LEBAK, BANPOS — Puluhan lubang tambang emas ilegal di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), disegel Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Sayangnya, info soal operasi itu bocor sehingga tim Satgas PKH tak menemukan penambang ilegal di Lokasi penertiban.
Meski berhasil menutup puluhan pertambangan tanpa ijin (PETI) di Kawasan TNGHS, tepatnya di Kampung Cirotan, Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Satgas PKH dari KLH tak menemukan penambang di Lokasi penertiban. Petugas hanya menemukan tambang-tambang kosong yang ditinggalkan begitu saja.
Pegiat lingkungan di Lebak, Sutisna Dharma Wijaya, menilai operasi Satgas PKH tidak efektif. Karena informasi soal operasi sudah terlebih dahulu bocor sebelum berlangsung.
“Rencana operasi sudah menggaung sejak minggu kemarin di grup WhatsApp. Akhirnya mereka hanya menemukan lubang PETI yang sudah tak berpenghuni. Satgas hanya bisa mendata,” ujarnya.
Ia menyebut praktik pertambangan ilegal di kawasan Cibeber sudah berlangsung masif dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemilik lubang, pemasok bahan kimia berbahaya seperti merkuri, pengusaha gelundung, hingga gurandil. Bahkan, menurutnya, ada oknum pejabat yang turut memodali kegiatan ilegal tersebut.
Seorang gurandil berinisial J juga mengaku sudah mengetahui rencana operasi jauh hari sebelumnya. “Kita sudah dikasih tahu bos duluan kapan operasi. Jadi dua tiga hari ini kita istirahat, tidak melobang. Alhamdulillah aman,” katanya sambil tersenyum.
Sementara, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dwi Januanto Nugroho, mengatakan pihaknya berkomitmen menindak tegas praktik PETI demi keberlanjutan ekologi, ekonomi, dan sosial masyarakat. Selain karena dianggap ilegal, penyegelan yang dilakukan di TNGHS itu dilakukan dalam rangka mengembalikan pelestarian kawasan hutan konservasi di sekitar wilayah TNGHS.
“Kami terus berkomitmen meneruskan kegiatan penertiban kawasan hutan untuk kelestarian keberlanjutan baik secara ekologis, ekonomis, maupun tatanan sosial budaya,” ujarnya, Rabu (3/12).(*)

Discussion about this post