JAKARTA, BANPOS – Pergerakan harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menjadi primadona ritel dalam sebulan terakhir kini mulai memancing tanda tanya besar di kalangan pelaku pasar modal.
Setelah reli panjang yang mengesankan, emiten pertambangan batu bara di bawah bendera Grup Bakrie dan Salim ini menutup perdagangan pekan pertama Desember 2025 dengan rapor merah.
Bagi investor muda di kota-kota besar yang memegang saham “sejuta umat” ini, volatilitas yang terjadi pada akhir pekan lalu menjadi sinyal kewaspadaan.
Pada perdagangan Jumat (5/12/2025), saham emiten pertambangan ini minus 1,65%.
Koreksi ini terjadi di tengah tingginya aktivitas transaksi yang mendominasi papan perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan, antusiasme pasar sebenarnya masih sangat tinggi terlihat dari volume yang masif.
Tercatat sejumlah 2,09 miliar saham Bumi Resources diperdagangkan, frekuensi 47.371 kali, dan nilai transaksi Rp498,97 miliar.
Namun, besarnya volume tersebut justru didominasi oleh tekanan jual, terutama dari pemodal asing yang mulai merealisasikan keuntungan mereka.
Data bursa mencatat investor asing mencatatkan net sell di saham berkode BUMI Rp61,72 miliar.
Alarm dari Broker Raksasa
Sorotan utama pelaku pasar tertuju pada aktivitas salah satu broker pelat merah terbesar, Mandiri Sekuritas.
Broker ini sebelumnya dikenal sebagai salah satu penggerak utama atau market maker yang rajin mengakumulasi saham BUMI saat harga merangkak naik.
Namun, peta kekuatan tampak berubah pada penutupan pekan lalu.
Broker Mandiri Sekuritas tercatat net sell Rp 47,7 miliar di saham ini.
Padahal broker ini rajin membukukan net buy di saham BUMI.
Perubahan posisi dari pembeli siaga menjadi penjual agresif ini tentu memicu spekulasi di kalangan trader harian maupun investor jangka menengah.
Jika ditarik mundur, akumulasi yang dilakukan broker ini sangat masif.
Dalam periode 5 November 2025 sampai 4 Desember 2025, Mandiri Sekuritas mencetak net buy Rp 770,6 miliar.
Angka akumulasi yang nyaris menyentuh satu triliun rupiah tersebut menjadi landasan kenaikan harga BUMI sebelumnya.
Dengan net sell-nya Mandiri Sekuritas kemarin, apakah ini menjadi tanda bahwa alarm saham BUMI mulai berbunyi?
Pertanyaan ini menjadi diskusi hangat di berbagai forum saham dan komunitas investasi milenial.
Aksi jual ini bisa diinterpretasikan sebagai langkah profit taking atau ambil untung yang wajar.
Setelah mengakumulasi di harga bawah, institusi besar cenderung melepas sebagian kepemilikan mereka secara bertahap ketika harga sudah naik signifikan untuk mengamankan margin keuntungan.
Bagi investor ritel, langkah institusi ini seringkali menjadi sinyal awal untuk turut waspada atau mengatur ulang strategi money management.
Analisis Teknikal: Potensi Koreksi Sehat?
Meskipun tekanan jual terlihat nyata dari sisi bandarmology, pandangan teknikal memberikan perspektif yang sedikit lebih tenang bagi para holder.
Tren utama saham ini dinilai belum patah sepenuhnya, melainkan sedang mencari pijakan harga baru yang lebih stabil setelah lonjakan ekstrem.
BRI Danareksa Sekuritas melihat pergerakan saham BUMI masih dalam tren yang bullish.
Dalam analisis teknikal, sebuah tren naik (uptrend) memang kerap diselingi oleh fase koreksi sementara sebelum harga melanjutkan kenaikan.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat posisi harga saat ini sudah cukup tinggi.
Akan tetapi memang harga nampaknya berpotensi untuk pullback di dekat level support pada 230-240.
Level ini menjadi area krusial yang harus diperhatikan oleh para pedagang saham.
Jika harga mampu bertahan di area 230-240, maka skenario rebound atau pemantulan harga ke atas sangat mungkin terjadi.
Sebaliknya, jika level support tersebut ditembus ke bawah, maka risiko penurunan lebih lanjut akan terbuka lebar.
Penting untuk melihat konteks pergerakan harga secara lebih luas.
Volatilitas tinggi ini tidak terlepas dari performa BUMI yang luar biasa dalam jangka pendek.
Saham emiten Grup Bakrie dan Salim (BUMI) sendiri masih melambung 70% dalam periode satu bulan terakhir.
Kenaikan setinggi ini secara alamiah akan mengundang aksi jual dari pihak-pihak yang sudah mendapatkan cuan besar, sehingga koreksi harga seperti yang terjadi pada Jumat lalu adalah mekanisme pasar yang wajar untuk mendinginkan indikator yang sudah jenuh beli (overbought). (*)

Discussion about this post