kalau ngirim uang pake brilink saja cukup dan pasti nyampe,” ungkapnya.
Tambah Sohari lagi, dalam memilih daerah yang akan dijadikan operasi berdagang tidak tentu, tergantung dari kesepakatan atau tempat yang belum pernah mereka singgahi saja, namun kadang-kadang juga bertanya kepada rekan-rekannya di Jakarta. Dan untuk singgah berjualan di suatu kota paling lama tiga mingguan lebih, dan terompetnya rata-rata habis atau ada yang borong.
“Kami kalau datang ke satu kota pasti bertiga atau berempat. Membawa sekitar 50 ribu buah barang terompet jualan. Disana kami pertama cari tempat kontrakan kamar, lalu survey keramaian pasar. Setelah itu ya langsung kita jualan. Paling lama tiga mingguan lah. Jadi kalau barang habis uang terkumpul semua itu nyampe Rp100 juta lebih, tapi itu kotor,”ungkap Sohari.
Sekedar informasi, membuat terompet Tungkeb lima bersaudara itu tergantung jumlah. Kalau untuk 70 ribu buah terompet, itu bisa selesai dalam waktu 15 hari, digarap berlima. Jadi kalau barang mereka habis, mereka pulang kampung, dan belanja lagi untuk bahan baku terompet, dan berangkat lagi ke kota yang lain. Begitu dan begitu terus, namun karena tak ada skill baru yang mereka miliki sehingga tak ada inovasi, dari segi produk dan manajerial usaha. Hingga usaha mereka ini sudah bertahan hingga kini, 20 puluh tahun dan masih seperti itu.
Alhasil, di sinilah dibutuhkan peran serta bapak angkat atau pemerintah untuk memberikan dorongan terutama bantuan permodalan pada model usaha seperti ini. Sehingga omset puluhan juta rupiah per bulan itu bisa di menej dengan baik dan bisa mengubah pola bisnis ke arah yang lebih bonafit dan berdaya saing.(*)

Discussion about this post