JAKARTA, BANPOS – Indonesia resmi menerima Sertifikat Warisan Budaya Takbenda UNESCO untuk tiga elemen budaya: Kebaya, Kolintang, dan Reog Ponorogo. Sertifikat tersebut diserahkan Kementerian Luar Negeri kepada Kementerian Kebudayaan dalam acara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa (2/12).
Acara penyerahan dihadiri perwakilan negara-negara ASEAN dan Afrika, kementerian/lembaga terkait, komunitas budaya, akademisi, serta mitra diplomasi internasional.
Penetapan tiga budaya ini merupakan hasil Sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage yang berlangsung di Asunción, Paraguay, pada 3–5 Desember 2024.
Kebaya ditetapkan dalam Representative List melalui nominasi multinasional bersama Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Kolintang masuk daftar yang sama melalui perluasan nominasi bersama Mali, Burkina Faso, dan Pantai Gading. Sementara itu, Reog Ponorogo masuk kategori Urgent Safeguarding List karena memerlukan perlindungan yang lebih mendesak.
Sertifikat asli yang sebelumnya disimpan Kementerian Luar Negeri kini akan diarsipkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Salinan sertifikat juga diserahkan kepada pemerintah daerah dan komunitas pelestari.
Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, menegaskan bahwa pengakuan UNESCO bukan sekadar kehormatan, melainkan juga tanggung jawab besar.
“Penetapan UNESCO ini adalah pengakuan dunia yang menggembirakan dan menguatkan komitmen kita agar warisan budaya Indonesia terus hidup,” ujar Endah.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan partisipasi masyarakat. Endah menjelaskan, status UNESCO untuk Kebaya memperkuat identitas perempuan Asia Tenggara; penetapan Kolintang membuka ruang diplomasi budaya dengan negara-negara Afrika; sementara Reog Ponorogo menjadi prioritas pelestarian karena masuk daftar mendesak.
Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Multilateral Kementerian Luar Negeri, Tri Tharyat, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.
“Pengakuan UNESCO ini strategis untuk memperkuat karakter bangsa dan melibatkan generasi muda dalam pelestarian budaya,” katanya.
Acara penyerahan sertifikat turut dimeriahkan pertunjukan Reog Ponorogo, musik Kolintang, serta peragaan busana kebaya dari berbagai daerah, termasuk Kebaya Encim, Kutubaru, Kartini, hingga Kebaya Bali.
Sejumlah pejabat hadir dalam acara tersebut, antara lain Kepala ANRI Mego Pinandito, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, dan Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita.
Penyerahan sertifikat ini menandai komitmen negara untuk memperkuat pelestarian, pendidikan, inovasi, serta pemberdayaan komunitas agar warisan budaya tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. (*)











Discussion about this post