SERANG, BANPOS – Aktivis perempuan Banten yang juga pegiat LPLPP PATTIRO Banten, Siti Aisya atau akrab disapa Aca, menyoroti keras lonjakan kasus kekerasan anak di Banten sepanjang 2020–2025.
Bertepatan dengan Peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Internasional, ia menyebut tren tersebut sebagai “darurat perlindungan” yang harus segera dijawab oleh pemerintah.
Berdasarkan data yang dihimpun sepanjang enam tahun terakhir, kekerasan terhadap anak di Banten terus meningkat, dengan puncak tertinggi pada 2025. Lingkungan rumah menjadi lokasi paling rawan.
Tahun ini saja, tercatat 745 kasus kekerasan anak terjadi di rumah tangga, sementara korban yang tercatat mencapai 802 anak.
“Angka ini bukan sekadar statistik, tapi wajah nyata buruknya keamanan anak di rumah mereka sendiri,” ujar Aca kepada BANPOS, Kamis (27/11).
Tak hanya itu, sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman turut menjadi tempat terjadinya kekerasan.
Sepanjang 2025, terdapat 48 kasus yang terjadi di lingkungan sekolah, sementara pelaku terbanyak didominasi orang terdekat: 140 pelaku adalah orang tua, 42 pelaku adalah keluarga, dan 187 merupakan pacar atau teman anak.
Aca menilai situasi ini berkaitan erat dengan budaya yang masih menempatkan perempuan dan anak pada posisi rentan.
“Di hari peringatan anti kekerasan terhadap perempuan ini, kita harus jujur bahwa kekerasan terhadap anak adalah bagian yang tak terpisahkan dari kekerasan terhadap perempuan,” tegasnya.
Menurutnya, banyak kasus terhadap anak muncul dari rumah tangga yang tidak sehat, relasi kuasa yang timpang, serta minimnya literasi pengasuhan tanpa kekerasan.
Kelompok usia remaja menjadi yang paling banyak menjadi korban. Data 2025 menunjukkan 406 korban berusia 13–17 tahun, disusul usia 6–12 tahun dengan 342 korban.
Dari aspek pendidikan, anak tingkat SD paling banyak menjadi korban dengan 438 kasus.
Aca menilai pemerintah daerah perlu mengambil langkah cepat.
“Pemprov dan kabupaten/kota harus menguatkan layanan pengaduan, pendampingan, dan edukasi berbasis keluarga. Tidak boleh lagi ada anak atau perempuan yang kesulitan mengakses bantuan hanya karena birokrasi panjang,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya peningkatan pengawasan di sekolah, pelatihan guru terkait pencegahan kekerasan, serta kampanye besar-besaran tentang pengasuhan aman.
“Kita tidak bisa hanya mengutuk. Pendidikan masyarakat harus masif. Ini soal menyelamatkan generasi,” paparnya.
Aca menyebut, momentum Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Internasional harus menjadi titik balik perubahan kebijakan.
“Jika kita gagal menjadikan momen ini sebagai alarm, maka kita sedang membiarkan kekerasan berulang. Anak-anak dan perempuan Banten butuh perlindungan, sekarang, bukan besok,” tandasnya. (*)

Discussion about this post