JAKARTA, BANPOS – Pergerakan agresif saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi sorotan utama para pelaku pasar modal di Jakarta pada perdagangan hari ini.
Emiten pertambangan batu bara yang menjadi favorit para trader ritel maupun institusi ini mencatatkan lonjakan harga yang signifikan, menutup sesi perdagangan Selasa (25/11) dengan kenaikan 8,26 persen ke level Rp236 per saham.
Kenaikan ini tidak hanya didorong oleh sentimen pasar biasa, melainkan diwarnai oleh fenomena transaksi bernilai fantastis yang memancing tanda tanya besar di kalangan investor.
Euforia perdagangan saham BUMI terlihat sangat dominan di lantai bursa.
Data perdagangan mencatat aktivitas yang luar biasa sibuk dengan total volume perdagangan mencapai 13,27 miliar saham di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI).
Antusiasme pasar tercermin dari frekuensi perdagangan yang menembus angka 163.857 kali, menghasilkan nilai transaksi reguler sebesar Rp 3,13 triliun.
Angka ini menempatkan BUMI sebagai salah satu saham dengan likuiditas tertinggi hari ini, menarik minat generasi muda dan investor milenial yang aktif memantau pergerakan saham-saham high volatility.
Namun, sorotan utama bukan hanya pada kenaikan harga di pasar reguler. Sebuah anomali menarik terjadi di balik layar, tepatnya di pasar negosiasi.
Terdapat perpindahan kepemilikan saham dalam jumlah masif yang terkesan senyap namun berdampak besar.
Tercatat sebanyak 7.541.754.500 lembar saham BUMI ditransaksikan di harga Rp220 per saham. Transaksi yang terjadi sebanyak dua kali frekuensi ini memiliki nilai keseluruhan mencapai Rp1,66 triliun.
Harga pelaksanaan di pasar negosiasi tersebut sedikit berada di bawah harga penutupan pasar reguler, yang seringkali mengindikasikan adanya perpindahan tangan antar investor strategis atau institusi besar.
Hingga saat ini, identitas pihak yang melakukan aksi borong maupun jual di pasar negosiasi tersebut belum terungkap ke publik.
Spekulasi pun bermunculan di kalangan pelaku pasar mengenai siapa “paus” yang sedang bermanuver di saham emiten Grup Bakrie dan Salim ini.
Apakah ini merupakan bentuk restrukturisasi portofolio, masuknya investor strategis baru, atau sekadar crossing saham biasa, masih menjadi teka-teki.
Tapi hingga berita ini dipublikasikan, belum ada keterangan resmi terkait transaksi jumbo saham Bumi Resources di pasar nego itu alias masih menjadi misteri.
Di sisi lain, minat beli di pasar reguler juga terlihat sangat tebal. Para investor seolah tidak ingin ketinggalan momentum kenaikan harga.
Mengutip data dari aplikasi Stockbit Sekuritas, terjadi akumulasi beli bersih atau net buy yang sangat mencolok.
Saham BUMI diborong. Berdasarkan data pada aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BUMI membukukan net buy di pasar reguler Rp 523,8 miliar, tertinggi di antara saham-saham net buy lainnya.
Besarnya net buy ini menjadi indikator kuat bahwa keyakinan pasar terhadap prospek jangka pendek BUMI sedang berada di puncaknya.
Arus dana masuk yang deras ini berhasil menyerap tekanan jual dan mendorong harga menembus level psikologis penting.
Dari kacamata analisis teknikal, pergerakan hari ini memberikan sinyal yang cukup positif bagi para chartist.
Analis melihat bahwa BUMI telah berhasil keluar dari fase konsolidasi atau sideways yang mungkin sempat menahan laju harganya beberapa waktu lalu.
Keberhasilan menembus dinding resistensi harga menjadi konfirmasi awal adanya tren penguatan lanjutan.
Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas melihat pergerakan saham BUMI hari ini menarik karena berhasil menembus level resistance-nya pada 230-an.
Jika mampu bertahan di atas level tersebut, maka ada potensi untuk menuju resistance selanjutnya pada 244-262.
Penerawangan teknikal ini memberikan angin segar bagi para trader yang mengincar keuntungan jangka pendek atau capital gain.
Level 244 hingga 262 kini menjadi target harga baru yang dinanti-nanti. Jika momentum pembelian berlanjut dan misteri transaksi negosiasi terkuak sebagai sentimen positif, bukan tidak mungkin target tersebut dapat tercapai dalam waktu dekat.
Bagi investor muda yang mengutamakan data dan momentum, volatilitas BUMI pasca-transaksi jumbo ini menawarkan peluang sekaligus risiko yang perlu dicermati dengan hati-hati. (*)

Discussion about this post