SERANG, BANPOS – Pemahaman risiko Infeksi Menular Seksual (IMS) kembali ditekankan Universitas Banten Jaya melalui edukasi ‘PRIMA: Pahami Risiko IMS, Masa Depan Aman’ pada peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-61. Kegiatan berlangsung di Teras Meeting Room UNBAJA, Kamis (20/11/2025) kemarin.
Selanjutnya, acara dihadiri pimpinan kampus, mulai Ketua Program Studi Administrasi Kesehatan Linardita Ferial, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Anis Masyruroh, hingga Kabag Kemahasiswaan M. Yusuf Romdoni. “Partisipasi ini menunjukkan dukungan penuh terhadap edukasi kesehatan,” katanya panitia penyelenggara .
Kaprodi Administrasi Kesehatan Linardita Ferial menegaskan pentingnya literasi Infeksi Menular Seksual bagi mahasiswa sebagai generasi muda. Ia menambahkan, bahwa pemahaman preventif harus dibangun sejak awal studi. “Mahasiswa perlu memahami risiko dan menjaga diri,” ucapnya.
Dekan FEB Anis Masyruroh menilai peningkatan literasi kesehatan khususnya tentang Infeksi Menular Seksualmenjadi fondasi pembentukan generasi produktif. Ia menekankan relevansi tema PRIMA dengan tantangan kesehatan saat ini. “Pencegahan selalu menjadi langkah utama,” tegasnya.
Berikutnya, Kabag Kemahasiswaan M. Yusuf Romdoni mengingatkan mahasiswa agar menerapkan perilaku hidup sehat dalam keseharian. Ia berharap edukasi IMS tidak berhenti pada pengetahuan. “Mahasiswa harus ikut menjaga lingkungan sehat,” ujarnya.
Diketahui, Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yaitu Nana Sukana dari Puskesmas Kota Serang dan Anita Fahrani dari Ruang Konseling. Nana memaparkan kondisi terkini HIV dan IMS, mekanisme penularan, serta urgensi deteksi dini. “Deteksi dini meningkatkan peluang perlindungan,” jelasnya.
Sementara itu, Anita Fahrani memberi perspektif psikologis mengenai faktor perilaku berisiko dan pentingnya edukasi seksual sehat. Ia menekankan bahwa kesadaran diri berperan penting dalam pengambilan keputusan aman. “Kesadaran diri menentukan langkah mahasiswa,” tuturnya.
Pada akhir kegiatan, sesi diskusi berlangsung interaktif dengan beragam pertanyaan mahasiswa terkait risiko IMS dan pencegahannya. HIMAKES menilai antusiasme tersebut menunjukkan tingginya perhatian mahasiswa terhadap isu kesehatan reproduksi. “Kami berharap pemahaman ini terus diterapkan,” kata pengurus HIMAKES. (*)


Discussion about this post