JAKARTA, BANPOS – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Selasa (25/11), menunjukkan dinamika pasar yang cukup kontras.
Di tengah tingginya likuiditas pasar dengan nilai transaksi yang fantastis, indeks komposit justru gagal mempertahankan posisinya di zona hijau dan harus berakhir melemah.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG resmi menutup hari di zona merah dengan koreksi sebesar 0,56 persen atau memangkas 48,36 poin. Penurunan ini menyeret indeks ke level 8.521.
Tekanan jual yang cukup masif pada beberapa sektor vital menjadi pemberat utama langkah IHSG, meskipun minat transaksi investor terlihat sangat tinggi.
Likuiditas Pasar Melonjak Tinggi
Sorotan utama pada perdagangan hari ini bukan hanya pada penurunan indeks, melainkan pada aktivitas transaksi yang luar biasa ramai.
Sepanjang jam perdagangan berlangsung, lantai bursa mencatatkan total volume saham yang diperdagangkan mencapai angka 57,54 miliar saham.
Aktivitas jual-beli ini menghasilkan nilai transaksi harian yang sangat besar, yakni menembus Rp31,23 triliun.
Angka ini mencerminkan tingginya perputaran uang di pasar modal Indonesia pada hari ini.
Frekuensi perdagangan pun tercatat sangat padat, dengan saham-saham ditransaksikan sebanyak 2,56 juta kali oleh para pelaku pasar.
Meski demikian, tingginya transaksi tidak serta-merta mengangkat kinerja indeks secara keseluruhan.
Statistik pasar memperlihatkan dominasi tekanan jual, di mana sebanyak 364 saham harganya terkoreksi dalam, jauh mengungguli 277 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan harga.
Sementara itu, 170 saham lainnya memilih untuk parkir di tempat alias stagnan tanpa perubahan harga.
Sektor Properti dan Teknologi Jadi Pemberat
Pelemahan IHSG hari ini sangat dipengaruhi oleh rontoknya sejumlah sektor yang memiliki bobot besar.
Sektor properti menjadi yang paling terdampak dengan penurunan tajam sebesar 0,94 persen. Sentimen negatif di sektor ini tampaknya membuat para investor memilih untuk melakukan aksi jual.
Tak hanya properti, sektor teknologi yang kerap menjadi primadona bagi investor muda juga harus rela berada di zona merah dengan penurunan 0,46 persen.
Sektor lain yang turut menyumbang penurunan indeks meliputi sektor bahan baku yang terkikis 0,28 persen, sektor transportasi yang turun tipis 0,19 persen, serta sektor non-siklikal yang juga melemah 0,46 persen.
Anomali Sektor Industri dan Kesehatan
Di tengah merahnya rapor IHSG, terdapat anomali menarik di mana beberapa sektor justru mencatatkan kenaikan signifikan, menjadi penahan agar indeks tidak jatuh lebih dalam. Sektor industri tampil perkasa dengan lonjakan sebesar 3,10 persen.
Kenaikan setinggi ini mengindikasikan adanya akumulasi masif pada saham-saham yang berkaitan dengan manufaktur dan perindustrian.
Selain itu, sektor kesehatan juga unjuk gigi dengan kenaikan 1,50 persen, disusul oleh sektor siklikal yang naik 0,76 persen dan sektor keuangan yang menguat 0,64 persen.
Sektor energi dan infrastruktur juga masih mampu bertahan di zona positif dengan kenaikan masing-masing 0,32 persen dan 0,13 persen.
Deretan Saham Top Gainers dan Losers
Dinamika pasar hari ini juga melahirkan sejumlah saham yang memberikan keuntungan besar (cuan) bagi para pemegangnya.
Dalam daftar top gainers, PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) memimpin lonjakan dengan kenaikan harga sebesar 34,62 persen ke level Rp140 per saham.
Mengekor di posisi kedua adalah emiten transportasi, PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA), yang harganya melesat 34,58 persen menjadi Rp144 per saham.
Sementara itu, sektor perbankan turut menyumbang satu nama di jajaran teratas, yakni PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) yang naik 34,31 persen ke posisi Rp184 per saham.
Kenaikan lebih dari 30 persen pada ketiga saham ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para trader harian.
Sebaliknya, tekanan jual memaksa beberapa saham masuk ke dalam jajaran top losers.
Penurunan terdalam dialami oleh PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) yang anjlok 12,45 persen ke level Rp436.
Disusul oleh PT Megapower Makmur Tbk (MPOW) yang terkoreksi 11,03 persen menjadi Rp121, serta emiten properti PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) yang turun 8,39 persen ke harga Rp12.825 per saham. (*)


Discussion about this post