PANDEGLANG, BANPOS – Di balik lebatnya pepohonan dan terpencilnya perkampungan di wilayah selatan Kabupaten Pandeglang, terdapat sebuah kisah yang menggugah nurani tentang keteguhan hati seorang pendidik.
Namanya Armani. Sosok sederhana ini menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat Kampung Batu Payung, Desa Sorongan, Kecamatan Cibaliung, tempat ia mengabdi lebih dari separuh hidupnya sebagai guru.
Sudah 17 tahun Armani menapaki rutinitas yang bagi banyak orang mungkin terasa mustahil.
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, ia menghidupkan sepeda motornya lalu memulai perjalanan sejauh 17 kilometer menuju SDN Sorongan 2 kelas jauh (filial).
Jalan yang ia lalui bukan jalan biasa. Berbatu, licin, dan di musim hujan sering berubah menjadi jalur lumpur yang bisa menahan laju roda.
Di tengah perjalanan, dua sungai harus ia seberangi. Satu sungai tanpa jembatan, satu lagi dengan jembatan bambu yang dibangun secara swadaya oleh warga—rapuh, tetapi menjadi satu-satunya harapan untuk bisa melintas.
Namun bagi Armani, tantangan-tantangan itu tidak pernah menjadi alasan untuk menyerah.
“Saya sebagai pendidik di sini masih tetap bertahan sampai saat ini, dari tahun 2008. Karena saya melihat semangat anak-anak yang terus ingin belajar dan juga dukungan orang tua,” ujarnya.
SDN Sorongan 2 kelas jauh bukanlah sekolah dengan ruang-ruang lengkap atau fasilitas yang layak.
Sekolah itu hanya memiliki satu ruang kelas, yang menampung 23 murid dari kelas 1 hingga kelas 6, semuanya belajar bersama dalam satu ruangan sederhana.
Di dalam kelas itu, sejumlah meja telah rapuh dimakan usia. Papan tulis retak. Buku pelajaran sangat terbatas. Sebagian besar lantainya pun sudah kehilangan keramik.
Meski begitu, tak ada murid yang mengeluh. Tidak pula guru yang patah semangat.
Hampir setiap hari, 99 persen murid hadir. Bahkan, beberapa murid sering membawa minuman atau makanan untuk Armani.
“Mungkin mereka tahu kalau saya sudah berjalan jauh,” ucapnya dengan senyum kecil.
Pada momentum Hari Guru Nasional, Armani menyampaikan pesan untuk rekan-rekan pendidik di seluruh penjuru negeri.
“Sekalipun mungkin di luar sana banyak ratusan atau bahkan ribuan guru yang mengajar seperti saya, namun jangan pernah patah semangat dan terus berbakti untuk negeri ini,” katanya penuh harap.
Para murid pun menyimpan kekaguman mendalam kepada sosok yang mereka panggil Pak Guru. Salah satunya, Muhamad Fahmi, yang tetap bersemangat meski sekolahnya jauh dari kata layak.
“Buat Pak Guru, agar selalu sehat, selalu kuat, dan tetap semangat mengajarnya,” ucapnya singkat.
Kisah Armani bukan hanya tentang seorang guru yang menempuh perjalanan berat setiap hari. Bukan pula sekadar cerita tentang sekolah yang kekurangan fasilitas.
Ini adalah tentang makna sejati pendidikan. Tentang seorang guru yang percaya bahwa kemajuan tidak hanya ditentukan oleh gedung besar atau teknologi canggih, tetapi oleh hati, komitmen, dan keihklasan.
Di tengah keterbatasan, Armani menunjukkan bahwa harapan bisa tumbuh di mana pun, bahkan di ruang kelas tua yang berdiri di pelosok desa. Dan selama ada guru seperti Armani, mimpi anak-anak pedalaman akan selalu menemukan jalan untuk tumbuh.(*)

Discussion about this post