PANDEGLANG, BANPOS – Bagi generasi milenial dan Gen Z yang tinggal di kota-kota besar, Kabupaten Pandeglang di Provinsi Banten mungkin lebih dikenal sebagai destinasi “healing” akhir pekan. Deretan pantai yang memukau hingga Taman Nasional Ujung Kulon menjadi magnet utama. Namun, di balik pesona alamnya yang instagramable, wilayah ini menyimpan narasi sejarah yang jauh lebih tua dan mendalam dibandingkan banyak kota lain di Pulau Jawa.
Pandeglang bukan sekadar daerah agraris; ini adalah saksi bisu perjalanan peradaban Nusantara sejak abad ke-2 Masehi.
Jika menelusuri jejak masa lalu, akar sejarah Pandeglang ternyata menancap kuat hingga ke masa Kerajaan Salakanagara.
Berdasarkan catatan sejarah, entitas politik ini diyakini sebagai kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri di pesisir barat Pulau Jawa. Didirikan oleh tokoh bernama Aki Tirem dan kemudian diperintah oleh Dewawarman, Salakanagara menjadi gerbang awal interaksi internasional di tanah Banten. Posisi geografisnya yang strategis di jalur maritim membuat wilayah ini menjadi pusat persinggahan pedagang dari India dan Tiongkok, yang secara tidak langsung membentuk wajah kebudayaan masyarakat setempat yang terbuka namun teguh memegang prinsip.
Pengaruh ini terus berlanjut ketika estafet kekuasaan beralih. Pada abad ke-5, Pandeglang berada di bawah hegemoni Kerajaan Tarumanagara yang dipimpin oleh Raja Purnawarman.
Jejak peradaban pada masa ini tidak hanya berkutat pada kekuasaan politik, tetapi juga pembangunan infrastruktur dasar. Prasasti-prasasti yang ditemukan di Jawa Barat mencatat adanya aktivitas sosial dan keagamaan yang terstruktur, termasuk pengembangan sistem irigasi dan pertanian yang menjadi cikal bakal identitas agraris Pandeglang hingga hari ini.
Memasuki era Kerajaan Sunda, Pandeglang semakin mengukuhkan posisinya sebagai wilayah vital, baik dari sisi ekonomi maupun spiritual. Di sinilah letak Gunung Pulosari, sebuah ikon geografis yang memiliki makna transenden bagi masyarakat Sunda kuno. Gunung yang menjulang gagah ini bukan hanya objek pendakian bagi pecinta alam masa kini, melainkan diyakini sebagai gunung sakral dengan kekuatan spiritual yang kuat.
Pada masanya, Pulosari menjadi pusat kegiatan ritual dan pertapaan, sebuah tradisi yang menambah lapisan mistis dan kekayaan budaya lokal yang masih terasa atmosfernya hingga sekarang.
Transformasi besar terjadi sekitar abad ke-16 ketika pengaruh Islam mulai masuk dan Kesultanan Banten memegang kendali.
Pandeglang tidak kehilangan identitas lamanya, melainkan meleburkan nilai-nilai baru. Pesantren-pesantren mulai tumbuh subur, dan para ulama mengambil peran sentral dalam masyarakat. Wilayah yang tadinya kental dengan nuansa Hindu-Buddha bertransformasi menjadi basis Islam yang kuat. Lokasi Pandeglang yang dikelilingi pegunungan dan hutan lebat kemudian dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan alami Kesultanan Banten dalam menghadapi ancaman eksternal.
Ketangguhan masyarakat Pandeglang diuji saat kolonialisme Eropa, khususnya VOC, mulai mencengkeram jalur perdagangan di barat Jawa pada abad ke-17. Potensi alam Pandeglang yang melimpah, mulai dari lada hingga kopi, menjadi incaran eksploitasi melalui sistem tanam paksa pada abad ke-19. Namun, sejarah mencatat bahwa tanah ini tidak pernah benar-benar tunduk. Perlawanan sporadis terus meletup, dipimpin oleh para ulama dan tokoh pesantren yang menjadikan agama sebagai bahan bakar semangat patriotisme dan anti-kolonialisme.
Semangat kebangsaan ini terus terpelihara hingga era pergerakan nasional. Pesantren di Pandeglang berevolusi fungsi, tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga kawah candradimuka bagi semangat kemerdekaan. Hingga akhirnya pasca proklamasi 1945, Pandeglang berintegrasi penuh ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kemudian menjadi bagian dari Provinsi Banten yang dibentuk pada tahun 2000.
Kini, di era modern, Pandeglang berdiri dengan dua kaki yang kokoh: satu kaki berpijak pada warisan leluhur, dan kaki lainnya melangkah menuju kemajuan ekonomi. Sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung dengan komoditas padi, jagung, kelapa, dan kakao. Sementara di pesisir, kekayaan laut seperti ikan dan rumput laut menopang kehidupan nelayan.
Namun, sektor pariwisata-lah yang kini menjadi wajah baru Pandeglang di mata dunia. Keberadaan badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, keindahan Pantai Tanjung Lesung, eksotisme Pantai Carita, hingga aura magis Gunung Pulosari menawarkan pengalaman lengkap bagi wisatawan.
Di tengah gempuran modernisasi, identitas sebagai kota santri tidak luntur. Pesantren-pesantren besar terus melahirkan generasi berilmu yang menjaga keseimbangan antara tradisi lokal dan tuntutan zaman, menegaskan bahwa Pandeglang adalah sintesis sempurna antara sejarah panjang dan potensi masa depan. (“)











Discussion about this post