Oleh: Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Desember selalu mengajukan pertanyaan yang tak bisa dihindari: tahun seperti apa yang sudah kita bangun?
Bagi Provinsi Banten, 2025 bukan sekadar kalender politik atau laporan pembangunan. Ia adalah cermin dari keputusan demi keputusan yang diambil pemerintah sepanjang tahun. Infrastruktur telah dibangun, berbagai program diluncurkan, rapat dan seremonial tak terhitung. Namun pertanyaan yang paling menentukan tetap sama: apakah masyarakat benar-benar merasakan perubahan dalam hidupnya?
Di banyak kesempatan, pemerintah wilayah lebih sibuk merayakan capaian administratif dibanding mengukur dampak bagi rakyat. Laporan kinerja tersusun rapi, grafik kenaikan disajikan, target serapan anggaran dibanggakan. Tapi apakah grafik itu berbanding lurus dengan kesejahteraan warga kecil? Tahun yang baik tidak diukur dari angka serapan, tetapi dari berapa banyak keluarga yang tersenyum karena beban hidupnya berkurang. Itulah esensi pembangunan yang sering hilang.
Al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn mengingatkan bahwa waktu adalah bagian dari hidup, bahkan definisi hidup itu sendiri: waqtuka ʿumruka — waktu yang berlalu adalah umur yang hilang. Karena itu, setiap perjalanan tahun harus ditimbang dengan satu pertanyaan sederhana namun mendasar: adakah perbaikan moral dan sosial yang bisa dipertanggungjawabkan? Jika tidak, maka setahun itu hilang tanpa makna, meski dipenuhi proyek dan upacara.
Charles Taylor dalam The Ethics of Authenticity menyoroti bagaimana masyarakat modern sering terjebak pada pencapaian teknis tanpa keaslian — mengejar keberhasilan yang tampak luar, tapi kehilangan inti kemanusiaannya. Kritik itu tepat bagi birokrasi kita: kita ahli dalam membangun citra, namun masih lemah dalam membangun kepekaan. Kita pandai mencatat, tapi belum sungguh-sungguh mendengar. Jika pembangunan terlepas dari rasa kemanusiaan, ia hanya menjadi aktivitas teknokratik yang kering.
Hamka dalam Falsafah Hidup menulis bahwa keberhasilan sejati bukan yang membuat kita tampak besar di hadapan manusia, tetapi yang membuat kita semakin takut mengecewakan Tuhan. Sebuah pemerintahan yang memiliki rasa takut semacam itu tidak mudah tergoda berbangga diri. Ia memilih merendah, meninjau ulang kesalahan, dan memperbaiki diri tanpa harus ditegur dulu oleh rakyat. Keberanian moral seperti inilah yang sangat dibutuhkan Banten.
Akhir tahun adalah momentum untuk jujur. Apakah pembangunan di 2025 benar-benar mengurangi kemiskinan? Apakah layanan kesehatan semakin mudah dijangkau rakyat kecil? Apakah distrik selatan Banten mulai mengecap pemerataan? Apakah sekolah-sekolah jauh dari kota mendapat perhatian, bukan sisa anggaran? Jika jawaban-jawaban itu masih menggantung, maka kita belum sedang membangun — kita hanya sedang mencatat pekerjaan.
Sering kali kita bicara seolah tahun akan memperbaiki segala sesuatu. Padahal bukan tahun yang menciptakan perubahan, melainkan manusia. Bukan Januari yang menentukan arah 2026, tetapi keberanian menata kembali nurani kekuasaan sejak hari ini. Pembangunan adalah hasil dari jiwa yang memutuskan untuk adil, bukan sekadar rapat yang memutuskan angka.
Karena itu, Desember harus menjadi bulan muhasabah, bukan pesta keberhasilan. Pemerintah Provinsi Banten perlu melihat bukan hanya apa yang telah dikerjakan, tetapi apa yang masih gagal dilakukan. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan, mereka hanya ingin pemerintah hadir secara nyata, mendengar secara tulus, dan bertindak dengan keberpihakan. Setiap kebijakan yang membuat hidup rakyat lebih mudah adalah kemenangan moral yang lebih besar daripada peresmian apa pun.
Kita sering menunggu tahun berubah agar keadaan berubah. Tetapi perubahan hanya terjadi ketika kekuasaan mengakui bahwa pembangunan bukan soal bangunan yang berdiri, tetapi martabat rakyat yang terjaga. Maka 2026 tidak akan lebih baik hanya karena kalender berganti. Ia hanya akan lebih baik jika para pemegang kekuasaan berani berkata dalam hati: “Kami ingin membangun dengan kejujuran, dengan rasa, dengan nurani.”
Tahun yang kita ciptakan bukan ditentukan oleh apa yang kita tulis di laporan, tetapi oleh apa yang rakyat rasakan dalam hidup sehari-hari. Jika Banten mampu mengembalikan pusat pembangunan dari citra menuju nurani, dari angka menuju manusia, maka kita tidak hanya sedang membangun provinsi — kita sedang membangun peradaban.(*)

Discussion about this post