CILEGON, BANPOS – Di tengah gempuran arus informasi digital dan tren global yang kian masif, kekhawatiran mengenai lunturnya identitas lokal di kalangan anak muda menjadi isu yang mendesak.
Menjawab tantangan tersebut, komunitas Gen Cilegon mengambil langkah progresif dengan menyerukan revitalisasi pemahaman sejarah lokal, khususnya mengenai perjuangan tokoh sentral Banten, Ki Wasyid.
Momentum ini mencuat dalam acara bincang-bincang bertajuk “Ngababad Tanah Baja” yang diselenggarakan oleh CJ Sipeung, Sabtu malam lalu.
Acara ini bukan sekadar diskusi sejarah biasa, melainkan menjadi panggung bagi Generasi Z untuk bersuara lantang mengenai pentingnya akar budaya.
Hadir mewakili Gen Cilegon, tiga pemuda inspiratif yakni Kalipha Umara Aruma, Davyndra Pasha Satriatama, dan Muhammad Furqon, tampil sebagai representasi generasi masa kini yang menolak lupa pada sejarah tanah kelahirannya.
Diskusi yang berlangsung hangat tersebut semakin berbobot dengan kehadiran K.H. Asep, tokoh keluarga dari Ki Wasyid.
Kehadirannya memberikan legitimasi dan kedalaman emosional pada pembahasan, di mana K.H. Asep menuturkan secara langsung kisah heroik, keteguhan hati, dan nilai pengabdian tanpa pamrih yang diwariskan oleh Ki Wasyid.
Narasi ini menjadi jembatan penting yang menghubungkan masa lalu yang penuh perjuangan dengan masa kini yang penuh tantangan modernitas.
Dalam forum tersebut, perwakilan Gen Cilegon menyoroti sebuah fenomena yang cukup meresahkan, yakni tingginya tingkat keapatisan Generasi Z terhadap sejarah lokal.
Kemudahan akses terhadap budaya pop global seringkali membuat kisah-kisah perjuangan daerah sendiri terpinggirkan dan dianggap usang.
Padahal, nilai-nilai keberanian yang ditunjukkan Ki Wasyid sangat relevan untuk diadopsi sebagai karakter pemuda masa kini.
Menanggapi realitas tersebut, Kalipha Umara Aruma menekankan bahwa sejarah tidak boleh hanya dipandang sebagai hafalan tahun dan nama, melainkan sebagai kompas moral.
Dalam pemaparannya, ia memberikan pandangan tajam mengenai urgensi konektivitas antara masa lalu dan masa kini.
“Belajar dari Ki Wasyid bukan hanya mempelajari masa lalu, tetapi juga memahami nilai perjuangan yang bisa kita terapkan hari ini. Identitas daerah itu penting, dan sejarah adalah fondasinya,” tegas Kalipha di hadapan para peserta diskusi.
Pernyataan tersebut menjadi landasan bagi Gen Cilegon untuk melontarkan gagasan-gagasan konkret kepada pemangku kebijakan.
Davyndra Pasha Satriatama dan Muhammad Furqon, yang turut mendampingi Kalipha, menyampaikan aspirasi agar pemerintah dan lembaga pendidikan tidak menutup mata.
Mereka mendesak agar narasi sejarah lokal, khususnya Perjuangan Geger Cilegon dan ketokohan Ki Wasyid, mendapatkan porsi yang lebih besar dan substansial dalam kurikulum sekolah.
Hal ini dinilai krusial agar generasi penerus memiliki fondasi identitas yang kokoh dan tidak mudah terombang-ambing oleh budaya asing.
Tak berhenti pada ranah akademis, Gen Cilegon juga menyodorkan usulan fisik yang strategis.
Mereka mendorong pemerintah daerah untuk membangun sebuah museum representatif di kawasan Tugu Geger Cilegon.
Lokasi ini dinilai memiliki nilai historis dan emosional yang tinggi sebagai saksi bisu perjuangan Ki Wasyid.
Pembangunan museum ini diharapkan bukan sekadar menjadi monumen mati, melainkan bertransformasi menjadi ruang publik yang interaktif dan sarana edukasi yang hidup bagi pelajar maupun masyarakat umum.
Dengan adanya museum, warisan sejarah tidak akan hilang ditelan zaman, melainkan terus lestari dan dapat dipelajari secara visual dan naratif oleh generasi mendatang.
Langkah inisiatif yang diambil oleh Gen Cilegon melalui acara “Ngababad Tanah Baja” ini diharapkan menjadi pemantik kolaborasi yang lebih luas.
Sinergi antara komunitas kreatif, pemerintah daerah, dan institusi pendidikan menjadi kunci utama dalam merawat ingatan kolektif masyarakat Cilegon.
Semangat ini membuktikan bahwa anak muda Cilegon siap menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah dan sejarah daerahnya. (*)



Discussion about this post