CILEGON, BANPOS – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon menegaskan pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak bagi para guru agar tidak terjerat pinjaman online (pinjol).
Meski secara nasional kasus guru terlibat pinjol cukup tinggi, Kota Cilegon disebut masih aman dari laporan kasus serupa.
Kepala Dindikbud Kota Cilegon, Heni Anita Susila, mengatakan bahwa persoalan pinjol menjadi salah satu isu yang dibahas secara nasional karena tingginya angka keterlibatan tenaga pendidik di Indonesia.
“Di Cilegon hingga saat ini belum ada laporan. Tadi membahas di Indonesia, data OJK ada 42 persen guru di Indonesia yang pinjol,” katanya, Selasa (25/11).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa situasi di Cilegon relatif kondusif.
“Tapi saat ini Cilegon belum ada kasus, kasus-kasus yang lain mungkin ada. Dilaporkan, damai, tidak ada kasus-kasus yang menonjol di Cilegon,” ujarnya.
Heni mengimbau para guru agar mengatur gaya hidup dan kebutuhan secara proporsional demi menghindari jeratan pinjaman daring.
“Jadi jangan besar pasak daripada tiang. Sesuai dengan uang yang ada, kebutuhan,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa tunjangan sertifikasi yang diterima sebagian guru seharusnya dapat membantu memenuhi kebutuhan mendasar.
“Sekarang guru ada juga yang memiliki sertifikasi, tunjangan sertifikat guru itu juga bisa menutupi kebutuhan-kebutuhan. Jangan sampai guru pinjol, karena luar biasa bunganya berlipat-lipat, membebani,” ucapnya.
Heni pun menekankan pentingnya pengendalian gaya hidup.
“Artinya guru harus bisa gaya hidup sesuai dengan pendapatan yang ada, jangan berlebihan, jangan konsumtif,” ungkapnya.
Dindikbud berharap para guru di Cilegon tetap menjaga kesejahteraan finansialnya, agar fokus dalam menjalankan tugas sebagai pendidik tanpa terbebani masalah ekonomi. (*)



Discussion about this post