Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Cinta, Iman, dan Perlawanan: Epos Pasangan Pejuang Banten dalam Geger Cilegon

Haji Iskak dan Nyai Kamsidah

by Lukman Hapidin
November 22, 2025
in All-Bantani, PENDIDIKAN
Cinta, Iman, dan Perlawanan: Epos Pasangan Pejuang Banten dalam Geger Cilegon

KITLV LEIDEN (ISTIMEWA)

CILEGON, BANPOS- Sejarah perlawanan rakyat Indonesia melawan kolonialisme seringkali didominasi oleh nama-nama besar kaum adam. Namun, di tanah jawara Banten, tersimpan sebuah epik perjuangan suami istri yang bahu-membahu mengangkat senjata demi kehormatan agama dan tanah air. Di balik peristiwa berdarah yang dikenal sebagai “Geger Cilegon” pada tahun 1888, terdapat sosok Haji Iskak dan istrinya, Haji Kamsidah.

 

Baca Juga

Lulu Jamaludin Raih Ekbispar Award 2026, Dinobatkan Jadi Jurnalis Peduli Sosial Kemasyarakatan

Maret 7, 2026

Gubernur Tegaskan Randis Dilarang Dipakai untuk Mudik

Maret 7, 2026

Warga Serang Bayar Pajak Diganjar Hampers Lebaran dari Samsat Kota Serang

Maret 7, 2026

Intervensi Kerentanan Pangan, Pemprov Banten Salurkan Bantuan Beras dan Ayam untuk Ribuan Keluarga

Maret 6, 2026

Kisah mereka bukan sekadar romansa, melainkan manifesto keberanian melawan penindasan yang relevan untuk direfleksikan oleh generasi muda hari ini.

Haji Iskak bukanlah nama sembarangan dalam peta sejarah perlawanan Banten. Pria asal Kampung Saneja, Cilegon ini memiliki reputasi yang membuat gentar pasukan kolonial hingga ia dijuluki Macan Saneja.

Julukan ini bukan sekadar kiasan, melainkan representasi dari keberaniannya yang menerkam penjajah tanpa ragu di medan laga. Sebagai pengikut setia dan orang kepercayaan dari tokoh sentral Haji Wasid dan Tubagus Ismail, Haji Iskak memegang peranan vital dalam strategi pertempuran petani Banten kala itu.

Namun, narasi kepahlawanan ini menjadi lebih hidup dengan kehadiran sang istri, Hajjah Kamsidah. Dalam banyak catatan sejarah, peran perempuan seringkali terpinggirkan di sektor logistik atau medis. Akan tetapi, Kamsidah mematahkan stereotip tersebut.

Ia adalah representasi perempuan tangguh Banten yang turun langsung ke garis depan. Pasangan ini membuktikan bahwa jihad melawan kolonialisme adalah panggilan bagi siapa saja yang memiliki jiwa merdeka, tanpa memandang gender.

Rumah tangga mereka di Kampung Saneja bertransformasi menjadi jantung pergerakan. Bukan sekadar tempat berteduh, kediaman Haji Iskak dan Kamsidah berfungsi sebagai markas rahasia atau command center bagi para pejuang.

Berdasarkan catatan sejarawan Sartono Kartodirdjo, rumah ini menjadi saksi bisu pertemuan-pertemuan krusial para pimpinan pemberontakan.

Puncaknya terjadi pada 7 Juli 1888, di mana rapat terakhir digelar di rumah Haji Iskak untuk mematangkan rencana penyerangan yang dijadwalkan meletus pada 9 Juli 1888.

Ketika hari penentuan tiba, spirit perlawanan itu meledak. Ribuan pejuang dengan pakaian serba putih membanjiri Cilegon. Suara takbir dan lantunan kasidah menggema, menciptakan atmosfer magis yang membakar semangat sekaligus menebar teror psikologis bagi pemerintah kolonial. Pasukan Haji Iskak bergerak taktis dari Saneja, bergabung dengan pasukan Tubagus Ismail, menciptakan gelombang serangan yang nyaris tak terbendung bak air bah.

Di tengah kekacauan tersebut, Haji Kamsidah mencatatkan sejarahnya sendiri. Keberaniannya terekam dalam insiden duel melawan Nyonya Gubbels, istri seorang pejabat kolonial. Peristiwa yang berakhir dengan tewasnya Nyonya Gubbels di tangan Kamsidah dan dua pejuang lainnya ini menunjukkan betapa tingginya tensi konflik saat itu.

Kamsidah tidak lari bersembunyi; ia berdiri tegak menghadapi musuh yang dianggap sebagai representasi penindasan di tanah kelahirannya.

Pasca meletusnya pemberontakan, pemerintah Hindia Belanda merespons dengan brutal. Operasi pembersihan dilakukan, dan Kampung Saneja menjadi target utama. Belanda yang murka melakukan penggeledahan masif, interogasi paksa, hingga pembakaran kampung bagi mereka yang dicurigai melindungi pemberontak. Dalam situasi genting ini, kepala Haji Iskak dihargai sangat mahal.

Belanda menyadari betapa berbahayanya pengaruh sang Macan Saneja. Mereka mengadakan sayembara dengan hadiah menggiurkan sebesar 500 gulden, yang kemudian dinaikkan menjadi 1.000 gulden jumlah yang sangat fantastis pada masa itu bagi siapa saja yang bisa menangkap Haji Iskak, baik dalam keadaan hidup maupun mati. Namun, solidaritas rakyat Banten terbukti tak bisa dibeli. Tidak ada satu pun warga yang berkhianat membocorkan persembunyian sang pejuang, sebuah bukti betapa dicintainya sosok Haji Iskak oleh masyarakatnya.

Akhir perjalanan sang macan terjadi pada 17 Juli 1888 di daerah Benggala. Setelah berminggu-minggu menjadi buronan nomor wahid, Haji Iskak terpojok namun menolak menyerah.

Dalam bentrokan senjata yang tidak seimbang melawan pasukan Belanda, ia bertempur seorang diri hingga titik darah penghabisan. Peluru menembus tubuhnya, mengakhiri napas sang pejuang.

Ketika jenazahnya diperiksa oleh Penghulu Serang, ditemukan sebuah tasbih di saku bajunya. Benda sederhana ini menjadi simbol yang kuat bahwa hingga detik terakhirnya, Haji Iskak berjuang dengan landasan iman yang kokoh. Ia gugur sebagai syuhada, memilih mati terhormat daripada hidup di bawah telunjuk penjajah.

Sementara itu, sang istri, Haji Kamsidah, harus menanggung konsekuensi berat dengan hukuman penjara selama 20 tahun, sebuah harga mahal yang harus dibayar demi mempertahankan martabat bangsa.

Kini, jejak fisik perjuangan mereka mungkin hanya tersisa pada sebuah masjid tua di Kampung Saneja. Namun, esensi dari kisah Haji Iskak dan Haji Kamsidah melampaui bangunan fisik tersebut. Mereka adalah monumen ingatan bahwa Cilegon pernah melahirkan pasangan pejuang yang tak gentar melawan imperium global demi kemerdekaan.(*)

ShareTweetSend

Berita Terkait

PERISTIWA

Lulu Jamaludin Raih Ekbispar Award 2026, Dinobatkan Jadi Jurnalis Peduli Sosial Kemasyarakatan

Maret 7, 2026
PEMERINTAHAN

Gubernur Tegaskan Randis Dilarang Dipakai untuk Mudik

Maret 7, 2026
PEMERINTAHAN

Warga Serang Bayar Pajak Diganjar Hampers Lebaran dari Samsat Kota Serang

Maret 7, 2026
PEMERINTAHAN

Intervensi Kerentanan Pangan, Pemprov Banten Salurkan Bantuan Beras dan Ayam untuk Ribuan Keluarga

Maret 6, 2026
PEMERINTAHAN

Disnakertrans Pandeglang Bakal Tindaklanjuti Aduan Pekerja Gudang PT Gudang Wings Labuan

Maret 5, 2026
EKONOMI

Muji Rohman Optimis Industri Sawah Luhur Pangkas Pengangguran

Maret 5, 2026
Next Post
DKKC Hadiri BWCF 2025 di Cirebon

DKKC Hadiri BWCF 2025 di Cirebon

Discussion about this post

Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh