JAKARTA, BANPOS – Memasuki bulan terakhir di tahun 2025, para pelaku pasar modal di Indonesia dihadapkan pada dua sisi mata uang yang berbeda.
Di satu sisi, ada peringatan teknikal mengenai potensi koreksi jangka pendek, namun di sisi lain, aroma keuntungan dari fenomena tahunan Window Dressing mulai tercium kuat.
Bagi investor ritel maupun institusi, perdagangan pekan depan periode 1-5 Desember 2025 menjadi momen krusial untuk mengatur ulang portofolio.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan menghadapi tekanan jual dan berkutat di zona merah pada awal pekan.
Analisis terbaru dari BRI Danareksa Sekuritas menyoroti kondisi pasar yang secara teknikal sudah memasuki fase jenuh beli atau overbought.
Kondisi overbought ini terdeteksi melalui indikator stochastic dan bollinger bands, yang seringkali menjadi sinyal awal bagi para trader untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking).
Hal ini wajar terjadi setelah serangkaian penguatan, namun tetap menuntut kewaspadaan tinggi bagi mereka yang ingin masuk ke pasar dalam waktu dekat.
Dalam riset publikasinya, BRI Danareksa memberikan peringatan spesifik mengenai level-level yang harus diperhatikan agar investor tidak terjebak dalam penurunan harga yang tajam.
“Waspadai potensi koreksi dengan level middle band di 8.409 dan lower band di 8.225,” tulis BRI Danareksa dalam risetnya, Minggu (30/11).
Meskipun bayang-bayang koreksi menghantui di awal pekan, tren besar IHSG sebenarnya masih berada dalam jalur positif.
BRI Danareksa menilai bahwa secara tren jangka menengah, IHSG masih mengalami fase bullish yang terjaga di atas garis rata-rata pergerakan 60 hari (MA60).
Selama pergerakan harga indeks masih mampu bertahan di atas level support krusialnya pada rentang 8.350 hingga 8.450, harapan untuk penguatan lanjutan masih sangat terbuka.
Jika level pertahanan ini kuat, IHSG memiliki potensi untuk menguji level resistance berikutnya di angka 8.552 hingga 8.610.
Desember Bulan Paling Bullish: Peluang Cuan Tahunan
Kabar baik bagi para investor muda dan pemburu cuan akhir tahun, data historis berpihak pada kenaikan pasar.
Desember dikenal sebagai bulan yang “ramah” bagi pasar saham Indonesia.
Berdasarkan data satu dekade terakhir yang dihimpun oleh BRI Danareksa, IHSG mencatatkan probabilitas kenaikan sebesar 80 persen di bulan Desember.
Statistik ini menjadikan Desember sebagai salah satu bulan paling bullish dalam kalender bursa.
Fenomena ini tidak lepas dari upaya manajer investasi mempercantik kinerja portofolio mereka jelang tutup buku, serta sentimen positif liburan akhir tahun.
“Momentum window dressing, santa claus rally dan arus dana akhir tahun biasanya mendorong performa positif pasar,” tulis BRI Danareksa.
Bagi investor yang menyukai strategi berbasis musiman (seasonality), sejarah mencatat beberapa emiten papan atas (Big Caps) kerap menjadi motor penggerak utama.
Dalam 10 tahun terakhir, saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) memiliki probabilitas kenaikan hingga 80 persen di bulan ini.
Minat beli yang konsisten pada saham-saham blue chip tersebut menjelang penutupan tahun seringkali menjadi katalis utama yang mengangkat indeks, meskipun ada tekanan eksternal.
“Dengan kombinasi probabilitas IHSG yang tinggi dan reliabilitas saham-saham tersebut, Desember menjadi periode yang menarik untuk strategi trading berbasis seasonality,” tulis BRI Danareksa.
Rekomendasi Saham Pilihan Pekan Depan
Di tengah tarik-menarik antara potensi koreksi awal pekan dan peluang reli akhir tahun, pemilihan saham yang selektif menjadi kunci.
BRI Danareksa merilis sejumlah rekomendasi saham lapis kedua dan ketiga yang memiliki pola teknikal menarik untuk dipantau pada perdagangan 1-5 Desember 2025.
Tiga saham yang menjadi sorotan adalah WIFI, IMPC, dan DEWA.
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
Saham emiten teknologi dan infrastruktur digital ini dinilai masih berada dalam tren penguatan.
Secara teknikal, harga WIFI sedang melakukan pullback atau koreksi wajar di atas level support 3.460 – 3.610.
Ini bisa menjadi titik masuk yang menarik bagi trader yang mengincar pantulan harga, dengan target penguatan dipatok di level 3.950 hingga 4.190.
PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
Pergerakan saham produsen bahan bangunan berbahan plastik ini membentuk pola yang sangat disukai oleh analis teknikal, yaitu cup and handle pattern.
Pola ini biasanya mengindikasikan kelanjutan tren naik yang kuat.
BRI Danareksa mencatat neckline berada di area 2.850 – 2.970.
Jika berhasil bertahan, target penguatan IMPC berada di kisaran 3.310 – 3.520.
PT Darma Henwa (DEWA)
Saham kontraktor pertambangan yang terafiliasi dengan Grup Bakrie ini juga masuk dalam radar pantauan.
Analisis menunjukkan bahwa saham DEWA masih memiliki struktur harga bullish dan bergerak nyaman di atas level support fibonacci-nya di kisaran 386 – 410.
“Selama berada di atas support tersebut, terdapat potensi penguatan menuju resistancenya di 446 – 488,” tulis BRI Danareksa. (*)

Discussion about this post