Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Menapak Perjalanan Cilegon: Tanah Rawa yang Kini Jadi Kota Baja

Saksi Bisu Geger 1888

by Lukman Hapidin
November 22, 2025
in All-Bantani
Menapak Perjalanan Cilegon: Tanah Rawa yang Kini Jadi Kota Baja

CILEGON, BANPOS – Bagi generasi milenial dan Gen Z yang melintas di jalanan utama Provinsi Banten, Kota Cilegon mungkin hanya tampak sebagai hutan beton yang dipenuhi cerobong asap dan hiruk-pikuk kendaraan berat. Identitasnya begitu melekat sebagai “Kota Baja” lantaran keberadaan PT Krakatau Steel, raksasa baja terbesar di Asia Tenggara yang menjadi denyut nadi ekonomi wilayah ini.

 

Baca Juga

Lulu Jamaludin Raih Ekbispar Award 2026, Dinobatkan Jadi Jurnalis Peduli Sosial Kemasyarakatan

Maret 7, 2026

Gubernur Tegaskan Randis Dilarang Dipakai untuk Mudik

Maret 7, 2026

Warga Serang Bayar Pajak Diganjar Hampers Lebaran dari Samsat Kota Serang

Maret 7, 2026

Intervensi Kerentanan Pangan, Pemprov Banten Salurkan Bantuan Beras dan Ayam untuk Ribuan Keluarga

Maret 6, 2026

Tak hanya itu, julukan unik seperti “Kota Lurus” pun kerap disematkan oleh masyarakat urban maupun pelancong. Julukan ini muncul bukan tanpa alasan, melainkan karena struktur jalan protokolnya yang membentang lurus tanpa banyak kelokan tajam dari ujung ke ujung kota, memberikan karakteristik visual yang berbeda dibanding kota-kota lain di Indonesia.

Namun, di balik deru mesin pabrik dan julukan-julukan modern tersebut, Cilegon menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih kompleks. Jauh sebelum dikenal sebagai kota industri yang sibuk, wilayah ini telah mengalami metamorfosis luar biasa, bermula dari hamparan tanah rawa hingga menjadi panggung perlawanan rakyat yang mengguncang pemerintah kolonial.

Jalur Strategis Sejak Era Kesultanan

Menilik ke belakang pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683), wajah Cilegon sangat berbeda dengan apa yang kita saksikan hari ini. Kala itu, wilayah ini masih berupa kampung kecil yang didominasi oleh rawa-rawa liar dan minim penghuni.

Meski kondisi alamnya menantang, Cilegon memiliki satu keunggulan mutlak: posisi geografis. Letaknya yang berada di ujung barat Pulau Jawa menjadikannya jalur vital penghubung antara Jawa dan Sumatera.

Potensi strategis inilah yang kemudian memicu migrasi penduduk. Perlahan namun pasti, para pendatang mulai menetap, mengubah lanskap rawa menjadi permukiman yang heterogen dan dinamis. Transformasi demografi ini menjadi fondasi awal bagi Cilegon untuk tumbuh menjadi wilayah yang diperhitungkan dalam peta ekonomi dan politik nusantara.

Geger Cilegon 1888: Simbol Perlawanan

Identitas Cilegon tidak hanya dibentuk oleh perdagangan, tetapi juga oleh darah dan perjuangan. Ketika pemerintah kolonial Hindia-Belanda menjadikan Cilegon sebagai distrik di bawah Karesidenan Banten pada tahun 1816, tekanan dan penindasan terhadap rakyat semakin menjadi-jadi. Kondisi ini memicu kemarahan yang terakumulasi selama puluhan tahun.

Puncaknya terjadi pada 9 Juli 1888, sebuah peristiwa yang dikenal dalam sejarah nasional sebagai Geger Cilegon. Di bawah komando ulama kharismatik KH. Wasyid, rakyat Cilegon bangkit melawan ketidakadilan kolonial. Peristiwa ini bukan sekadar pemberontakan lokal, melainkan bukti ketangguhan mentalitas masyarakat Banten dalam mempertahankan martabatnya.

Bagi anak muda Cilegon masa kini, jejak heroisme tersebut diabadikan melalui Monumen Patung Emas KH. Wasyid. Berdiri gagah di pusat kota, tepatnya di perempatan lampu merah dekat pusat perbelanjaan Transmart Cilegon, monumen ini menjadi pengingat bahwa kota ini dibangun di atas pondasi keberanian.

Pusat Intelektual Islam dan Pahlawan Nasional

Selain kekuatan fisik, Cilegon juga merupakan kawah candradimuka bagi intelektual Islam. Sejarah mencatat, pada tahun 1924, berdiri Perguruan Al-Khairiyah. Institusi pendidikan ini menjadi cikal bakal lahirnya tokoh-tokoh besar, salah satunya KH. Syam’un. Kontribusi KH. Syam’un bagi negara begitu besar hingga Presiden Joko Widodo menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2018.

Di sisi lain, peran KH Abdul Latif yang mendirikan Madrasah Al-Jawahiratun Naqiyah di Cibeber juga tak bisa diabaikan. Kedua tokoh ini menegaskan bahwa Cilegon memiliki tradisi literasi dan pendidikan agama yang kuat, mencetak sumber daya manusia yang berkontribusi pada level lokal maupun nasional jauh sebelum era industri dimulai.

Menuju Era Industrialisasi dan Otonomi

Wajah Cilegon kembali berubah drastis memasuki paruh kedua abad ke-20. Tahun 1962 menjadi titik balik dengan didirikannya Pabrik Baja Trikora. Proyek strategis ini kemudian berevolusi menjadi PT Krakatau Steel pada tahun 1970. Kehadiran industri baja ini secara fundamental mengubah struktur sosial-ekonomi Cilegon dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, perdagangan, dan jasa.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat menuntut pengelolaan pemerintahan yang lebih mandiri. Sempat berstatus sebagai Kota Administratif di bawah Kabupaten Serang berdasarkan PP Nomor 40 Tahun 1986, desakan untuk otonomi semakin kuat seiring dengan laju investasi yang tak terbendung.

Aspirasi tersebut akhirnya terwujud melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1999. Pada tanggal 27 April 1999, status Cilegon resmi ditingkatkan menjadi kotamadya, terpisah dari Kabupaten Serang. Tubagus Aat Syafa’at tercatat sebagai Wali Kota pertama yang memimpin era baru ini, menandai lahirnya Cilegon sebagai entitas kota mandiri yang modern namun tetap berpijak pada sejarah panjangnya. (*)

ShareTweetSend

Berita Terkait

PERISTIWA

Lulu Jamaludin Raih Ekbispar Award 2026, Dinobatkan Jadi Jurnalis Peduli Sosial Kemasyarakatan

Maret 7, 2026
PEMERINTAHAN

Gubernur Tegaskan Randis Dilarang Dipakai untuk Mudik

Maret 7, 2026
PEMERINTAHAN

Warga Serang Bayar Pajak Diganjar Hampers Lebaran dari Samsat Kota Serang

Maret 7, 2026
PEMERINTAHAN

Intervensi Kerentanan Pangan, Pemprov Banten Salurkan Bantuan Beras dan Ayam untuk Ribuan Keluarga

Maret 6, 2026
PEMERINTAHAN

Disnakertrans Pandeglang Bakal Tindaklanjuti Aduan Pekerja Gudang PT Gudang Wings Labuan

Maret 5, 2026
EKONOMI

Muji Rohman Optimis Industri Sawah Luhur Pangkas Pengangguran

Maret 5, 2026
Next Post
Cinta, Iman, dan Perlawanan: Epos Pasangan Pejuang Banten dalam Geger Cilegon

Cinta, Iman, dan Perlawanan: Epos Pasangan Pejuang Banten dalam Geger Cilegon

Discussion about this post

Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh