SERANG, BANPOS – Sejarah mencatat Banten pernah menjadi salah satu titik paling kosmopolitan di muka bumi. Di bawah kepemimpinan visioner Sultan Maulana Hasanuddin, wilayah yang semula merupakan kadipaten kecil bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi raksasa yang disegani oleh pedagang lintas benua.
Bagi generasi muda masa kini, kisah pendiri Kesultanan Banten ini menawarkan pelajaran berharga tentang diplomasi damai, visi geopolitik, dan manajemen ekonomi yang melampaui zamannya.
Sultan Maulana Hasanuddin, atau yang dikenal dengan gelar Pangeran Sabakingkin (Seda Kinkin), bukan hanya seorang penyebar agama Islam, melainkan arsitek peradaban.
Berdasarkan literatur The Sultanate of Banten (1990) karya Hasan Muarif Ambary dan Jacques Dumarçay, legitimasi kepemimpinannya mengalir dari darah biru dua entitas besar.
Ia adalah putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, penguasa Cirebon sekaligus anggota Wali Songo, dan Nyi Kawunganten, putri dari Prabu Surosowan, penguasa Banten Girang terdahulu.
Transisi Kekuasaan Tanpa Pertumpahan Darah
Salah satu momen paling epik dalam sejarah berdirinya Kesultanan Banten adalah bagaimana transisi kekuasaan terjadi tanpa perang saudara yang menghancurkan. Ketika Prabu Surosowan wafat, tampuk kepemimpinan sempat dipegang oleh Pangeran Arya Surajaya atau Prabu Pucuk Umun, paman dari Maulana Hasanuddin yang masih memegang teguh ajaran Sunda Wiwitan.
Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2012) mencatat dinamika menarik ketika Sunan Gunung Jati memberikan mandat kepada putranya untuk meluaskan syiar Islam ke Banten. Misi ini tentu mendapatkan resistensi dari Prabu Pucuk Umun.
Namun, alih-alih mengerahkan pasukan militer yang berpotensi menyengsarakan rakyat, kedua pemimpin ini memilih jalan ksatria yang unik.
Penyelesaian konflik dilakukan melalui musyawarah yang berujung pada kesepakatan pertarungan representatif, yakni sabung ayam atau adu ayam jago. Dilansir dari laman Dinas Pariwisata Provinsi Banten, strategi diplomasi budaya ini dimenangkan oleh Maulana Hasanuddin.
Prabu Pucuk Umun yang berjiwa besar mengakui kekalahannya secara jantan. Ia menyerahkan golok dan tombak sebagai simbol penyerahan kekuasaan. Peristiwa ini menandai lahirnya era baru Banten di bawah panji Islam tanpa menyisakan dendam pertumpahan darah yang berkepanjangan.
Visi Ekonomi: Menguasai Jalur Rempah
Setelah resmi memimpin pada periode 1552-1570, Sultan Maulana Hasanuddin tidak menyia-nyiakan waktu. Ia sadar betul bahwa Banten memiliki aset geostrategis yang tak ternilai: Selat Sunda. Dalam tesis Ani Hayah (2016), terungkap bahwa Sultan menerapkan kombinasi kebijakan pertanian, fiskal, dan moneter yang progresif.
Sultan Maulana Hasanuddin menjadikan lada sebagai “emas hitam” yang menopang perekonomian negara. Tidak hanya mengandalkan produksi lokal, ia menjadikan pelabuhan Banten sebagai hub internasional. Sebagaimana diulas oleh Ira Juhairannisa dan Munawarah dalam artikel jurnal Muqaddimah (Vol. 3, No. 1, 2025), komoditas rempah seperti pala dan cengkeh menarik minat bangsa-bangsa besar.
Pada masa keemasannya, pelabuhan Banten penuh sesak oleh kapal-kapal dagang dari Portugis, Belanda, Spanyol, Inggris, hingga pedagang Timur asing dari Tiongkok, Arab, dan India. Kebijakan “pintu terbuka” namun tetap berdaulat ini membuat Banten mengalami surplus ekonomi yang luar biasa, memungkinkan pembangunan infrastruktur keraton dan fasilitas publik yang megah.
Jejak Abadi di Banten Lama
Kepemimpinan gemilang Sultan Maulana Hasanuddin berakhir saat ia wafat pada tahun 1570. Namun, warisannya tetap hidup dan menjadi pusat spiritualitas hingga hari ini. Riset Muslimah dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat (2017) berjudul “Sejarah Masuknya Islam dan Pendidikan Islam Masa Kerajaan Banten Periode 1552-1935” mengonfirmasi peran sentralnya dalam fondasi pendidikan Islam di tanah jawara.
Kini, jejak sang pendiri dapat ditemui di kompleks pemakaman Kesultanan Banten, tepatnya di sisi utara Masjid Agung Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Ribuan peziarah dari berbagai penjuru Nusantara rutin datang, bukan hanya untuk mendoakan, tetapi juga untuk mengenang sosok pemimpin yang berhasil memadukan kekuatan spiritual dan kecerdasan strategi demi kesejahteraan rakyatnya.
Kompleks Banten Lama menjadi saksi bisu bagaimana visi seorang Maulana Hasanuddin pernah membawa Banten berdiri sejajar dengan kota-kota pelabuhan besar dunia. (*)

Discussion about this post